"Hah..hah.. dimana ini?"
Pengelihatannya kabur bukan karena pening di kepala namun kabut yang semakin tebal dan hujan yang deras membuatnya sulit untuk bergerak dan melihat.
Seluruh tubuhnya basah kuyup dengan kaki yang bahkan sudah gemetar kedinginan dan tak kuat untuk berlari lagi,matanya mencoba untuk mengawasi sekitarnya takut tiba tiba max datang dan membunuhnya.
Shany kembali berlari dengan kaki jenjangnya,ia hanya memakai gaun tidur yang bahkan tidak ada se bawah lutut dan kini tubuhnya sedikit terekspos.
Namun itu bukan hal yang harus di pedulikan sekarang, ia terus berlari dan mencoba mencari jalan keluar dari hutan ini. Terkadang ia terjatuh dan membuat luka di lutut dan lengannya.
Shany menangis di sana ia merutuki dengan kabur lewat pintu belakang,namun memang hanya jalan ini yang bisa ia lewati.
"Aku harus cepat sebelum max menemukanku!" Serunya kembali berlari dengan sedikit tertatih karena luka di kakinya terkena air hujan dan membuatnya semakin perih.
Max keluar dari rumahnya dengan santai memakai jaket dan lengannya masih memegang pisau,pria itu keluar sambil bersiul dengan santai.
Ia tersenyum melihat jejak kaki shany yang terlihat begitu jelas di bawah guyuran hujan,gadis itu tidak bisa kemana mana.
Hutan ini penuh misteri karena dulu keluarga nya selalu membuang sisa dari tubuh manusia yang tidak di pakai ke sembarang arah di hutan ini,mereka juga menyebut hutan ini sebagai area hitam karena tidak sedikit orang yang datang menghilang dan tidak kembali.
Itu bukan salah max,pria itu tidak akan membunuh tanpa alasan. Meskipun hutan ini mengerikan baginya ini hanya tempat bermainnya dulu,saat semua orang menghindarinya karena bisu max bermain sendiri di hutan ini.
"Sayangggg kau dimanaa"
Hups!
Shany terkejut karena suara max yang terdengar sampai ke telinganya,ia melihat jejak kakinya sendiri di tanah. Shany yakin ia telah berlari cukup lama namun ia seolah-olah berlari di tempat karena kembali ke tempat semula.
"Tidakk,max akan membunuhku." Katanya kembali berlari ia pastikan kini arahnya berbeda.
"Kumohon sekali ini saja berpihaklah padaku!!!" Serunya pelan di sela berlarinya.
"where is your little bunny~"
Shany kehilangan arah ia memilih untuk bersembunyi di bawah pohon yang batangnya menunduk sehingga memudahkannya untuk bersembunyi.
Shany memeluk tubuhnya sendiri sambil berharap max buta dan tidak melihatnya di manapun,namun ia salah kini manik hijaunya bisa melihat dari sela kecil langkah kaki max yang dari kejauhan semakin mendekat.
"Kalau lelah kau bisa duduk sebentar,little Bunny.." katanya sambil tersenyum aneh.
"Hutan ini berhantu loh,kamu bisa di makan hidup hidup nanti.." lanjutnya mencoba menakut nakuti shany.
Shany masih dalam posisinya,ia tidak peduli dengan semua omong kosong max,baginya max lebih mengerikan dari hantu.
"Padahal aku baik loh,kenapa kau sangat jahat padaku??" Katanya berpura pura sedih.
Max berhenti di samping pohon tempatnya bersembunyi,tubuhnya bergetar karena dingin dan juga ketakutan.
"Hmm shany keluar atau aku seret sayang?" Perubahan nada suara max semakin membuatnya takut.
Beberapa saat berlalu tidak ada lagi suara max dan juga jejak kakinya,ia berdiri tegak dengan mata nya yang memantau sana sini,tubuh shany begitu gemetar ia bahkan sulit bernafas ketika max begitu dekat dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐈𝐒𝐔 𝐉𝐄𝐋𝐄𝐌𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐁𝐋𝐈𝐒
General Fiction[Hiatus beybeh] 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 Jika memang membantu seseorang adalah hal buruk mungkin Shany kecil memilih pergi pulang daripada membantu seseorang yang di rundung. berteman berbinca...
