Zara melangkah keluar ruangan dengan cepat, meninggalkan pria itu yang masih berdiri dengan santai sambil tersenyum setengah jahil. "Tolong jangan marah-marah begitu, sayang. Aku jadi semakin suka melihat wajah merah di wajah cantikmu!" seru pria itu, tetapi Zara tidak menoleh sedikit pun.
Zara tidak bisa memungkiri bahwa pria itu selalu punya cara untuk membuatnya kesal sekaligus stres. Ada sesuatu dari tingkahnya yang sering kali konyol, yang tidak pernah gagal membuat harinya lebih buruk bahkan lebih buruk setiap harinya.
Setelah beberapa jam berlalu, Zara akhirnya tiba di apartemen. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, melemparkan tasnya ke atas meja, dan menghela napas panjang. Ponselnya berbunyi, menandakan pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
From French :
"Jadi, kapan aku bisa menerima 'paket cinta' dari Zara yang cantik ini?"
Zara memutar bola matanya sambil mendesah. "Dasar pria tidak tahu malu," gumamnya, lalu mengetik balasan dengan cepat.
Me:
"Besok. Dan jangan berharap aku membelikan tambahan singlet atau apa pun yang kau minta tadi!"
Balasan pria itu datang begitu cepat, seolah-olah ia memang sedang menunggu.
From French :
"Yah, baiklah. Tapi pastikan warnanya yang seksi, ya? Aku hanya menerima hitam atau merah."
Wajah Zara langsung memerah kesal membaca pesan itu. "Astaga, dia benar-benar tidak tahu malu!" gumamnya geram.
Tangan Zara baru saja mengetik balasan pedas ketika pesan lain masuk.
From French :
"Ngomong-ngomong, aku ingin minta maaf kalau tadi aku terlalu berlebihan. Tapi kau tahu, Zara... aku nyaman jika bersamamu. Aku tak perlu berpura-pura jadi orang lain. Terima kasih, sudah mau repot-repot mencarikan barang kecil seperti itu untukku."
Zara terdiam, matanya terpaku pada layar ponsel. Nada pesan itu terasa berbeda, lebih lembut, dan entah kenapa hatinya terasa semakin dongkol. Di balik sikapnya yang sembrono, pria ini sebenarnya perhatian, dan... manis. Aiiss.. manis apanya!
Me :
"Jangan harap aku terharu. Dasar pria menyebalkan!"
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Panggilan dari pria itu.
Zara mengangkat telepon dengan malas. "Apa lagi sekarang?" tanyanya ketus.
"Hei, jangan marah-marah terus, sayang. Aku hanya ingin mendengar suara manismu," ujar pria itu dengan nada santai, tapi kali ini terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Kalau cuma itu, kau bisa kirim pesan. Tidak perlu menelepon," balas Zara dengan dingin.
"Aku tak bisa. Kalau pesan, mana bisa aku mendengar suaramu mendengus kesal atau mengomel. Itu suara favoritku."
Zara mendengus, sengaja agar pria itu mendengarnya. "Kau benar-benar menyebalkan, tahu?!"
"Aku tahu. Tapi aku juga tahu kalau kau sebenarnya menikmati semua ini. Jangan pura-pura, Zara," balas pria itu, kali ini dengan nada menggoda.
Wajah zara bersemu merah menahan amarah. Omong kosong macam apa itu?!! "Sudahlah! Aku sibuk," jawab Zara,
"Baiklah, baiklah. Tapi sebelum aku tutup telepon, aku cuma mau bilang satu hal."
"Apa lagi?" tanya Zara dengan nada malas.
"Terima kasih untuk semuanya."
Zara terdiam. Nada suara pria itu kali ini benar-benar tulus. Meski sering membuatnya kesal.
"Ya, ya, aku tahu. Sekarang tutup teleponnya. Aku mau istirahat."
"Oke, Sayang. Tidur yang nyenyak, ya. Jangan lupa mimpi indah tentang diriku," ujar pria itu, diakhiri dengan tawa kecil yang membuat Zara naik pitam.
Setelah telepon berakhir, Zara duduk diam di sofa. Ia memandangi ponselnya, "Sampai kapan kau akan mengejarku French? Aku tak tahu kenapa kau segila ini?!!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Storie brevi"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
