63

242 24 12
                                        

Rafka berjalan di koridor sekolah dengan memasang wajah kesal, dia gagal membuat Aghata malu. Lalu dia tidak sengaja berpapasan dengan Karel dan hal itu semakin membuat mood Rafka jadi rusak. Dia terus berjalan mengabaikan Karel. Namun, Karel menghentikan langkah Rafka ketika mengatakan sesuatu yang membuat dirinya sedikit bimbang.

"Aghata tidak sepenuhnya bersalah Raf, dia dihasut oleh Gilang buat bikin lo hancur."

Perkataan Karel membuat dirinya bertanya-tanya. Apa semua yang dikatakan oleh Karel itu benar? Namun dia menangkis semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya.

"Gue juga gak berkhianat sama lo, gue berusaha mencegah dan ngasih tau yang sebenarnya pada Aghata kalau yang bunuh Mannaf itu bukan lo tapi Gilang."

Rafka yang daritadi tidak menatap kearah Karel sedikitpun, kini akhirnya dia berbalik badan menghadap Karel. Dia sangat penasaran dengan perkataan Karel tentang Aghata, apalagi saat Karel menyebutkan kalau orang yang membunuh Mannaf itu Gilang.

"Maksud lo apaan?" tanya Rafka dengan tidak santai.

Karel menatap ke kiri ke kanan untuk melihat sesuatu. "Ikut gue."

Karel berjalan meninggalkan Rafka. Awalnya Rafka tidak ingin mengikuti Karel, namun dikarenakan rasa penasarannya sangat kuat. Jadi, dia terpaksa mengikuti Karel.

Kini mereka berdua sudah berada di rooftop sekolah. Tanpa berbasa-basi Rafka mulai menanyakan sesuatu yang membuat pikirannya berisik.

"So, maksud dari perkataan lo tadi apaan?"

***

Aghata dan Thalia sedang berada di toilet. Aghata sedang mengganti seragamnya yang sudah tidak layak dipakai karena basah. Sedangkan Thalia sedang menunggu kegiatan Aghata mengganti baju itu selesai. Dia tadi pergi ke koperasi terlebih dahulu untuk membelikan seragam baru buat Aghata.

"Dah selesai?" tanya Thalia.

"Hmm."

BRAKK

Tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan sangat keras, sampai membuat dua orang dalam toilet itu terkejut.

"Naraaa! Lo kebiasaan deh." ucap Thalia kesal dengan menekankan nama Nara.

Nara hanya bisa menyengir. "Hehe, maaf Thal."

Lalu dia berjalan mendekati Aghata dan Thalia setelah menutup kembali pintu toilet.

"Jelasin sekarang juga kenapa lo sama Rafka bisa putus?! Dan kenapa cuman gue yang belum tau?" tekannya sambil berkacak pinggang.

Aghata menatap Nara dari kaca toilet, dia bisa melihat wajah kesal Nara. Lalu dia berbalik badan menghadap Nara sahabatnya.

Sebelum menjelaskannya dia melirik Thalia terlebih dahulu lalu kembali menatap kearah Nara. "Haruskah gue kasih tau yang sebenarnya pada mereka?" batinnya bimbang.

"Aghataa, ayoo kok malah ngelamun." Nara melambai-lambaikan tangannya pada wajah Aghata yang sedang melamun.

Seketika Aghata tersadar, "Eh, iyaa." dia menghembuskan nafasnya sebelum menjelaskan semuanya.

"Jadi, alasan gue sama Rafka putus itu... karena dia tau rahasia gue." jelasnya sedikit berhati-hati.

Nara memandangnya dengan alis terangkat. Dia belum terlalu paham dengan penjelasan Aghata yang menurutnya sangat kurang.

Evil Beside Angel (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang