Untuk saat ini takdir berpihak pada Shany,meskipun sementara gadis itu tetap bersyukur setidaknya ia tidak melihat wajah pria gila yang selalu mencekik leher nya dengan kawat berduri.
Sejarahnya tidak ada gadis yang ingin di perlakukan buruk oleh kekasihnya.
Meskipun hubungan mereka belum pasti shany yakin Max akan tetap memaksanya menjadi kekasihnya,shany sangat mengerti perasaan Max namun baginya Max hanya terobsesi yang lambat laun akan memudar dan shany takut ia di buang.
Sampai di depan rumahnya shany memberikan anting yang gadis itu pakai pada supir,"this is Cartier, you can sell it!"
"Tapi nona-"
Shany tidak mengindahkan kata kata supir dan langsung pergi masuk ke rumahnya,suara deguman keras dari pintu membuat Ibunya shany yang tengah termenung di meja dekat dapur mengintip ke arah luar dan betapa terkejutnya melihat gadis yang lama hilang kini datang dengan wajah kacau di depannya.
Air matanya turun,"Shany,putriku!"
Shany menyadari keberadaan ibunya langsung berlari ke arah ibunya sambil menangis,hatinya berbahagia mencium wangi sang ibu sambil menangis terisak isak.
"Mommy..a-aku takut." Kata shany gemetar,
"Kamu dari mana saja nak! Mom mencarimu dengan dad! Kabar nenekmu.."
Shany menepuk bahu ibunya sayang,"aku tahu mom,biarkan aku masuk ke kamar dulu.." ucap shany.
Gadis itu sangat takut jika tiba tiba Max datang dengan membawa pisau di hadapannya,tentu saja itu membuatnya takut. Shany di bawa ke kamarnya lalu gadis itu mengunci nya rapat sekan bayangan Max masih di sekitarnya,bahkan Shany masih mencium wangi parfum yang Max kenakan.
Tubuh shany merosot ke lantai dengan tangisan yang tersedu sedu ia memeluk ibunya dengan kuat,
"Aku takut mom,dia..sangat-"
"Katakan apa yang terjadi! Bagaimana kau bisa begini sayang?? Kau tahu dad mencarimu kemana mana dan kasus pembunuhan nenekmu sedang di siasati!" Tegas ibunya.
Shany menyeka air matanya," pembunuhnya seorang pria yang rumahnya ada di tengah hutan,hiks! Dia menyekapku dan membunuh nenek. Dia-- hiks.." shany tidak kuat mengatakan kalimat selanjutnya.
"Bagaimana kau bisa kabur begini??" Tanya sang ibu sambil mengelap keringat putrinya dengan tangannya.
Shany mengingat apa yang terjadi dan berkata,"kami pergi ke suatu tempat dan aku izin ke toilet lalu kabur,"
Shany kembali memeluk sang ibu yang ikut menangis dan bersyukur karena bisa bertemu dengan putrinya dalam keadaan baik baik saja,"Kau pulang dengan selamat,itu sudah cukup bagiku. "
Shany mengangguk ia mengeratkan pelukannya,namun seketika ia teringat sesuatu. "Dimana dad?"
"Dia pasti sedang mencarimu,istirahatlah aku akan menelfon ayahmu." Ucapnya menarik putrinya agar mau merebahkan diri di ranjang cantik miliknya.
Bayangan Max selalu terbaca di otaknya,meskipun max tidak menyakitinya tetap saja perlakuan max dengan merantainya dan membuatnya hampir gila itu cukup bagi Shany.
Matanya memejam merasakan hembusan dingin dari AC ruangan hingga wangi familiar di penciuman nya,ya. Wangi Max.
Gadis itu duduk di kasurnya dan kembali menatap tas miliknya,Shany segera mengambil pistol di dalamnya dan menaruhnya di laci lalu menguncinya.
Nafas gadis itu terengah engah,"Kumohon jangan pernah muncul di hadapanku lagi.." katanya lirih.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐈𝐒𝐔 𝐉𝐄𝐋𝐄𝐌𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐁𝐋𝐈𝐒
General Fiction[Hiatus beybeh] 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 Jika memang membantu seseorang adalah hal buruk mungkin Shany kecil memilih pergi pulang daripada membantu seseorang yang di rundung. berteman berbinca...
