30.

333 15 3
                                        

"Apakah kau akan menikah?" Yusuf bertanya tepat setelah Yusya masuk ke dalam kamarnya.

Yusya terpaku, ia mematung di tempatnya. Memcari soslusi untuk menjawab pertanyaan Yusuf. Perlahan ia melangkah kecil mendekat ke arah Yusuf yang sedang duduk di ranjang.

"Maaf, aku tidak merahasiakan hal ini darimu.." Yusya tidak dapat melanjutkan ucapannya, otaknya bekerja keras untuk menemukan jawaban yang dapat membuat Yusuf tidak merasa bahwa pernikahan Yusya tidak dapat merubah hubungan ayah dan anak mereka.

"Sebenarnya aku... sejak lama aku ingin menjadikan Naswya sebagai istriku hanya saja karena satu dan lain hal aku tidak dapat memastikan bahwa aku bisa menikah dengannya atau tidak itu sebabnya aku belum memberitahumu."

Yusya melihat raut Yusuf yang menunduk menampakan ekspresi sedihnya.

"Sekarang aku baru bisa memastikannya bahwa in syaa Allah aku dan Nasywa akan menikah, apakah kau keberatan?"

"Mereka bilang ibu tiri itu jahat, aku takut.."

Yusya menangkup wajah kecil Yusuf dengan kedua tangannya.

"Siapa yang mengatakan hal itu?"

Kedua iris berwarna cokelat pekat itu saling menatap.

"Temanku."

"Apakah menurutmu Nasywa orang jahat?"

Yusuf menggeleng.

"Lalu bagaimana pendapatmu tentang Nasywa?"

"Amah Nasywa baik, ramah, sabar, telaten sekali mengurus Aisyah, selain itu dia cantik."

Yusya terkekeh.

"Lalu?"

Yusuf mengangguk, "bulan lalu aku mendengar pembicaraan pung Dzakira dan mama Fitri, dari pembicaraan mereka mengatakan bahwa kau menyukai amah Nasywa dan ingin menikahinya. Saat mendengarnya aku senang, membayangkan orang seperti amah Nasywa yang menjadi ibuku rasanya jantungku mau meledak saking senangnya tetapi... kata temanku yang ayahnya menikah lagi.. ketika ayahnya punya keluarga baru dia akan melupakan keluarga lamanya... lalu... istri barunya juga akan. menjauhkan ayahnya dari keluarga lamanya.. aku.."

"Sayang, kau adalah anakku. Bagaimana mungkin aku menjauh darimu? Itu adalah hal yang tidak mungkin. Kau tahu betapa aku mencitaimu dan Aisyah."

"Bagaimana jika amah Nasywa yang memisahkan kita?"

Yusya menggeleng.
"Itu lebih tidak mungkin, Nasywa sangat menyayangi kalian. dia mungkin lebih menyayangi kalian dibandingkan aku. Buktinya selama walaupun dia di jogja dia sering video call untuk menanyakan kegiatan kalian, ya kan?"

Yusuf mengangguk. Dia kembali mengingat Nasywa yang selama ini rutin video call dengannya, rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarnya berbicara padahal Yusya tidak pernah melakukan itu karena sibuk bekerja.

Dia juga mengingat bagaimana Nasywa mengurus dirinya dan bagaimana Aisya sangat nyaman dan senang ketika berada di dekat Nasywa.

"Kau benar. Maaf pung. Sepertinya aku terpengaruh oleh omongan temanku."

"Tidak apa-apa. Jika ada sesuatu katakan saja nanti kita bisa berembuk. Itulah gunanya keluarga. Ya, kan?"

Perlahan senyum muncul diwajah anak laki-laki tersebut.

"Lalu sekarang.. Amah nasywa juga termasuk keluarga kita?"

"Tentu."

"Bisakah aku memanggilnya Ummah?" .

Sebelah sudut bibir Yusya terangkat, "Darimana kau tahu kata itu?"

Yusuf menyengir bodoh, "aku mendengar temanku memanggil ibunya dan menurutku panggilan itu enak di dengar. Apalagi selama ini aku memanggil Amah Nasywa jadi tinggal huruf depannya saja yang diganti jadi ummah."

Leave It To AllahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang