Thalia berjalan menghampiri Nara yang sedang bercanda ria dengan Karel dan juga Radit.
"Ayo, Ra kita pulang." ajak Thalia to the point saat sudah berdiri didepan mereka.
"Udah selesai ngobrolnya?" tanya Nara dengan nada kesal.
"Udah."
"Thal, Aghata mana?" tanya Rafka yang tidak melihat sosok pacarnya.
"Dibelakang, paling habis ini juga sampai."
Tak lama kemudian Aghata muncul, dia berjalan menghampiri teman-temannya yang terlihat sedang menunggunya.
"Rafka, kamu dari tadi nunggunya?" tanya Aghata dengan nada lembut.
"Iya, sayang." Rafka tersenyum lebar setelah melihat sosok pacarnya yang sangat ia rindukan.
Melihat adegan mesra itu membuat Nara dan Radit mual. Mereka sudah muak melihat kemesraan yang sering terjadi di kehidupannya yang jomblo ini.
"Eneg gue Raf." ungkapnya dengan ekspresi muak. Sedangkan Rafka hanya mengacuhkannya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Rafka seraya berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Aghata dan meraih tangannya untuk digenggam.
Sebelum mereka berdua pergi, Thalia berbicara kepada Aghata. "Nanti gue bakal ke rumah lo!" bisiknya yang hanya bisa didengar oleh Aghata.
Aghata menatap lurus tanpa berkedip, sampai genggaman tangan Rafka menyadarkannya. Lalu dia pun berjalan mengikuti langkah Rafka, meninggalkan teman-temannya yang masih berdiam diri sambil melihat kearahnya dengan Rafka.
"Tuan bucin Rafka." ucap Radit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kebucinan Rafka yang baru pertama kali dia lihat.
"Ayo, Ra kita pulang!" ajak Thalia saat Rafka dan Aghata sudah tidak terlihat.
"Ayo, Thal."
Baru saja mereka berdua mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba Karel menggenggam pergelangan tangan Nara. Sehingga membuat Nara dan Thalia terpaksa menghentikan langkahnya.
Nara menatap Karel kala pergelangan tangannya dicekal oleh Karel. "Ada apa Rel?" tanyanya dengan wajah polos.
Karel tersenyum lebar, lalu dia menundukkan sedikit kepalanya sampai sejajar dengan wajah imut Nara. Dia menatap terlebih dahulu mata kucing Nara sambil tersenyum lebar sebelum membisikkan sesuatu ditelinga Nara. Sedangkan Nara yang diperlakukan seperti itu, tiba-tiba saja langsung ngefreeze dan juga deg-degan.
"Hati-hati dijalan! Gue gak mau wajah imut lo lecet sedikit pun." bisikan Karel membuat bulu kuduk Nara berdiri.
"Apa-apaan nih, kenapa jantung gue jadi deg-degan begini. Wah, ada yang gak beres nih!" batin Nara.
Tanpa menunggu respon Nara, Karel kembali menegakkan kepalanya seperti semula. Dia tersenyum manis melihat ekspresi kaget Nara yang sangat menggemaskan. Sedangkan Thalia yang melihatnya merasa sangat muak, dia memutar matanya saking muaknya melihat keromantisan teman-temannya itu. Namun, dia tidak sengaja melihat ekspresi Radit yang terlihat seperti cemburu?
"Dit, ayo balik!" ajak Karel setelah puas melihat wajah imut Nara. Hal itu membuat Nara tersadar dari lamunannya, dia melihat kearah Karel yang mana tengah menatapnya juga. Dengan cepat Nara langsung mengalihkan pandangannya agar tidak bereye kontak dengan Karel.
Karel berjalan terlebih dahulu meninggalkan Nara dan Thalia. Sedangkan Radit menatap Nara terlebih dahulu dengan ekspresi yang sulit ditebak sebelum berjalan menyusul Karel. Thalia yang peka pun hanya bisa diam, karena menurutnya itu bukan urusannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Beside Angel (END)
Teen FictionTidak semua orang sifatnya akan sesuai dengan wajahnya yang terlihat baik, bisa jadi sebaliknya. Begitulah kisah dari salah satu remaja yang bernama Agatha, dia menyukai seorang pria di sekolah barunya yang membuatnya nekad untuk mengejarnya lebih d...
