Blue eyes

4.1K 279 45
                                        

"Menguping sayang?"

Suara bariton itu terdengar begitu dekat di telinga,wajah sinis Max dengan pisau di tangannya membuat darah di tubuhnya tiba tiba mendidih dan udara di sekitar menjadi mencekam.

Bibirnya kelu tidak dapat menelan air liur nya yang kini mengering,urat di tangan max menonjol karena kepalan tangannya semakin kuat.

Darah dari pisaunya menetes ke bawah yang di barengi dengan datangnya Zue dengan tergesa gesa dari bawah.

"Saya mendengar ada suara keributan dari atas.." zue datang membawa nampan kosong terkejut melihat keadaan di depannya.

"Anda tidak apa apa nona?"

Shany menggeleng ia menatap Max marah,"Kau berbohong padaku?! Kenapa max! Hanya karena aku kabur?" Tanya nya histeris menghiraukan pertanyaan zue.

Max dengan santainya berkata,"Aku tidak berbohong,itu salahmu mudah percaya dengan silikon buatan." Katanya sambil mengangkat bahunya acuh.

Shany menatap tidak percaya,"kau bahkan lebih buruk hewan max!"

"Turunkan nada bicaramu."

"Aku benci max! Sampai kapanpun aku tidak pernah jatuh lagi ke tipuanmu lagi! Bajingan!!"

Shany melempar nampan yang di bawa zue dan berlari begitu saja,sedangkan max dengan cepat menepis benda itu dan berlari untuk mengejar shany.

Zue khawatir meskipun lambat laun shany akan mengetahui sebenarnya namun inilah yang ia takutkan karena gadis itu terlalu berani maka max akan lebih nekat.

Zue menepuk keningnya pelan,"aku bahkan lupa menutup pintu belakang!" Serunya karena ia memang baru saja membenahi dapur dan belum mengunci pintu belakang.

"Malam ini pasti akan ramai.." khawatirnya.

Di sisi lain shany berlari panik,yang ia takutkan hanyalah yang berlari di belakangnya,sesekali gadis itu mengintip ke belakang dan melihat max yang tertawa lepas seperti orang gila dari belakang.

"Hahaha mau kemana sayang???"

Shany berteriak histeris ia turun ke bawah tangga berdoa agar kaki jenjangnya berguna dan tidak ada drama terkilir maupun jatuh,karena itu menghambat pelariannya.

Wajahnya yang penuh keringat sibuk mencari celah agar kabur,karena semua pintu besar dan jendela di tutup dan tidak ada yang bisa di buka.

Max tertinggal di belakang,entah sengaja atau tidak tetapi ada sedikit rasa lega sehingga gadis itu punya waktu untuk mencari tempat untuk bersembunyi.

Shany berlari ke arah dapur dan mengambil pisau untuk jaga jaga,ia melihat  laci besar yang biasa digunakan untuk menaruh stok barang,setelah di cek itu kosong dan akhirnya shany memaksakan dirinya untuk bersembunyi di sana.

Rumah ini cukup luas untuk berlari mengeluarkan keringat dan dia bersyukur max belum menemukannya,gadis itu menutup mulutnya ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

Matanya memejam sesaat namun kembali membelak ketika melihat dari celah kecil dimana max yang datang dengan pisau sedang nya itu.

"Hallo sayang,aku tahu kau bersembunyi..keluarlah~"

Shany menggeleng pelan,ia berharap max buta dan tidak melihatnya. Jantungnya seakan mau copot saat max mulai memeriksa satu per satu ruangan yang ada.

"Jangan takut sayang,aku tidak akan memakanmu.."

"Mungkin sedikit-"

"Ayolah sayang,aku akan memaafkanmu jika kau keluar dari tempat persembunyian mu~ "

𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐈𝐒𝐔 𝐉𝐄𝐋𝐄𝐌𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐁𝐋𝐈𝐒Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang