Happy Reading🤗
Dear Dunia ...
Segelap apapun dunia malam ini
Semoga besok matahari akan terbit kembali
Siang ini koridor sekolah di penuhi dengan anak-anak yang hendak pulang kerumahnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Fania, kini gadis yang kerap di sapa anak olimpiade oleh Daniel itu tengah berjalan di tengah-tengah kerumunan siswa ia tak sendiri, kali ini dia bersama Daniel, Lia dan juga Zega yang juga akan pulang. Sedaritadi gadis itu clingak-clinguk mencari seseorang yang belum menampakkan batang hidungnya semenjak perpisahan mereka tadi pagi. Fania berpikir keras, 'apakah Haikal marah kepadanya?' tapi tidak mungkin, Haikal bukanlah orang yang seperti itu.
Sungguh, Fania sangat ingin bertemu dengan laki-laki itu sekarang, kemana perginya Haikal si kutub utara itu?
"Fania lo kenapa dari tadi clingak-clinguk?" Lia menatapnya dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Fania sedikit tersentak saat mengetahui ternyata Lia sedaritadi memperhatikannya, ia buru-buru menggelengkan kepalanya, "nggak kenapa-napa kok kak" jawabnya tersenyum kikuk.
"nyariin Haikal dia," enteng Daniel tetap berjalan santai.
Mendengar itu Lia hanya berohria, kecuali ketua osis yang tepat berjalan di sebelah Fania, entah kenapa wajah laki-laki jadi sedikit muram saat mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Daniel.
"lah, emang si Haikal kemana?" Lia bertanya pada Daniel yang merupakan teman satu kelas Haikal. Fania pun turut antusias mendengar jawaban yang hendak keluar dari mulut teman kekasihnya itu.
Daniel menghentikan jalannya, sejenak laki-laki itu menarik nafas panjang, ia menatap Fania yang begitu antusias menunggu jawaban darinya. "asal lo tau yah anak olimpiade, cowo lo tuh abis bikin masalah gede. Gua udah stres jadi ketua kelasnya dia, bayangin anjing, gua jadi ketua kelasnya dia dari TK. Gua udah muak! Kalau di suruh mending jadi lilin atau jadi ketua kelas yang ada Haikalnya, gua bakal milih jadi lilin tanpa mikir panjang."
"segitu kesalnya lo sama Haikal?" tanya Zega.
"lo nggak tau aja tu anak habis ngapain tadi,"
"emang dia habis ngapain kak?"
"cowo lo tuh tadi abis beran__"
Prakkk!!
"Anjing ..."
Haikal datang dan barusaja melempar kaleng soda kosong yang tepat mengenai kepala Daniel. Laki-laki itu kemudian tertawa kecil, "maaf, meleset lemparan gue" ucapnya yang kemudian berjalan menghampiri temannya.
"kurang ajar banget emang ni anak, datang-datang main lempar aja, lo kata ini kepala gua nggak sakit apa?"
"enggak."
"anjirlah."
"kamu habis darimana?" tanya Fania penasaran.
"nggak dari mana-mana," ucapnya sembari menjauhkan Fania dari Zega dengan membawa gadis itu ke dekapannya. "mau pulang sekarang?" tanyanya menunduk menatap kedua bola mata Fania dengan lembut. Fania hanya tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan.
"Duluan yah ka," ucap gadis itu tersenyum sebelum benar-benar beranjak.
Kedua sejoli itu akirnya pergi meinggalkan Zega dan teman-temannya. Zega menatap kepergian kedua remaja itu, ia juga sempat melihat sorot mata Fania yang begitu teduh saat menatap Haikal, seolah tersirat rasa yang begitu nyaman dalam dekapan lelaki jangkug berhoodie hitam itu.
"emang orang kalau udah bucin, dunia serasa milik berdua." Daniel geleng-geleng kepala menatap kepergian Haikal dan Fania.
