47

365 40 8
                                        

Karel, Radit, Thalia dan Nara kini sudah sampai di markas The Halcón. Begitupun dengan Stevi dan Damar yang kini masih terpengaruh oleh obat tidur. Mereka berempat pun langsung membawa Stevi dan Damar kedalam markas.

"Ini mau ditaro mana?" tanya Thalia.

"Di kamar aja," jawab Karel.

Lalu mereka berempat pun membawa Stevi dan Damar kedalam kamar yang telah disediakan untuk anggota The Halcón istirahat. Setelah itu, mereka keluar menuju ruang depan untuk berdiskusi.

"Terus dua orang itu mau diapain?" tanya Nara seraya duduk di kursi.

"Gak tau, kita tanya aja ke Rafka," sahut Karel sambil merogoh ponselnya didalam saku dan langsung menelpon Rafka.

"Halo." sapa Rafka diseberang sana saat ponselnya telah tersambung.

"Halo, Raf. Kita berempat udah bawa Stevi dan Damar ke markas," usul Karel. "Ini mau diapain mereka?" lanjutnya bertanya.

"Tunggu aja dulu, habis ini gue sama Aghata otw ke sana." balas Rafka dan langsung mematikan sambungannya sepihak.

"Gimana?" tanya Radit.

"Rafka sama Aghata mau kesini katanya, jadi kita tunggu mereka aja." kata Karel seraya duduk disebelah Thalia.

Radit dan yang lainnya pun mengangguk paham.

"Oh, iya. Katanya lo mau cerita Rel tentang geng The Halcón." ucap Nara setelah mengingat janji Karel pas di mobil.

Radit melihat Karel dengan wajah khawatir, dia khawatir Rafka bakalan marah saat ada yang mengetahui geng The Halcón. Apalagi ini tanpa pengetahuannya si Rafka. Sedangkan Karel yang melihat wajah khawatir Radit pun langsung tersenyum manis, dia berkata lewat matanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Melihat Karel yang hanya diam, Nara menggeram kesal. "Woy, Rel! Gimana?"

Radit yang kaget dengan suara cempreng Nara pun langsung melototkan matanya terhadap Nara. Sedangkan orang yang dimaksud hanya acuh, dia fokus menatap Karel untuk menunggu penjelasannya. Lain dengan mereka bertiga, Thalia hanya diam sambil mengamati ketiganya.

Dilain tempat, Aghata dan Rafka sedang bersiap-siap untuk pergi ke markas. Karena mendapatkan telpon dari Karel yang berhubungan dengan Stevi dan Damar. Jadi, dia harus segera ke markas untuk mengurus mereka berdua.

"Ta, kita harus pergi ke markas sekarang!"

Aghata menatap bingung, "Markas? Markas siapa? Terus mau ngapain?"

Rafka tersenyum manis, "Markas aku, masa kamu udah lupa? Kamu kan pernah kesana. Terus kan kita harus ngurusin si dua setan yang mau culik kamu tadi," jelasnya dengan lembut.

"Owlh, sekarang banget?"

"Iya, sayang."

Wajah Aghata seketika merah kala mendengar ucapan Rafka yang memanggilnya sayang.

"A-apaan sih." ucap Aghata tersipu malu.

"Ciee.. salting!" goda Rafka seraya mencolek hidung Aghata.

"Enggak! Aku gak salting!" elak Aghata seraya mengalihkan tatapannya kearah lain.

Rafka hanya meresponnya dengan senyuman manis, "Lucu banget sih pacar aku kalau lagi salting." ucapnya seraya menatap dalam wajah salting Aghata.

"Iihh! Udah, ayok kita ke markas! Nanti mereka marah lagi karena nunggu kita lama banget." ucap Aghata sambil menarik tangan Rafka menjauh dari pantai tersebut.

"Gue kenapa sih? Kenapa gue lemah banget? Cuman dipanggil sayang sama Rafka aja udah merah merona ini pipi. Aneh banget lo Aghata!!" lanjutnya dalam hati.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang