Laskar berjalan menelusuri lorong sekolah, setelah mendengar pengumuman dari Bu Rum tadi, dia tidak buru-buru langsung ke lapangan. Dia malah pergi ke rooftop dan memilih merokok disana. Setelah selesai merokok, dia pun pergi ke lapangan sekolah seperti yang dia lakukan sekarang, yaitu berjalan di lorong sekolah menuju ke lapangan. Sesampainya disana, dia melihat banyak orang berdansa bersama pasangannya masing-masing diiringi irama musik yang merdu.
Matanya mengitari semua orang yang ada di lapangan, sampai ia berhenti di salah satu pasangan yang sedang berdansa dengan sangat mesra. Seketika hatinya merasa sakit melihatnya, pasangan yang dimaksud adalah Aghata dan Rafka.
Tangannya mengepal kuat kala melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. "Seharusnya yang ada disana itu gue!" batinnya.
Saat sedang fokus menatap tajam kearah Aghata dan Rafka, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Laskar sampai membuat sang empu terkejut. Lalu dia pun menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menepuk pundaknya itu.
"Damar, Stevi."
Stevi tersenyum lebar seraya bersedekap dada, "Ternyata lo disini."
"Kalian berdua darimana aja? Kenapa hilang begitu saja?" tanya Laskar dengan wajah penasaran.
Stevi dan Damar saling pandang. Lalu mereka menjawab secara bersamaan.
"Panjang ceritanya."
"Pendekkan."
Seketika Laskar mendapatkan tatapan tajam dari mereka berdua. Sedangkan sang empu yang ditatap langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum kikuk.
"Btw acaranya udah dimulai ya?" tanya Stevi seraya melihat keseliling lapangan.
"Hm."
"Kenapa muka lo masam gitu?" tanya Damar saat melihat wajah Laskar yang terlihat kesal dan sedih.
"Tuh.." Laskar menunjukkan jarinya kearah Aghata dan Rafka yang sedang berdansa sangat mesra.
Stevi mengikuti arah yang ditunjuk oleh Laskar, saat melihat pemandangan itu seketika hatinya serasa dibakar. Ia cemburu melihat kemesraan Rafka dan Aghata, bahkan kedua tangannya tanpa disadari mengepal dengan sangat kuat. Sehingga membuat Damar menatapnya heran.
"Mereka udah pacaran?" Stevi bertanya dengan nada tajam, matanya menatap fokus ke arah Aghata dan Rafka tanpa ekspresi. Terlihat jelas dari wajahnya kalau dia terlihat marah.
Laskar menatap kearah Stevi seraya bertanya, "Siapa? Mereka?"
"Hm."
"Kayaknya, keliatan dari kedekatan mereka yang lumayan semakin mesra."
Kepalan Stevi semakin menguat, dia benar-benar tidak bisa menahannya. Lalu tanpa banyak bicara dia berjalan maju, namun Laskar segera mencegahnya dengan menarik pergelangan tangan Stevi agar tidak pergi menghampiri Aghata dan Rafka.
"Jangan kesana!"
Stevi memberontak, dia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari Laskar. "Lepas! Lepasin tangan gue Laskar! Gue harus samperin mereka berdua dan pisahin mereka!"
"Jangan gila! Percuma lo pisahin mereka, yang ada nanti lo yang malu!" peringat Laskar dengan tegas.
"Tapi, Kar.."
"Gak usah keras kepala! Ada hal penting yang harus gue omongin ke kalian berdua." ungkap Laskar dengan wajah serius. Sampai membuat Damar dan Stevi menatapnya dengan wajah penasaran.
"Hal penting apa?" tanya Damar penasaran.
"Gak disini, tapi di tempat lain." kata Laskar lalu pergi begitu saja setelah melepaskan genggamannya pada pergelangan Stevi, meninggalkan Damar dan Stevi yang menatapnya bingung bercampur penasaran. Lalu mereka berdua pun mengikuti Laskar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Beside Angel (END)
FanfictionTidak semua orang sifatnya akan sesuai dengan wajahnya yang terlihat baik, bisa jadi sebaliknya. Begitulah kisah dari salah satu remaja yang bernama Agatha, dia menyukai seorang pria di sekolah barunya yang membuatnya nekad untuk mengejarnya lebih d...
