Sejak pertemanan malam itu, Nio pindah sekolah di mana Saka berada. Kemanapun Saka pergi akan selalu Nio ikuti, bahkan tak jarang saat akhir pekan Nio akan selalu berkunjung ke rumahnya.
Denka juga menjalin pertemanan dengan Nio karena rasa utang Budi, jika saja Nio tidak ada adik kecilnya pasti akan kesepian.
"Nio." Panggilan dari Denka sejujurnya agak mengganggu bagi yang di panggil, menurutnya hanya Saka yang boleh memanggilnya begitu. Tapi mengingat orang di sebelahnya ini akan menjadi Kakaknya juga Nio pikir tak apa.
"Ada apa Kak?"
"Ku mohon, jadilah teman Saka seterusnya. Dia hanya punya kau seorang sebagai temannya."
"Aku akan selalu bersamanya."
"Terimakasih. Dia sangat nyaman saat bersama mu."
"Tentu."
"Kakak, Nio, apa kalian menunggu lama?" Saka menghampiri dua orang yang duduk bersebelahan di atas rumput taman.
"Tidak, kau harus lebih berhati-hati dan perhatikan kemana kaki mu. Kau jadi terpelesetkan." Denka mendekat dan mengelus surainya.
"Kakak aku ini sudah tambah besar jadi jangan terus mengomeli ku. Lagipula aku tidak terluka, aku, kan laki-laki kuat." Saka mengangkat kedua lengannya .
"Apa?!" Nio tiba-tiba teriak membuat Kakak beradik menatapnya "Tunggu! Bukannya Saka itu anak perempuan?!"
"Ada apa Nio?"-Saka.
"Saka!" Nio mencengkram lengan Saka "Bukannya kau anak perempuan?!"
"Hei! Jangan menyentuh adik ku begitu, nanti dia terluka!" Denka mendorong Nio dan berdiri di antara mereka.
"Eh? Maaf Saka, apa kau terluka?"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja Kakak." Saka menyentuh punggung Denka menenangkan amarahnya.
"Syukurlah kalau begitu. Kau ini kenapa? Adik ku itu laki-laki." Tatapnya tajam pada Nio yang masih syok.
"Dia bukan perempuan tapi laki-laki?" Nio masih menolak kenyataan.
"Iya Nio, aku laki-laki kenapa kau sangat terkejut?"
"Karena kau terlalu sangat cantik untuk jadi laki-laki. Apa kau yakin dengan kelamin mu?"
"Perhatikan kalimat mu, jangan lancang sama adik ku. Adik ku itu laki-laki asli, apa kau berniat menikah dengan adik ku karena terpesona? Banyak yang bilang adik ku secantik boneka, bahkan tidak sedikit yang mengira dia ini perempuan."
"Sekarang aku harus bagaimana? Apa aku masih bisa menikah dengan Saka? Dia laki-laki, jadi sulit mendapat keturunan. Kalau memaksa tidak akan ada keturunan keluarga Onzie lagi."
"Maaf atas keributan yang ku buat. Saka cantik sekali jadi aku tidak mengira dia ini laki-laki."
Saka menggeleng cepat, berdiri di depannya dan menggenggam kedua tangannya "Kitakan teman, jadi tidak apa-apa."
"Bahkan dari jarak sedekat ini tidak akan ada yang mengira kau ini laki-laki tahu."
Dari kejadian hari itu Nio berusaha meluruskan pikiran dan perasaan, TAPI! Nyatanya tidak semudah yang dia kira. Dia sudah benar-benar jatuh cinta pada makhluk laki-laki cantik itu, setiap saat membuat Nio gundah.
Pada saat itu masih Nio ingat sekali setelah bermain dengan Saka, ia pulang ke rumah dan wajahnya gusar.
"Nio, apa kau bertengkar dengan Saka?" Tanya Ayahnya hati-hati.
"Apa?! Kau bertengkar dengan menantu ku?" Ibu mendekat segera dari dapur.
"Bahkan Ibu menganggap Saka sebagai menantunya setelah aku menunjukkan foto bersama kami, tapi kalau tidak di luruskan kesalahpahaman tidak akan pernah selesai."
YOU ARE READING
Diary Book
Ficção AdolescenteSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
