Akhir-akhir ini setiap hari sepulang sekolah Nio selalu meluangkan waktu sejenak ke panti asuhan Peduli Cinta Kasih. Tentu saja tujuan dan harapannya adalah Saka.
Sebelumnya sesaat akan pulang dari panti asuhan...
"Hei! Harusnya lebih terperinci lagi. Dasar menyebalkan!"
"Apa yang ku harapkan dari para anak buangan ini?"
"Ayo kita pergi sekarang."
"Baik Tuan muda."
"Sialan, sebenarnya dia siapa?"
"Tunggu sebentar Tuan muda."
"Apalagi?"
"Saya tidak tahu kenapa Anda ingin bertemu dengannya, apakah saya boleh tahu alasannya?" Suster Diana bertanya karena memang ingin tahu.
"Aku ingin berterima kasih."
"Berterima kasih?"
"Karena dia membuat ku..."
"...jatuh cinta." Lanjutnya dalam hati.
"... Membuat ku rugi."
"Apa?" Semua orang di sana terkejut, mungkin karena banyak uang dia tipe orang yang suka merasakan rugi.
"Jadi begitu, mari saya antar."
Di luar Suster Diana mengantar sampai parkiran, mereka hanya diam dan tidak lagi berbicara.
"Tuan muda." Panggil Suster saat Nio sudah masuk ke dalam mobil.
"Sebelumnya saya berbohong pada Anda. Anak yang Anda cari saya kenal dia."
"Beraninya kau membohongi Tuan muda! Apa kau tidak tahu beliau dari keluarga Onzie?!" Teriak pelayan wanita di samping Nio.
"Saya tahu saya bersalah. Anak itu juga tidak biasa, dia terkadang datang tapi tidak pernah tahu kapan. Dia tidak pernah bergaul dengan anak-anak yang lain, kemarin dia tiba-tiba mencegat anak-anak yang akan menjual bunga dan membelinya. Anda sudah mendengarnya tadi."
"Kemarin dia terlihat sangat akrab dengan yang lainnya." Supir yang bicara.
"Saya juga kurang mengerti, anak itu hanya datang untuk mencari saya. Dia tidak betul-betul berinteraksi dengan yang lain, bahkan saat bersama saya dia tidak banyak bicara."
"Kenapa dia mencari mu kalau begitu?"
"Peluk." Jawabnya lirih.
"Kau bilang apa?"
"Dia meminta saya memeluknya kemudian dia tidur, setelah itu dia akan memberi banyak uang dan pulang."
Dari penjelasan Suster, Nio bertekad untuk menemukan Saka apapun yang terjadi. Sudah 10 hari yang lalu sejak pertemuan mereka dan sudah selama itu Nio menunggu Saka. Di panti asuhan Nio akan meluangkan waktu 2 jam tanpa kurang maupun lebih, hanya duduk menunggu kabar.
Kalau Saka tidak datang Nio akan pulang, mengingat kepribadian Nio yang sejak kecil tidak pernah kekurangan kasih sayang, perhatian, dan uang membuatnya sangat terganggu saat perhatiannya kurang di hargai.
Pada setiap detik waktu berjalan Nio menanamkan rasa sabar terdalam pertama kali selama hidup dan benci yang benar-benar mencuat meski sudah di kubur.
Helaan nafas panjang keluar dari celah bibirnya "Ayo, kita kembali."
"Baik, Tuan muda." Jawab supir dan pelayannya yang setia mengikuti.
"Lagi-lagi gagal."
Sampainya di rumah kedua orang tuanya seperti biasa begitu harmonis, keluarga hangat. Nio tidak benar-benar mendengar apa perkataan orang tua di depannya sebab lelah banyak kalimat masuk ke dalam telinga.
YOU ARE READING
Diary Book
Teen FictionSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