"bener, kalau udah gini, tai kucing pun jadi rasa coklat," imbuh Lia
"apaan, lo aja kali yang makan tai kucing jadi rasa coklat."
"kan gue bilang seandainya,"
"seandainya bagaimana? Perumpamaan lo jelek banget gak masuk logika. Korelasinya gak ada sama sekali!" Daniel menyenggrit sembari geleng-geleng
"otak lo aja yang gak nyampe," kesal lia
"dih si curut, lo lupa gue anak olimpiade?" balas Daniel bekacak pinggang
"maksud lo gue nggak anak olimpiade gitu?" ujar lia melotot sembari berjinjit menyamaratkan tingginya dengan Daniel
"ya tapikan lebih pintar gue"
"sadar dikit ngab, otak gue tuh lebih cemerlang"
"nih, biar adil kita tanya zega aja deh,"
"oke," ujar lia setuju
"za, lebih pintar mana, aku atau Lia?" tanya daniel dengan mata yang menuntut meminta jwaban
Zega menatap datar keduanya, "Fania"
"lah ... kok?" daniel bahkan tak menyangka nama itu akan keluar dari mulut Zega
"gue duluan, nunggu kalian lama, bisa jadi nanti celoteh mulu ampe besok." ucapnya segera meninggalkan Daniel dan Lia di koridor sekolah.
"kok tuh anak sensi banget sih" heran lia menatap kepergian Zega
"nggak tau ..."
"yaudah yuk balik!"
"yuk"
...
"nanti sore aku jemput,"ujar Haikal sembari membantu Fania membuka helmnya.
Fania tersenyum mengangguk, "habis ini kamu mau kemana?" tanyanya, ia mendongkak menatap Haikal yang memang lebih tinggi darinya.
Haikal tersenyum tipis, kemudian tangan laki-laki itu mulai merapikan anak-anak rambut Fania yang berantakan akibat terpaan angin, "paling di restoran, ada beberapa kerjaan yang harus aku kelarin hari ini," Fania hanya mengangguk mendengar perkataan Haikal.
"udah sana masuk!" ujar Haikal setelah merapikan rambut Fania. "jangan terlalu cape! Kalau ada kerjaan yang berat telfon aku aja, nanti aku pasti datang"
Fania tertawa kecil, "kerjaan berat apa? Orang aku cuma kerja di cafe kecil gini doang," ujarnya geleng-geleng kepala
"ya ... kali aja ka vanes nyuruh kamu angkat besi" Fania semakin tertawa mendengar celotehan Haikal yang semakin aneh. Haikal turut tersenyum saat melihat mata Fania yang menyipit dengan senyum yang sangat menawan, benar-benar sangat indah, Haikal ingin melihat senyum itu setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Ia benar-benar jatuh dalam hanyutan senyum gadis mungil yang berdiri di hadapannya itu. Ingin rasanya Haikal tetap menjaga senyum itu agar tak pernah pudar.
"cantik," ujar Haikal pelan
Fania yang mendengar itupun berhenti tertawa, gadis itu kini menatap Haikal dengan lembut, mata teduh itu, mata yang menjadi kesukaan Haikal. Fania menggulum bibirnya malu, "kalau gitu aku masuk dulu yah, nanti aku kena marah lagi sama ka vanes karna ngobrol mulu di sini." ujar gadis itu sembari memainkan kakinya.
Haikal hanya tersenyum kemudian mengangguk, "yaudah sana samperin ka vanes" ujar Haikal.
Melihat respon dari Haikal, Fania berbalik berjalan masuk ke dalam cafe dengan Haikal yang masih setia menggu Fania hingga gadis itu benar-benar masuk ke dalam cafe tempat dimana fania bekerja. Setelah itu Haikal kemudian kembali menancap gas motornya pergi ke restoran miliknya.
