telung puluh loro

1.5K 89 3
                                        

"Terimakasih ya, pak, semoga nabrak truk di jalan" tentu saja itu tidak ia ucapkan langsung, walaupun ia sudah mencuri uang yang lumayan banyak, tapi nominal tadi lumayan mahal untuknya.

Pasti ia diakali oleh orang itu, warna konoha memang seperti itu, suka mengkorupsi yang bukan haknya.

RIP KEMANUSIAAN.

Tok Tok

"Permisi, Permisi Bibii" selayaknya bank pelecit yang menagih hutang dirumah nasabahnya, Misha dengan tidak sabaran mengetok pintu depan penginapan yang telah ia pilih.

"Duh kemana si ni orang, yakali ninuninu di siang bolong kaya gini" batinnya kesal, ia kesal karena tidak akan merasakan ninuninu lagi, sedangkan orang lain bisa.

Dunia tidak adil untuk omega seimut dirinya ini, pikir Misha melalui otak Larry.

Ya itulah manusia, tidak pernah melihat apa yang telah ia miliki.

Ceklek

"Ada apa ya nak?" tanya bibi yang punya penginapan itu dengan nada yang terengah-engah.

Misha melihat bibi itu dengan tatapan aneh, bagaimana tidak, bibi itu hanya menggunakan kain jarik, dengan bra yang tergantung di cepol rambutnya.

Fiks, bibi itu habis ninuninu. Apa ia tidak sadar jika penampilan itu seperti habis dikejar babi hutan yang haus belaian?.

Ia jadi membayangkan seberapa besar penis suami bibi ituu.

Halah palingan juga sebesar bulpen kokoro.

"Kebetulan saya mencari penginapan untuk waktu yang tidak ditentukan, apakah bisa, Bibi?" tanya Misha dengan sopan, sebenarnya ia malas untuk bersikap sopan, karena itu bukan not her style.

Ia juga bingung, akan di Desa ini berapa lama melihat kondisi yang porak poranda setelah disahkannya RUU TNI.

Tapi karena sudah terlanjur dikasih hidup, jadi nikmati saja dulu, sebelum semuanya berlalu.

"O-oh bisa nak, bisa dilihat-lihat dulu" ujar Bibi itu sembari membuka pintu lebih lebar.

Tak lupa dengan tangan sang bibi yang memegang kain jarik, takut-takut jika kain tersebut jatuh dan memperlihatkan tete-nya yang sebesar buah ceri.

Misha pun melihat-lihat penginapan yang akan ia tempati beberapa waktu, yah standarnya rumah di desa-desa, tidak besar juga tidak kecil.

"Yasudah Bibi, saya ambil rumah yang ini ya" putus Misha setelah yakin dengan pilihannya.

Jika masalah seperti ini, ia seratus persen yakin.

Tapi masalah cinta, ia tidak yakin jika dicintai dengan hebat.

.....

"Zeus ngapain ya sekarang, ga mungkin coli kan" batinnya menerawang kedepan.

Baru pergi sebentar saja ia sudah rindu dengan manusia berwajah opet setengah dugong itu.

Ia juga rindu dengan tongkat baseballnya, nanti siapa yang akan mengisi lubangnya.

"Kita kedepannya gimana ya nak, ibu bingung" selayaknya ibu yang normal, ia mengelus-elus perutnya sembari mengajak bicara sang janin.

Dug

Suara orang jatuh?? oh bukannn.

Itu suara tendangan Ronaldo dari anaknya yang berada di dalam perut gentongnya.

"Haduh nak, bisa pelan-pelan gasi?, ibu kesakitan tau, mending kesakitan digenjot bapakmu daripada tendangan kamu" omelnya dengan diselingi candaan.

"Ibu cari kerja ga ya?, tapikan uang curian ibu masih banyak, buat apa cape-cape kerja kalo uang sudah ada didepan mata" sombongnya, disisi lain ia malas jika harus bekerja, tapi jika tidak bekerja, uangnya bisa habis perlahan, jika pun habis, sebenarnya ia bisa mencuri sih. Tapikan ia berjanji untuk tobat, sebinal-binalnya dia, dia tidak ingin lagi mengambil hak orang lain.

Transmigran Abal-abalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang