Part 35

32 4 0
                                        

Pandangannya kabur dan samar, kepalanya sakit, semua terasa sakit sekali. Tenaga rasanya benar-benar habis, tubuhnya kosong tanpa tenaga. Memfokuskan pandangan dan di lihatnya Davis menyeka kakinya.

"Davis." Panggilnya dengan suara yang lemah dan serak tak bertenaga.

"Ah?! Kau sudah bangun? Bagaimana keadaan mu sekarang?! Kenapa kau bisa seperti ini?"

"Ukh... Benar-benar deh!" Sangat kesal.

"Aku haus." Dalam hati Saka lebih baik memendamnya dalam-dalam untuk saat ini.

"Ah, ini minumlah. Duduk dulu." Davis menahan punggungnya setengah duduk, air yang melewati tenggorokan sungguh membuatnya lega.

"Terima kasih."

"Ada sesuatu di pantat ku, apa itu?"

"Apa yang kau lakukan di pantat ku?" Tanya Saka dengan memicingkan mata.

"Ah~ pantat mu berdarah, aku memberikan salep untuk lukanya. Aku sudah memberitahu kalau kau sakit ke Tuan Hazel, kau bisa istirahat sampai sembuh." Davis tersenyum dengan tulus dan penuh simpati.

"Ini di mana?"

"Tentu saja ini kamar ku. Aku tidak tahu di mana kamar mu."

"Aku akan kembali sekarang." Saka mencoba bangkit tapi di tahan Davis.

"Tidak, kau harus di sini. Di sini lebih aman." Peringatnya segera.

"Kalau aku tidur di sini kau akan tidur di mana memangnya? Karena inilah aku tidak terlalu suka orang baik."

"Diamlah, aku akan kembali sekarang."

"Kau harus di sini." Davis mencegah tubuhnya duduk dengan wajah menyeramkan, tapi karena ruangan tidak terlalu terang itu samar.

"Apa itu? Apa tadi benar Davis?"

"Tempat ini paling jauh dari mansion. Kau pasti aman, percayalah pada ku." Jelasnya lagi dengan senyuman manis.

"Bukan begitu. Kau akan tidur di mana memangnya?" Saka mengerutkan alis.

"Hm? Tentu saja dengan mu." Jawabnya senang.

"Apa?"

Akhirnya mereka tidur di ranjang yang sama, dengan tanpa malu Davis tidur sambil telanjang dada dan memakai boxer. Ranjang yang sempit dan tubuh Davis yang besar membuat Saka tidak nyaman, terkadang tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Davis membuat sensasi merinding tidak biasa terasa.

Ingin sekali matanya tertidur tapi karena tidak nyaman sulit untuk tidur, meringkukkan tubuhnya memberi jarak di antara mereka.

"Kalau begini bagaimana aku bisa istirahat. Haa..."

Butuh waktu lama untuk Saka tidur lelap, mata Davis terbuka dengan matanya yang tajam.

"Kasihan sekali kau di jual orang yang kau cintai. Aku tahu apa yang kau rasakan, aku tidak bisa membantu terus menerus karena posisi ku juga sulit. Jika kau memiliki dendam, bertahanlah untuk membalasnya."

Davis kembali menutup mata dan lebih mendekat pada Saka, terkejut merasa ada sesuatu yang hangat dan besar menyentuhnya Saka membuka mata.

"Haa... Aku bisa gila."

Setelah malam yang panjang, Saka menghabiskan waktu selama 4 hari untuk sembuh. Untunglah di tempat yang keras dan kejam ini masih ada yang peduli dengannya, selama masa pemulihan Davis selalu memperhatikan kondisinya.

Sebelum berangkat bekerja dia menyempatkan membasuh tubuh dan membuat sarapan untuknya, saat pulang bekerja tidak terkecuali. Davis sangat baik dan banyak membantu, meski tipe yang banyak bicara dan berteriak tidak dapat di pungkiri Davis-lah yang selalu ada untuknya.

Diary BookWhere stories live. Discover now