Part 39

32 2 0
                                        


Hening, semuanya begitu tenang dalam ruangan yang terdapat seorang lelaki imut yang tak sadarkan diri. Ujung jarinya tergerak, matanya bergetar dan terbuka. Kamar yang di tempati agak gelap dengan penerangan yang hanya dari celah jendela.

Saat mencoba menggerakkan tangan kirinya terasa kebas dan lemas, ada rasa nyeri hingga menembus ke jantungnya, membuatnya meringis sakit. Dia tidak lagi menggerakkannya dan membiarkannya tetap di tempatnya, kurang tahu di mana tempat ini.

Dengan bantuan topangan tangan kanannya terduduk, badannya terasa pegal dan kaku. Seketika pusing memenuhi kepalanya, ini sebab kehilangan darah membuatnya darah rendah. Mengingat kembali apa yang terjadi terakhir kali, Grayson datang menolong dan memarahinya.

Kenapa juga Grayson menolongnya? Itu pertolongan yang tidak tulus untuk menyelamatkan seseorang. Bisa jadi karena Arfie yang seorang calon Raja membuat Grayson takut sehingga harus menuruti perkataannya, mengingat perkataan Grayson membuat dadanya semakin sesak.

"Apa bahkan hidup ku juga di renggut? Sialan, aku tidak punya kekuatan." Di tatapnya telapak tangan yang pucat.

Berdiri dari tempat tidur membuat pandangannya menggelap "Ugh!" Kembali duduk di tepi ranjang.

"Kepala ku pusing." Matanya memejam berharap pusing mereda dengan sendirinya, sesaat pandangannya normal dia berjalan ke arah pintu yang dia pikir adalah jalan keluar.

Knop pintu yang di putar terbuka, ini tidak di kunci. Saka keluar dari tempat itu, dari lantai 3 dia bisa melihat Chandelier yang begitu megah tergantung di langit-langit. Menepi di dekat pembatas menatap ke bawah, dari tempatnya tidak ada apapun di bawah sana.

"Saka."

"Aah?!" Begitu terkejut mendapati orang yang tiba-tiba di belakangnya, Hazel menatapnya datar.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku, aku tidak tahu di mana jadi aku keluar untuk melihat."

Hazel menatap tangan kiri Saka yang terbalut perban "Itu kamar Tuan Grayson, kembalilah ke sana dan istirahat lagi."

Saka menggaruk tengkuk "Ah, itu-" ada yang berbeda, tidak di sana, kalung yang di berikan Arfie.

"Di mana kalung ku?" Bukannya sayang pada kalung itu hanya saja kalung itu tidak bisa di lepas, menurutnya bagus sekali kalung terkutuk itu tidak di tempatnya.

"Tuan Grayson melepasnya."

"Tuan Grayson?"

Hazel menggelengkan kepala "Kalung itu di desain menggunakan kode sandi, tidak mudah melepasnya."

"Ah, jadi begitu."

"Jika kau mau, kau bisa kembali ke kelompok mu dan bersama yang lain." Hazel mengerti orang di depannya sedang depresi, menurutnya meninggalkannya sendiri bukan ide yang bagus.

"Bolehkah aku?"

"Itu keputusan mu." Hazel pergi meninggalkannya, bukan bagaimana, hanya saja Hazel bukan pendengar baik dan dia tipe yang tidak ingin terlibat dengan seseorang lebih jauh. Sudut pandangnya saat ini adalah kesembuhan mentalnya.

"Aku..." Melihat ke lantai bawah, tinggi sekali, karena akrofobia ringan Saka cepat-cepat menjauh dari tempat.

Hanya berjalan tanpa arah di sekitar kediaman utama Grayson, orang-orang bajingan yang melecehkannya tidak mungkin di sini. Saka juga bingung untuk sekarang, haruskah tetap bertahan saat dia bahkan tidak bisa memilih hidup dan matinya sendiri? Sekarang ini membuatnya semakin sadar betapa lemahnya dia.

Tanpa sadar kakinya berjalan ke danau yang menjadi saksi bisu percobaan bunuh dirinya di kehidupan kedua, kalau yang pertama di atas tebing. Dia hanya berjalan menyusuri pinggiran danaunya saja seorang diri, jika di perhatikan lagi di danau ini ada ikan yang di pelihara.

Diary BookWhere stories live. Discover now