Matanya sembab karena sibuk menangis dari dua jam yang lalu,rasa bersalah menyelimuti nya di barengi sedikit lega di dadanya. Sang ibu menceritakan jalannya proses pemakaman sang nenek yang lumayan cukup menyulitkan karena kepalanya yang terlepas dari tubuhnya.
Shany menceritakan semua kejadian yang dia alami pada ibunya,matanya semakin memberat ketika suara hujan kini seolah memenuhi telinganya.
Gadis itu turun dari ranjangnya dan membuka sedikit pintu balkonnya,senyum tipisnya terbit ketika melihat rumah kayu kecil yang dulu ia buat bersama ayahnya.
Matanya kembali menyendu membayangkan pagi tadi ibunya khawatir karena ayahnya yang sulit di hubungi,yang pada akhirnya sang ibu pergi ke kantor pusat kepolisian demi bisa menemui sang ayah.
Shany sendiri,hanya ada satu pembantu di bawah yang tengah membuat donat kesukannya hingga wangi nya tercium.
Trauma membasahi kepalanya sejak sampai di kamarnya,shany selalu membayangkan max akan mencekiknya dimana pun itu dia menjadi takut untuk tidur karena mimpi yang terus berulang hingga membuatnya sakit kepala.
Shany selalu menyalahkan dirinya akan hal yang sudah terjadi dan akan terjadi selanjutnya,karena Max masih hidup itu artinya semua tidak akan baik baik saja.
Tok tok tok
Tubuhnya terlonjat shany menengok ke belakang dan melihat pembantu rumah membawakan beberapa donat dengan susu,"Nona saya bawakan ini untuk makan siang.."
Shany tersenyum tipis,"Terimakasih,taruh saja di situ."
"Nona ingin buah? Saya bisa bawakan anggur jika nona mau.." tawar nya.
Shany menggeleng ia mengambil nampan makanannya dan berkata,"ini cukup,kau bisa lanjutkan pekerjaanmu."
Pelayan itu mengangguk dan pergi sedangkan shany menikmati donat manis yang rasanya begitu nikmat setelah menangis berkali kali,
"Kenapa dad susah di hubungi? Apa ponselnya mati?" Monolognya.
"Jika iya,maka seharusnya dia mengisi ulang baterai nya bukan? Kenapa dari kemarin tidak ada jawaban pesan dari mom?"
Shany berusaha berfikir positif dan melanjutkan makan siang manisnya,siang ini ia hanya ingin menonton tv dan mencoba menenangkan dirinya dengan membaca novel kesukaanya,ponselnya hilang dan dia tidak bisa berbuat apapun sekarang.
hujan kini berhenti dan kedatangan pelayan nya membuatnya terheran,"ada apa?"
"ada sebuah paket atas nama nona di bawah.." ucap pelayan itu pelan.
shany mengerenyit tidak mengerti,"tapi aku tidak memesan apapun." tubuhnya bangkit dan mengikuti langkah pembantu rumahnya,"saya kurang tahu nona,yang pasti itu di tujukan untuk nona.."
shany mengangguk mata nya tertuju pada sebuah kotak berukuran sedang yang di simpan di atas meja,itu bahkan terlihat seperti kardus biasa dengan label pengiriman di atasnya,namun hal aneh mulai terlihat,
dimana ada sebuah stiker kecil yang tertempel cantik di ujung kardus dengan tulisan dengan tinta merah yang bertuliskan,
Untuk kelinci manisku,Shany..
Jantungnya seakan hendak berhenti ia mundur selangkah dengan nafas yang terasa memburu,wajahnya melihat sekitar waspada jika apa yang ia pikirkan hanyalah rasa takut biasa,ia tergoda untuk membawa kotak itu pergi dan membuangnya namun shany malah membawa kotak itu ke kamarnya lalu menguncinya dari dalam.
kotak itu terasa ringan dan yang pasti ini bukan bom yang ia pikirkan,lengan gemetarnya membuka selotip lalu beberapa kertas merah yang membungkus sesuatu di bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐈𝐒𝐔 𝐉𝐄𝐋𝐄𝐌𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐁𝐋𝐈𝐒
Ficção Geral[Hiatus beybeh] 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 Jika memang membantu seseorang adalah hal buruk mungkin Shany kecil memilih pergi pulang daripada membantu seseorang yang di rundung. berteman berbinca...
