Terhitung sudah 2 Minggu sejak Nio menyatakan perasaannya dan sudah selama itu pula dirinya membolos sekolah. Patah hati benar-benar membuatnya tak berdaya, mengurung diri di kamar dan menangis hanya itu yang di lakukannya selama ini.
Gorden yang mencegah masuknya cahaya membuat kamar yang di tempati gelap, kamarnya berantakan tak terurus. Suara ketukan dari luar menginterupsi bahwa ada yang ingin masuk.
Pria yang lebih tua dengan stelan jas hitam berkulit tan terlihat garang, sepatu kulit hitamnya yang mahal menyenggol botol alkohol yang berserakan di lantai.
Matanya melirik orang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, dagu yang memiliki jenggot tipis memperlihatkan dirinya sudah masa matang untuk berkeluarga.
Perlahan berjalan mendekat dan menemukan foto dua orang remaja yang saling merangkul. Lelaki imut berambut perak dengan wajah yang belepotan dengan warna-warna cat bersama Nio yang baju bahkan wajahnya ikut kena cat juga.
Masa remaja yang begitu indah rupanya, sekarang pria garang ini mengerti kondisi Nio. Tak heran bisa menghabiskan begitu banyak alkohol dalam 2 Minggu.
"Aku di sini, bangun sekarang juga." Suara yang berat membuat mata yang terpejam mulai tersadar dari tidurnya.
[Lanaka Wednar Onzie, sepupu Nio yang lebih tua]
"Segera mandi, kau bau alkohol."
"Kenapa kau di sini?" Nio duduk dengan penampilan berantakan dan wajah acak-acakan, matanya benar-benar bengkak.
"Orang tua mu dalam perjalanan pulang dan mendapat panggilan dari Dennir Seunan. Mereka meminta ku melihat kau masih hidup atau tidak."
"Sepertinya aku sudah tidak hidup." Lihatlah keputusasaan sepupunya ini? Benar-benar lemah dalam masalah cinta.
"Cepat mandi dan ayo keluar." Pria itu meninggalkan Nio sendiri.
Menatap layar ponsel dengan membaca biodata seorang lelaki imut bersurai perak, data yang di kirim orang yang di percayanya. Secangkir kopi hitam terletak di atas meja untuk sesekali di seduh menikmati pahitnya.
Matanya membaca dengan tatapan dingin tak tertarik. Menurutnya tidak ada yang spesial darinya kecuali fakta kalau ternyata anak haram, tidak dapat di pungkiri wajahnya memang menarik perhatian.
"Dia dari keluarga Ferrance yang terkenal di dunia real estate itu, hanya sebatas itu."
Derap langkah kaki terdengar lemah menuruni tangga, penampilan sepupunya yang lebih muda jauh lebih baik dari yang tadi. Meski masih nampak lesu dan tidak bersemangat tapi sekarang lebih terlihat hidup.
"Kenapa Kakak di sini?" Nio duduk di kursi sebrang dengan tatapan sayu. Oh ayolah, mata pandanya sangat mengganggu penampilannya.
"Kembalilah sekolah. Sudah 2 Minggu kau membolos."
"Aku juga ingin sekolah. Bahkan aku merindukan Saka, tapi aku tidak sanggup melihatnya." Senyum getir tak luput dari perhatian sepupu yang lebih tua dengan menatapnya dingin.
Menghela nafas "Dasar anak muda."
"Gagal dalam hal cinta itu sudah biasa. Seperti kau patah hati untuk pertama kalinya saja."
"Ini memang pertama kalinya." Wajahnya semakin lesu. Keringat dingin mulai membasahi leher belakang sepupu yang lebih tua.
"Ehem! Bagaimanapun kau masih seorang pelajar jadi kau harus kembali sekolah."
"Kakak, apa aku jelek?" Menatap Nio dari atas sampai bawah, Nio termasuk jajaran orang tampan. Latar belakang keluarganya saja di atas Saka.
"Siapa yang bersamanya?"
YOU ARE READING
Diary Book
Teen FictionSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
