69

245 25 1
                                        

Dokter keluar dari ruangan UGD, hal tersebut membuat Rafka, Thalia dan Nara langsung menghampiri dokter tersebut.

"Gimana, dok? Apakah pacar saya sudah bangun?"

"Apakah adik saya baik-baik aja, dok?"

"Gimana keadaan sahabat saya, dok?"

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan secara bersamaan oleh tiga orang tersebut membuat dokter itu sedikit pusing. Namun, dia langsung tersenyum kepada mereka.

"Tenang saja, pasien sudah melewati masa kritisnya. Mungkin dalam beberapa jam, dia akan siuman." jelasnya dengan lembut.

Rafka menghela nafasnya lega, begitupun dengan Thalia dan Nara.
"Apakah saya boleh masuk ke dalam, dok?" tanya Rafka yang tidak sabar melihat Aghata.

"Sebentar ya, kami pindahkan dulu pasien ke kamar biasa." balas dokter tersebut yang langsung diangguki oleh mereka bertiga.

Kini Aghata sudah dipindahkan ke kamar biasa. Namun, dia belum juga sadar. Rafka, Thalia, Nara, dan Karel setia menunggu Aghata bangun. Terutama Rafka yang sejak tadi memegang tangan Aghata sambil menatap lekat wajah pucat Aghata. Di hadapannya, ada Thalia yang senantiasa menatap sendu keadaan Aghata yang tidak berdaya.

"Raf, makan dulu yuk. Lo sejak tadi belum makan, biar Thalia yang jagain Aghata." bujuk Karel yang sedikit khawatir melihat keadaan sahabatnya.

"Nggak, Rel. Gue mau disini terus sampai Aghata bangun." tolak Rafka tanpa melihat kearah Karel.

Karel menatap Nara seraya menggeleng pelan. Nara menghembuskan nafasnya kasar, lalu dia membujuk Thalia untuk makan terlebih dahulu seperti yang dilakukan Karel barusan.

"Thal, makan dulu ya. Sejak tadi lo belum makan, lo keliatan pucet tau. Gue khawatir sama lo!" bujuk Nara yang benar-benar terlihat khawatir.

Thalia menatap Nara dengan wajah sendu tanpa berbicara sedikitpun. "Thal, pliss!" mohon Nara dengan sangat.

Akhirnya Thalia pun luluh dan langsung berdiri dari duduknya. Nara yang melihatnya pun langsung tersenyum lebar, "Gue pamit makan dulu ya, Ta. Lo cepet sadar, ya." ucap Thalia seraya mengelus pelan bahu Aghata.

"Ayo."

Lalu Nara menarik pelan lengan Thalia dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggallah Rafka dan Karel yang berada dalam ruangan tersebut.

"Raf, gue pergi beliin lo makan ya." tawar Karel yang langsung diangguki pelan oleh Rafka. Lalu dia pun berjalan keluar ruangan.

Sekarang hanya Rafka dan Aghata yang berada dalam ruangan tersebut. Rafka tidak berhenti menatap Aghata yang masih belum juga sadar.

"Sayang, maafin aku. Maafin aku yang gak bisa jagain kamu dengan baik." monolognya dengan air matanya yang ikut jatuh.

"Sekarang plis bangun ya sayang, aku butuh kamu!" lanjutnya menggenggam erat tangan Aghata seraya menenggelamkan wajahnya pada genggaman tangannya dengan Aghata, dengan tangis yang tidak mau berhenti.

"R-rafka."

Kepala Rafka langsung terangkat, dia pun langsung tersenyum lebar saat melihat Aghata sudah sadar.

"Sayang."

Rafka pun langsung menghamburkan tubuhnya kedalam tubuh lemas Aghata. Dia memeluk erat tubuh gadisnya dengan air mata terharunya.

"Sayang, aku kangen banget sama kamu." ucapnya dalam pelukan itu.

Aghata hanya tersenyum kecil, dia bahagia melihat Rafka begitu khawatir terhadapnya. Lalu pelukan itu pun terlepas, namun tidak dengan mata Rafka, yang selalu tertuju pada Aghata. Air mata Rafka turun lagi, sehingga membuat senyum Aghata luntur.

Evil Beside Angel (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang