Ruangan yang luas dengan interior pohon emas, dan pohon asli di budidaya di ruangan ini. Udara sejuk bukan dari AC melainkan dari banyaknya tumbuhan yang di tanam di tempat ini.
Ada berbagai minuman keras tertata rapi di rak, ada sofa di tengah ruangan dan akuarium besar sebagai dinding di belakang sofa. Lampu berwarna ke emasan menjadi lampu hiasan di ruang ini.
"Duduklah di sofa sana." Perintah Soraya sementara dirinya mengambil sesuatu di rak alkohol.
Saka duduk dengan tenang menunggu perintah selanjutnya, menatap para ikan-ikan berenang bebas di akuarium di samping kanannya.
"Kalian terkurung di sana pasti menyesakkan sekali ya. Kalian sama seperti ku, terkurung hanya untuk jadi mainan kesenangan. Tetaplah kuat, kita harus bisa keluar dari tempat ini." Saka menatap para ikan dengan matanya yang sayu.
"Seperti diri mu ya." Soraya berkata begitu dekat sampai Saka terkejut.
"Astaga! Nona, harusnya Anda mengatakan sesuatu."
"Habisnya lucu sekali melihat mu menatap para ikan dengan wajah yang begitu sedih. Kenapa? Seperti diri mu sekarang ini, kan?" Katanya enteng dengan menuangkan alkohol ke gelas. Saka tidak membalas karena memang begitu faktanya, selain itu Nona di depannya ini tipe yang harus di waspadai setelah Ezequiel.
Mengulurkan segelas alkohol "Ini, minumlah." Saka tidak menerimanya dan hanya menatap bingung.
"Saya tidak minum alkohol Nona, Nona saja yang minum. Saya akan menjaga Anda." Saka mulai merasa firasat buruk dari orang di depannya.
"Kau membuat ku sedih. Apa kau tahu minuman ini adalah Tequila Ley .925 Diamante yang harganya mahal? Aku menyuguhkan mu ini, jadi minumlah."
"Ujian apa lagi ini astaga..."
"Nona, saya sungguh tidak pantas meminumnya. Saya saat ini sedang mengawal Tuan Grayson, itu melanggar aturan sebagai pengawal."
"Hoo~ Kakak memiliki pengawal yang begitu loyal lagi ternyata. Kenapa Kakak di kelilingi begitu banyak orang yang setia? Akan ku uji sedikit lagi."
"Kau tidak sopan sekali ya? Aku rugi banyak meski hanya satu botol yang ku buka tahu. Kau harus meminumnya." Soraya mencengkram rahang Saka memaksanya meminumnya dari botolnya langsung.
"Ummhh! Hnn!" Saka mencoba melawan namun aneh sekali Soraya memang lebih kecil dan tinggi darinya tapi tenaganya tak kalah kuat.
"Apa-apaan? Dia juga kuat." Saka bingung dan panik, mendapat balasan senyuman meremehkan dari wanita ini.
"Maaf ya, keturunan Alexavier mendapat pelatihan juga." Soraya menutup lubang hidung Saka membuatnya menelan alkohol yang mahal ini sendirian.
"Uhuk! Uhuk!" Saka tersedak alkohol dan dadanya terasa panas.
Meletakkan botol dengan tersenyum puas "Nah~ kau sudah meminumnya, bagaimana? Enak, kan. Sudah ku bilang tidak apa-apa." Soraya bersandar pada bahu Saka.
Menghirup aroma Saka "Aku suka orang yang bau alkoholnya kuat." Soraya menyamankan posisinya di bahu Saka namun tidak nyaman karena Saka terus bergerak.
Soraya menatapnya dingin dan menyeringai "Hei~ kau tidak tahan alkohol ya?" Wajah Saka memerah dan terengah-engah.
Soraya tertawa dan duduk di pangkuannya "Kau lucu sekali hm?" Berbisik di telinganya, memeluk dan menjilat daun telinga Saka sesekali menggigit juga.
"No-nona, tolong turun." Pinta Saka tak nyaman.
"Sudah mulai bekerja ya? Baguslah."
Soraya semakin memeluknya dan membelai dadanya, memperhatikan Saka yang begitu gelisah "Tidak apa-apa, Kakak bersama mu." Melepas mantel berbulunya menampilkan bahunya yang mulus.
YOU ARE READING
Diary Book
Teen FictionSaka Swastor Ferrance, anak lelaki bersurai perak yang sangat cantik seperti anak perempuan. Sayangnya jalan hidup yang di tempuh tidak seindah dirinya. Dia bisa saja cantik, tapi nasibnya terlalu malang. Sudah pernah merasakan mati dan hidup lagi...
