Suriah mengadakan acara kecil-kecilan di rumahnya yang hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat. Acara ini dia buat untuk Nasywa yang telah menyelesaikan kuliahnya, walaupun sebenarnya Nasywa belum wisudah namun jika sudah menyelesaikan skripsi bukankah itu termasuk sudah selesai?
Dari semua orang yang hadir, Nasywa tidak menemukan Yusya. Padahal kedua anaknya, Yusuf dan Aisyah ada.
"Dimana kak Yusya?" Nasywa bertanya pada Nafasya yang sedang menyuap Aisyah.
Nafasya menggeleng"Memangnya dia datang?"
"Jika dia tidak datang, Yusuf dan Aisyah datang dengan siapa?"
"Mereka datang bersama kak Dzakira."
"Aku mendengar pung Dzakira berkata bahwa pung Suriah menyuruh pung Yusya untuk tidak datang," timpal Yusuf dengan mata yang terfokus pada game di ponselnya.
Nasywa dan Nafasya saling pandang.
Yusuf meletakan ponselnya lalu berucap"Apakah pung Suriah dan pung Yusya bertengkar?"
"Apa yang kau katakan? Itu tidak mungkin," sewot Nafasya mengelak.
"Itu yang kudengar selama ini. Mereka bilang pung Suriah membenci pung Yusya dan melarangnya datang ke rumah."
"Mereka siapa?"
"Semua. Aku mendengar mereka semua mengatakan itu setiap kali mereka berkumpul." Yusuf kembali mengambil ponselnya, bersikap tak acuh.
"Bukan sep-"
"Nasywa."
Nasywa tidak sempat melanjutkan ucapannya karena mendengar panggilan Suriah. Matanya bergerak kesana kemari mencari sosok yang menemukannya. Tidak butuh waktu lama ia menemukan Suriah yang sedang berjalan menghampirinya. Wanita paruh baya itu berjalan bersama seorang pria yang sangat Nasywa kenal.
"Selamat atas gelarnya Wa," ujar Hazen saat ia berdiri di depan Nasywa.
Ya. Pria itu adalah Hazen, pria yang mendapat lampu hijau dari Karina dan Suriah untuk menikahinya.
Nasywa tersenyum tipis"Ucapannya terlalu dini, aku masih belum wisudah."
"Benar juga."
"Bawa Hazen berkeliling rumah, Pung mau ke dalam sebentar."
Nasywa tahu niat Suriah, dia tidak ingin menurutinya.
"Tapi aku-"
"Tolong bantu aku melayani tamu Wa."
Nasywa tidak bisa mengatakan apapun lagi, gadis itu mengangguk dan tersenyum paksa.
Diam-diam Nafasya mengirim pesan pada Yusya yang berisi
"Kau yakin tidak mau datang? Calon istrimu sedang dijodohkan."
"Ayo kak," ajak Nasywa menepati permintaan Suriah.
"Kau tidak perlu melakukannya jika memang tidak ingin." Hazen menyadari sikap tidak ikhlas Nasywa.
Nasywa tersenyum kikuk"Jika kau berkata seperti itu aku semakin tidak enak."
Hazen terkekeh, "Aku serius. Tidak perlu memaksakan diri melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan."
"Maaf," cicit Nasywa.
"Tidak apa-apa."
Terjadi keheningan selama beberapa menit sampai akhirnya Hazen bertanya lagi.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik Alhamdulillah."
Nasywa menggigit bibirnya, menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave It To Allah
SpiritualTentang Nasywa yang mencintai Yusya-kakak sepupunya-sendiri selama hampir sepuluh tahun, Cinta yang berusaha keras ia sembunyikan rapat-rapat, sebuah cinta yang hanya diketahui oleh ia dan Allah. Cinta yang juga tidak memudar bahkan setelah Yusya me...