Setelah tiba di restorannya, Haikal mengambil ponselnya kemudian membuat alram di jam 19.30 jam dimana Fania akan pulang nanti, kemudian haikal melanjutkan pekerjaannya mulai dari bertemu dengan para karyawannya, chef dan juga para importir bahan makanan, seperti seafood dan lain-lainnya. Haikal juga tak segan untuk turut andil dalam meladeni para pelanggan dengan menjadi waiters dadakan jika pelanggan membludak, restoran Haikal adalah restoran yang jarang sepi pengunjung, semua makanan di restoran ini murni resep masakan dari bunda Haikal. Haikal sangat bersemangat mengerjakan pekerjaannya hari ini, entah kenapa mood laki-laki itu sangat bagus hari ini tak seperti biasanya yang dingin, ketus dan kaku.
Setelah menyelesaikan pekerjaanya di restoran, Haikal berniat untuk mengunjungi makam bundanya, ini sudah menjadi rutinitas biasa bagi Haikal, laki-laki itu akan selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke makam bundanya meski sedang sibuk, seperti biasa laki-laki itu akan singgah di pinggir jalan hanya untuk membeli buket bunga matahari kesukaan bundanya itu, kemudian melanjutkan perjalannya, setelah tiba di area pemakaman, Haikal berjalan melewati beberapa jajaran batu nisan yang tersusun rapi, tak lama kemudian ia mendapati makam sang bunda yang dipenuhi dengan bunga matahari, laki-laki itu tersenyum, lalu berjongkok di sisi makam sembari meletakkan bunga matahari yang ia bawa tadi ke atas gundukan tanah tersebut.
"maaf bunda, tadi Haikal berantem," ujarnya menggaruk tengkuknya malu, "habisnya mereka jahat banget bunda, Haikal juga heran kenapa mereka bisa setega itu sama Fania," lagi-lagi celoteh laki-laki itu. Tangannya kini beralih mebersihkan daun-daun kering yang ada di atas makan bundanya, "oh iyah, bunda tau gak Fania itu sering di bully sama Lydia anak tiri ayah, entahlah bunda, kayaknya tuh cewe emang titisan setan deh" haikal geleng-geleng membayangkan seberapa kejamnya saudara tirinya itu, jujur saja Haikal tidak pernah menganggapnya saudara, dia hanyalah orang asing yang merusak keluarganya.
Haikal kini membaringkan tubuhnya di sisi makam, dengan kedua tangannya yang ia lettakkan dibawah kepalanya sebagai bantalan dari kepalanya, "Bunda tau gak? Entah kenapa, disaat hidup semakin rumit, kebahagian justru jauh menjadi lebih sederhana." Haikal menatap langit yang sebentar lagi akan gelap, sinar matahari itu sudah mulai meredup meninggalkan jejak-jejak orange di langit. Laki-laki itu tersenyum saat bayangan sosok perempuan yang selalu ia ingin lindungi terlintas dipikirannya, "senyum itu ... yang aku maksud sebagai kebahagian yang sederhana," ucapnya pelan sedikit berbisik sebelum laki-laki itu menutup matanya perlahan yang kemudian terlelap di tengah angin yang perlahan bertiup menerbangkan anak rambutnya.
Akhirnya, Haikal menemukan titik kebahagiannya yang membuat laki-laki itu memiliki semangat untuk hidup, memiliki tujuan, memiliki kesibukan, perasaannya yang dulu dipenuhi kabut hitam kini perlahan melihat cahaya yang berani menembus selimut kabut hitam tersebut. Kini, tujuan laki-laki itu adalah mendapatkan senyum indah Fania setiap hari, yah ... perempuannya itu, Haikal tak akan membiarkan garis bibir gadis itu menekuk kebawah. Tidak peduli seberapa gilanya dunia membuat perempuan itu menderita, Haikal akan selalu lebih gila dalam memberi gadis itu kebahagian, karena gadis itu benar-benar pantas mendapatkan kebahagian dan hari-hari yang lebih baik.
