_Aku dan kamu, selamanya bersama_
Tulisan di secarik kertas yang tergantung di sebuah benang merah, sepertinya sudah sangat lama sampai tinta tampaknya mulai memudar di atas kertas tapi pengurusnya sangat profesional membersihkan tempat ini sampai tulisan 9 tahun yang lalu tidak berdebu.
Pohon harapan yang di percayai saat masa kanak-kanak, bermakna apapun tulisan yang di gantung menjadi semangat dan mencapainya. Nio berdiri menatap pohon harapan itu tanpa mengalihkan pandangan.
"Apa kau Nio?" Wanita ini adalah biarawati di gereja sebelah tempat ini. Terkadang jika senggang dia akan datang melihat anak-anak makan siang untuk membantu membagikan makanannya.
"Suster, lama tidak berjumpa. Apa kabar?"
"Aku baik, bagaimana dengan mu?"
"Aku juga baik."
"Kenapa kau selalu berbohong?! Padahal sudah besar. Lihat wajah mu yang di tutupi plester ini, kau berkelahi lagi?"
"Sedikit." Jawabnya kikuk menggaruk pipi.
"Kenapa sendiri? Saka mana?"
"Dia... Sedang sibuk." Jawabnya dengan senyum getir.
"Aku yakin mereka pasti bertengkar. Mereka berdua tidak pandai membohongi orang."
"Wajar saja jika terkadang merenggang. Hubungan dengan manusia itu rumit." Celotehnya dengan mengangkat box yang berisi buku, segera Nio mengambil alih.
"Ingin di taruh mana?"
"Letakkan di dekat jendela sana."
"Suster, apakah salah jika kita marah dengan seseorang karena dia mempunyai hubungan dengan orang lain?"
"Apa? Hahahahaha!!" Suster yang tertawa membuat Nio bingung.
"Kenapa tertawa?"
"Aku heran, apa kau ini hanya badan mu saja yang besar?"
"Apa lagi itu?"
"Pertanyaan mu membuat ku ingat saat kalian berdua masih kecil. Apa kau ingat saat itu..."
9 tahun yang lalu.
"Tuan muda, apakah Anda ingin langsung pulang ke rumah?" Seorang supir tengah mengemudi bertanya pada anak kecil yang duduk di kursi belakang dengan memakai seragam.
"Hm... Entah, aku ingin cepat pulang tapi tidak ingin pulang sekarang."
"Kenapa lagi? Susah sekali mengerti apa yang dia mau." Supir yang tidak terlalu tua ini terlihat gusar memikirkan anak bosnya.
Di perjalanan mobil di hentikan oleh lampu merah, mobil-mobil berjajar rapi menunggu dengan tertib. Beberapa anak seusia Nio turun ke jalanan membagikan brosur serta bunga mawar pink.
"Kenapa mereka memberikan bunga mawar pink ke orang-orang?"
"Tuan muda, mereka tidak memberikannya tapi menjual. Sepertinya mereka dari panti asuhan yang menjual bunga mawar pink untuk hidup mereka."
"Kenapa harus mawar pink?"
"Karena bunga mawar pink memiliki makna harapan masa depan yang penuh cinta. Siapapun yang membeli bunga dari anak-anak itu si pembeli berharap masa depan anak-anak itu di penuhi cinta oleh keluarga baru ataupun tempat tinggalnya."
"Memangnya kemana orang tua mereka? Pasti anak buangan, salahkan saja orang tua kalian yang tidak bertanggungjawab. Kenapa harus mengemis cinta dari orang lain?" Tatapan sinis di layangkan dari manik Nio.
Suara pintu mobil di ketuk dari luar, sang supir menurunkan jendela kaca mobil melihat anak perempuan yang membawa beberapa tangkai bunga di pelukannya.
YOU ARE READING
Diary Book
Teen FictionSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
