Nio menggendong Saka ke gereja menemui Suster Diana, sebelum itu Saka menjelaskan apa yang terjadi. Sebetulnya Saka bertujuan untuk bertemu Suster Diana dan berdoa kepada Tuhan, siapa yang menyangka anak-anak dari panti asuhan yang setahu Saka paling tua menghadangnya.
Anak-anak itu, terlebih anak bergigi ompong dan hidungnya di plester itu sejak pertama kali bertemu dia agak aneh. Dia teman pertama Saka di luar rumah, awalnya dia berlaku sangat baik. Entah sejak kapan dia berubah, dia terus meminta uang dan mengancam.
Mengancam jika Saka tidak memberinya uang dan tidak patuh mereka tidak akan berteman lagi, tentu itu membuat anak yang tidak pandai bergaul sepertinya kalang kabut dan mau tidak mau menuruti keinginannya.
Suatu ketika mereka bilang akan pergi ke sekolah yang lumayan jauh karena ada orang yang berbaik hati membantu biaya sekolah mereka. Saka takut, takut kesepian lagi seperti dulu. Mereka tetap pergi meninggalkannya setelah memeras dan menindasnya habis-habisan.
Selalu berpikir kenapa mereka tetap pergi meninggalkannya, kenapa tidak bersekolah di tempat yang sama? Jika masalah uang... Saka yakin bisa membantu meski hanya satu orang saja, setidaknya jangan membuatnya sendirian.
Waktu demi waktu semua kembali seperti dulu, Saka hanya memiliki Denka dan Yirin di rumah. Di luar hanya Suster Diana, semuanya berubah saat perjumpaannya dengan Nio.
Saka melihat Nio orang yang sangat baik, berbeda dengan mereka yang meninggalkannya. Saka merasa nyaman, akhirnya ada orang yang mau berteman dengannya.
Tapi, anak-anak itu kembali. Mereka tahu tentang Nio, mengancam kalau Saka berani melawan mereka akan membuat Nio sama sepertinya. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Saka menjadi bank berjalan pribadi mereka lagi, anak bergigi ompong itu semakin parah kelakuannya pada Saka dari waktu ke waktu. Saka tidak ingin memberitahu Suster perihal ini, takut mereka akan berlaku lebih buruk lagi.
Kembali ke saat ini, untunglah Suster masih tetap di gereja. Hanya Suster sendiri di sana yang berdiri di dekat altar, melihat kondisi dua anak yang babak belur membuat Suster syok sampai menjatuhkan patena ke lantai.
"Astaga, apa yang terjadi?!" Suster mendekat segera.
"Suster, tolong Saka." Nafas Nio tampaknya begitu berat.
Suster Diana membawa mereka ke ruang ganti yang pada jam-jam ini sepi. Alih-alih ke rumah sakit Saka memilih tetap di sini dan di obati mandiri, meminta Suster untuk merahasiakan kondisinya.
Nafas Saka pendek, tubuhnya teraba hangat, dia mulai demam. Saka yang kondisinya lebih parah dari Nio di obati lebih dulu oleh Suster. Marah, Nio sangat marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Saka.
Sangat buruk badan kecil mulus bak porselen itu, banyak luka yang baru mengering. Matanya sangat dingin menatap ekspresi yang menahan sakit di badannya, dadanya sangat sakit dan panas.
Bersumpah tidak akan pernah melupakan wajah mereka selamanya, akan selalu Nio ingat.
"Ah, kasanya habis. Suster akan mengambilnya sebentar." Suster Diana keluar segera.
Hening memenuhi ruang ganti, Saka terlihat melirik Nio tapi tidak berani memanggil. Mereka hanya diam saja untuk waktu yang lama, ini canggung. Biasanya mereka tidak seperti ini saat bersama.
"Saka, aku minta maaf." Suara yang pelan penuh ketulusan dari Nio.
"Ti-tidak perlu meminta maaf Nio, ini masalah ku jadi harusnya aku yang minta maaf."
"Saka, aku salah. Bisakah kita berteman lagi." Nio duduk dengan berderai air mata, tidak Saka sangka Nio bisa menangis seperti ini, seperti anak kecil.
"Kenapa menangis?!"-Saka.
YOU ARE READING
Diary Book
Novela JuvenilSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
