Nasywa berdiri di pintu keluar bandara internasional Sultan Hasanuddin tangan kanannya memegang koper dan tangan kirinya memegang tas. Matanya bergerak kesana kemari mencari seseorang yang sudah berjanji akan menjemputnya.
"Wa, sini." Nafasya melambaikan tangannya pada Nasywa.
"Udah lama nunggunya?"
Nafasya mengulurkan tangannya mengambil tas yang dipegang Nasywa"Baru 20 menit yang lalu."
"Terima kasih Sya."
Mereka lalu berjalan menuju parkiran ke tempat dimana mobil Nafasya diparkir.
Nafasya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Nasywa. "Kuharap kau berpura-pura tidak tahu mengenai masalah pung Suriah dan kak Yusya.?" tanya Nafasya saat bokongnya duduk dibangku belakang kemudi.
"Kenapa?." ujar Nasywa duduk dibangku samping kemudi.
"Mereka berniat menyembunyikannya darimu, pung Suriah berpura-pura tidak terjadi apapun agar kau dan Yusya tidak menikah."
"Tapi sampai kapan?"
"Sampai suasana sedikit reda."
Nasywa mengangguk"Baiklah."
#
#
#
"Jangan membahas apapun mengenai permasalahan yang sudah terjadi." ujar Suriah sambil berdiri menghadap ke keluarganya yang sedang duduk di meja makan.
"Terutama kau!" tekan Suriah pada Yusya.
"Iye pung." jawab sebagian orang di meja makan.
'Demi Nasywa aku akan berpura-pura tidak mendengar dan mendapat permintaan apapun. Jadi kita lupakan saja semuanya. Aku memafkanmu." Suriah menatap Yusya seolah menegaskan bahwa ialah yang dimaksud Suriah.
Yusya diam, ingin mengatakan sesuatu namun ia urungkan karena ini adalah hari yang baik. Mereka semua berkumpul disini untuk merayakan Nasywa yang telah menyelesaikan semua tahap perkuliahannya. Yusya tidak boleh merusak itu.
"Kau tidak mengatakan apapun?"
"Iye pung."
"Lupakan keinginanmu yang kau katakan padaku."
Yusya lagi-lagi diam, jika ia menjawab itu sama dengan ia harus merelakan Nasywa namun diammnya membuat orang-orang berpikir ia tidak sependapat dengan Suriah.
"Kenapa tidak menjawab? Kau masih ingin menikahi Nasywa?"
Yusya masih keukeh menutup rapat bibirnya.
"Andi Yusya!"
"Jika aku bilang iya apakah pung akan marah?"
"Menurutmu?! Kau tidak belajar dari pengalaman? Jika aku tidak marah, tidak mungkin aku mengusirmu."
Suasana berubah tegang, tidak ada yang berani meminta Suriah untuk menghentikan obrolan ini. Jika meminta Yusya diam saja tidak cukup seperti yang dilihat sejak tadi Suriah yang sering memancing Yusya.
"Kenapa karena kau sudah punya rumah sendiri, punya banyak uang jadi saat aku mengusirmu kau tidak terpengaruh?"
"Bukan seperti itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave It To Allah
SpiritualeTentang Nasywa yang mencintai Yusya-kakak sepupunya-sendiri selama hampir sepuluh tahun, Cinta yang berusaha keras ia sembunyikan rapat-rapat, sebuah cinta yang hanya diketahui oleh ia dan Allah. Cinta yang juga tidak memudar bahkan setelah Yusya me...