Tak terasa langit kini sudah gelap, dan bulan sudah menampakkan dirinya dengan cahaya yang selalu berhasil memukau siapapun yang melihatnya, namun yang menjadi hal yang aneh disini adalah anak laki-laki yang tak kunjung bangun dari tidurnya, mungkinkah karna efek dari kelelahan atau memang laki-laki itu sangat nyaman tertidur di atas hamparan rumput hijau tersebut? Ya ... Haikal masih tertidur di sisi makam bundanya. Tampaknya laki-laki itu benar-benar kelelahan jika dilihat dari raut wajahnya yang tidur sangat pulas.
DRttttt ....
Ponsel Haikal bergetar, layar ponsel tersebut menunjukkan alram pukul 19.30, namun Haikal sama sekali tak menujukkan gerak-gerik untuk bangun, meta laki-laki itu tertutup rapat, tidurnya yang nyenyak itu sama sekali tidak terusik oleh berisiknya benda pipih yang ada di kantong hoodienya. Entah karna terlalu lelah atau karna memang kurang tidur, Haikal begitu terlelap tidur dibawah sinar bulan yang indah dengan angin yang bertiup dingin menyentuh wajah tenangnya. Tak lama setelah bunyi alram tersebut, handphone Haikal kembali berdering, kali ini layar ponsel tersebut menampilkan nama sang kekasih, Fania. Fania melakukan panggilan hingga beberapa kali namun tak satupun yang dapat menarik Haikal dari pelukan mimpinya, Haikal sama sekali tak mengubris panggilan yang berisik itu. Entah kenapa laki-laki itu sangat terlelap saat tidur di makam sang bunda.
Pada akhirnya tak satupun panggilan yang dijawab oleh Haikal hingga benda pipih tersebut mati karna kehabisan batre.
Disisi lain, Fania sibuk mengotak-atik ponselnya, ia sedari tadi mondar-mandir didepan cafe tem pat ia bekerja, ia gelisah, ia berkali-kali mengigit bibirnya, memainkan kakinya dikarenakan tak satupun panggilannya dijawab oleh Haikal, perempuan itu mengerutkan keningnya dengan mulut yang komat-kamit mengumamkan doa, berdoa akan keselamatan laki-laki itu, ya .... Fania benar-benar gelisah, ia takut terjadi sesuatu diperjalanan saat akan menjemputnya, karna Fania ingat betul janji Haikal yang akan menjemputnya di jam 19.30, dan dia tau bahwa Haikal bukanlah laki-laki yang tidak menepati janjinya. Perempuan itu selalu memperhatikan jalanan sembari terus melakukan panggilan yang kini nomor Haikal tidak dapat dihubungi.
Jika saja perempuan lain yang melakukan panggilan hanya untuk mengoceh maupun marah karna dijemput tidak tepat waktu, Fania justru melakukan panggilan hingga beberapa kali hanya karna khwatir, ia benar-benar memikirkan keadaan laki-laki itu sekarang. Fania memukul kepalanya pelan, ia merutuki kesalahnnya yang harusnya ia meminta no ponsel bi Arum, setidaknya Fania harus punya nomor salah-satu orang rumah Haikal, agar gadis itu tau dimana dan bagaimana kondisi Haikal sekarang.
makasih udah baca🤗
Happy new year juga buat kalian semua, semoga apapun yang menjadi tujuan kalian di tahun ini tercapai yah ...
tetap jaga kesehatan yah teman-teman.
kasih tau kalau ada typo yah!
continued ....
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA!
Teen Fiction°Boleh nggak, pulang duluan tanpa harus Tuhan jemput dulu?° _________________________________________ ~ Banyak orang yang memiliki hidup mengerikan di dunia ini ~ Cape, hampir gila kadang. Tapi mau gimana lagi? Kita lahir bukan karna keinginan kita...
