Happy reading
Dear Dunia
Kau tahu? Pada dasarnya Dunia tidak pandai mendengar, mereka hanya bisa menghakimi.
"sayang, udah selesai belum kayaknya itu nak Haikal baru dateng deh," ujar bunda Talia sedikit berteriak, ia melirik motor yang sudah terparkir di halaman rumahnya dengan seorang laki-laki yang baru saja melepaskan helm-nya.
"iyah bunda ini Fania udah kok," balas Fania dari dalam kamarnya.
"Fania jangan lama-lama sayang, kasihan itu nak haikal udah nunggu," lagi-lagi bunda Talia mengingatkan sembari membuat susu dan bekal untuk Fania nanti.
Fania berlari kecil keluar dari kamarnya, kemudian ia buru-buru memasukkan kotak bekal makannya dan meneguk segelas susu dengan cepat. "Fania pamit yah bunda," ujarnya menyalami tangan bunda Talia.
Fania buru-buru berjalan dengan cepat ke arah pintu depan kemudian membukanya, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok laki-laki tampan dengan senyum yang sangat manis.
"pagi" sapa Haikal, kemudian ia segera memberikan buket bunga Tulip warna-warni yang sudah disembunyikan di balik badannya sejak tadi.
Fania mengerutkan keningnya dengan senyum tipis di bibirnya, "buat aku?" tanyanya memastikan.
Haikal mengangguk mengiyakan, "tadi aku gak sengaja ketemu abang-abang yang jual bunga di jalan, jadi aku beli aja, lumayan duitnya bisa dipake buat beli kopi." jelas Haikal.
"kenapa Tulip?" tanya Fania sembari memandangi bunga pemberian kekasihnya itu.
"itu tadi abangnya yang milih, oh iyah dia kasih tau juga sama makna masing-masing dari bunganya," tutur laki-laki itu dengan semangat
"oh yah? apa coba maknanya?" tanya Fania penasaran
"yang biru artinya rasa tenang dan rasa cinta yang sempurna, yang merah maknanya rasa cinta yang sangat dalam," Haikal berhenti sejenak untuk membaca arti dari bunga selanjutnya dari tulisan di telapak tangannya, yah Haikal sudah menyiapkan catatan itu jika ia lupa arti dari bunga itu nanti. Tindakan Haikal itu pun membuat Fania tertawa kecil, ia menatap laki-lakinya itu penuh dengan tatapan kagum, "nah, kemudian yang merah muda simbolnya harapan bahagia, yang putih artinya kesucian dan kemurnian, terus yang terakhir warna ungu artinya kese__"
cup ... "I love you Haikal Bagaskara" ucap Fania setelah mencium pipi laki-laki di hadapannya itu.
Haikal terdiam, ia menatap Fania dengan tatapan tak menyangka, tindakan Fania barusan adalah suatu hal yang mengejutkan, ya ... Fania baru saja menciumnya, dan sekarang jangan tanya bagaimana perasaan Haikal sekarang, ia bahkan masih terdiam dengan jantung yang berdetak dua kali lipat sejak perempuan di hadapannya itu menciumnya.
Tak lama kemudian bunda Talia datang menghampiri, "lah kok belum pada berangkat ini, nanti telat loh" ujar bunda Talia mengingatkan.
"oh iyah bunda, Fania nitip bunganya yah." Fania memberikan bunga Tulip tadi pada bunda Talia untuk disimpan, sedangkan Haikal masih sibuk memikirkan kejadian barusan.
"hey ... ayo berangkat!" Fania melambaikan tangannya di hadapan Haikal, "are you okay?" tanya Fania memastikan, secara dari tadi Haikal belum mengeluarkan sepatah katapun semenjak Fania menciumnya.
"ah iyah ... ayo berangkat," ujar Haikal kemudian menyalami tangan Bunda Talia berpamitan.
akhirnya kedua sejoli itu berangkat, Bunda Talia yang melihat kepergian anak muda itu tersenyum turut senang akan kebahagian anaknya, ia sangat jarang melihat Fania senyum semanis itu, rasanya senyum itu benar-benar senyum yang tulus, bahagia dan senyum yang penuh dengan rasa syukur.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA!
Teen Fiction°Boleh nggak, pulang duluan tanpa harus Tuhan jemput dulu?° _________________________________________ ~ Banyak orang yang memiliki hidup mengerikan di dunia ini ~ Cape, hampir gila kadang. Tapi mau gimana lagi? Kita lahir bukan karna keinginan kita...
