68

243 19 3
                                        

"DOKTER! DOKTER! TOLONGIN PACARA SAYA, DOK!"

Teriakan Rafka memenuhi rumah sakit, sehingga membuat semua orang menatapnya.

Tak lama kemudian seorang suster menghampiri mereka, "Kenapa ini mas?"

"Dia kena tusukan, sus. Tolongin pacar saya, cepat sus!" jawab Rafka tidak sabaran dengan air mata yang terus menetes.

"Baik, mas. Tunggu sebentar, ya!"

Lalu suster bersama rekannya yang lain datang sambil membawa sebuah ranjang. Rafka pun meletakkan tubuh mungil Aghata di ranjang tersebut, lalu dia memegang erat tangan Aghata yang sudah tidak sadarkan diri.

"Aghata, sayang. Kamu harus kuat ya! Jangan tinggalin aku." lirih Rafka dengan air mata yang tidak berhenti menetes.

Sedangkan Thalia dan Nara juga ikut menangis melihat keadaan Aghata. Nara memeluk erat tubuh Thalia yang sejak tadi tidak bisa berhenti menangis.

"Ra, Aghata Ra." ucap Thalia sesegukan.

"Iya, Thal. Aghata pasti cepat sadar kok, dia orangnya kuat." balas Nara menenangkan Thalia.

Sesampainya diruangan UGD, suster tersebut menyuruh Rafka dan yang lainnya untuk menunggu di luar.

"Mas, mohon tunggu diluar ya! Kami akan melakukan sebaik mungkin." ucap Suster tersebut dengan ramah.

"Tolongin pacar saya, sus." mohon Rafka dengan matanya yang memerah.

"Baik, mas"

Tak lama kemudian dokter pun datang hendak masuk kedalam ruangan UGD. Namun, tangannya dicegat oleh Rafka yang memohon-mohon padanya.

"Dok, tolongin pacar saya ya." mohon Rafka yang langsung diangguki mantap oleh dokter tersebut.

Lalu dokter dan suster pun masuk kedalam ruangan UGD. Rafka dan yang lainnya menunggu diluar dengan perasaan gelisah.

"Aghata, plis bertahan sayang!" batin Rafka dengan air matanya yang tak berhenti menetes.

Tak lama dari itu, dokter keluar dari ruangan UGD. Semuanya langsung mendekat kearah dokter.

"Dok, gimana keadaan pacar saya?" tanya Rafka tidak sabar.

"Pasien mengalami kekurangan darah, tusukan tersebut sudah membuat pasien kehilangan banyak darah. Saya membutuhkan donor darah agar keadaan pasien membaik," jelas dokter tersebut.

"Golongan darahnya apa dok?" tanya Thalia.

"Golongan darahnya O."

"Ambil darah saya saja dok, golongan darah saya juga O." tanpa pikir panjang Thalia langsung menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya ke Aghata.

Semuanya terkejut dengan pernyataan Thalia, "Thal, lo serius?" tanya Nara dengan ekspresi khawatir.

"Gue serius, Ra. Yang penting adik gue tetap hidup." balas Thalia mantap.

"Yaudah, silahkan ikut dengan saya untuk mengecek apakah darah anda cocok dengan pasien." ucap dokter lalu berjalan meninggalkan ruangan UGD.

"Gue temenin ya, Thal." tawar Nara sebelum Thalia berjalan menjauh.

"Gak usah, Ra. Lo tunggu disini aja!"

Lalu Thalia pun berjalan meninggalkan mereka bertiga. Nara merasa sedih, air matanya kembali menetes. Dia berharap kedua sahabatnya akan baik-baik aja.

Karel yang melihat keadaan Nara pun langsung memeluknya tanpa meminta izin pada Nara. Nara kaget, namun dia tidak bisa menolak karena sekarang dia lagi membutuhkan sandaran.

Evil Beside Angel (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang