Nikmat hidangan steak yang lumer di mulut membuat candu lidah begitu puas setelah beberapa jam menunggu dengan perut yang kosong dan yang terpenting tidak ada ejekan dan tekanan pikiran tentang daging manusia,setidaknya di restoran ia tidak akan menemukannya.
terlalu fokus dengan makanannya sehingga tidak sadar tatapan memuja dari pria di depannya membuatnya sedikit tidak nyaman meskipun rasa tidak peduli dalam hatinya berkata untuk terus makan dan mengisi penuh lambungnya.
lupakan tentang cerita melow tadi dan yang gadis ini pikirkan hanya gelas es krim yang akan berganti dengan piring nya setelah ini,Max tersenyum puas meskipun kali ini sedikit membosankan baginya namun semua itu terbayar dengan senyum manis shany yang bahagia karena kencan membosankan ini.
Max tidak masalah jika itu shany,"aku jadi takut dengan sikap manismu ini, apa setelah ini kau akan menjadikanku hidangan juga? seperti steak ini?" kata shany menunjukan sepotong daging dan memasukkanya ke mulut kecilnya.
Max sedikit terhibur dengan perkataan shany,"ya,hidangan makan malam ku nanti.." kalimat max mendapatkan pelototan dari shany,diketahui pasti maksud max bukanlah tentang 'makanan'
"seharusnya aku yang takut dengan sikap tenang mu ini,apa kau sedang merencanakan untuk kabur lagi?" ucapnya sambil menyipitkan matanya penuh telisir.
shany menjadi gugup,ia tidak menjawab pertanyaan max dan memilih menghabiskan sisa potongan dagingnya dan melihat ke arah lain,"Kau sangat menyukaiku max?"
Gelas di tangannya terhenti max menatap gadis manis di depannya itu penuh pertanyaan," kau ragu?"
shany menggeleng,"jika kau menyukaiku, bisakah jika tidak ada hal seperti itu dan hanya ada kencan biasa seperti ini?"
"itu pekerjaanku,kau tahu itu."
"aku tahu! tapi bukankah jika lebih baik jika kita bersikap seperti pasangan pada umumnya? taman bermain,piknik,bioskop dan tidak ada peluru dan pisau." jelasnya.
max terdiam sejenak pria itu meminum sisa wine di gelasnya sambil menatap manik indah shany,"apa keuntunganku?"
Benar,dia memang licik dan max selalu ingin menang sendiri.
Shany menghela nafasnya pelan,"hubungan itu tentang dua orang max,dan sudah tugas seorang pria membuat wanitanya bahagia bukan?"
"sayang..benar katamu tentang hubungan dua orang itu,lalu jika aku membuatmu bahagia apa balasanmu?"
gadis itu menjadi gugup sedangkan max tersenyum seksi sambil meraih dagu manis shany,"tidak ada yang gratis di dunia ini.."
lengan gadis itu mengepal shany ingin sekali rasanya mencabik cabik wajah dewa milik max namun tidak,max adalah pria yang berbahaya dan ia harus pintar berbahasa jika tidak pria di depannya akan mempermainkannya.
Dengan perlahan shany kembali menatap mata bulat max yang sedang asyik memainkan bibirnya sambil menunggu jawaban dari gadis malang di depannya,"kenapa diam sayang?'
"kau mendapatkan aku max,perhatianku. apalagi yang kau mau?!"
max menggeser piring shany demi meraih lengan lentiknya,"ck ck ck itu bukan imbalan yang setimpal untukku."katanya.
"aku ingin jiwamu shany,tubuhmu. semua hanya untukku,fokus padaku."
Jiwa rakus max membuat siapa saja di sisinya akan terasa sesak dan kini gadis malang itu merasakannya,"bagaimana sayang?"
dengan berat hati shany berkata,"Aku milikmu."
Max dengan bahagia menyender di kursinya sambil mengigit bibirnya gemas,senyumannya tidak luntur semenjak shany menunduk dengan kalimat manis itu,menjebak shany dalam lubang kematiannya begitu mudah dan meskipun begitu hanya max yang mampu menaklukan shany.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐑𝐈𝐀 𝐁𝐈𝐒𝐔 𝐉𝐄𝐋𝐄𝐌𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐁𝐋𝐈𝐒
General Fiction[Hiatus beybeh] 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 Jika memang membantu seseorang adalah hal buruk mungkin Shany kecil memilih pergi pulang daripada membantu seseorang yang di rundung. berteman berbinca...
