Perjalanan kurang lebih 2 jam cukup menguras tenaga bagi Raya, biasanya setiap perjalanan jauh Raya selalu menyiapkan buku untuk menemaninya sepanjang perjalanan. Sayangnya ia malah menyimpan buku itu di kopernya, jadilah ia hanya bisa memandangi luar jendela. Sedangkan Regan di samping kanannya tertidur pulas selama perjalanan, laki-laki itu bangun hanya untuk makan, lalu tidur kembali, dan bangun lagi saat pesawat hendak mendarat. Kalimat pertama yang Regan ucapkan saat bangun tidur adalah "Ray, gue kepikiran anak-anak di desa." Raya sempat tercengang. Laki-laki itu berkata memikirkan anggotanya setelah tertidur pulas selama perjalanan.
"Ray, seger bet muka lo, kaga tidur lo?" tanya Alfi berdiri di samping Raya menunggu bagasi mereka. Raya baru sadar wajah ketiga teman laki-lakinya itu tampak sayu khas bangun tidur. Pantas saja selama berjalan dari masuk terminal hingga pengambilan bagasi mereka tidak ada yang berbicara. Proses pengumpulan nyawa ternyata.
"Gue gak bisa tidur di perjalanan."
"Kenapa?"
"Gatau gak bisa tidur aja, kecuali emang capek banget."
"Ohh, diliat-liat cowok samping lo tadi pules banget tidur."
"FYI, dia cuma bangun buat makan doang." Regan yang mendengar hanya melirik gadis di samping kirinya tanpa sepatah kata.
"Parah, kalo gue gak akan ninggalin anggota gue tidur sih, Ray."
Seolah tidak terima, Hamin menyenggol bahu kiri Alfi dengan bahunya. "Bullshit! Yang iya lu lebih pules dari gua."
"Ah, lo kan cowok. Gak perlu ditemenin lah."
"Lo liat kan, Ray? Hati-hati sama buaya darat."
Raya tertawa menanggapi Hamin hingga ia sadar kopernya sudah ada di sampingnya. "Uhh, Regan tidak bersuara, tapi ngambilin koper Raya. Mau juga dong bang ambilin koper gue."
"Lo kan cowok, bisa ambil sendiri."
"Uhh, gua berasa dibela Regan anjay."
"Min, jangan bikin gue geli, tolong." Sahut Regan dengan datarnya.
Raya dan Regan berjalan beriringan menuju pintu kedatangan, kedua temannya yang lain berjalan lebih dulu sembari membahas internal organisasinya. Tadinya Regan hendak menghubungi teman-temannya di desa, menanyakan kabar mereka dan apa kegiatan yang sedang berlangsung. Namun sepertinya lebih baik dirinya dan Raya sampai penginapan dulu, setelah melihat Raya yang tampak lelah karena terjaga selama perjalanan. Gadis itu juga tidak banyak bicara sejak tadi.
Dilihatnya seorang perempuan rambut sebahu menggunakan pakaian khas organisasi sembari membawa kertas yang bertuliskan nama wilayah. Alfi mengatakan bahwa itu adalah Liaison Officer atau pemandu mereka selama kegiatan di Bali.
"Halo Selamat datang, Kak. Aku Elma, LO kalian selama di Bali." Sapanya ramah. Gadis itu membawa selendang kain khas Bali untuk menyambut Alfi dan kawan-kawan.
"Halo Elma, Aku Alfi, Korwil. Ini Hamin, Regan Sama Raya, sisanya nyusul belakangan."
"Kita langsung ke penginapan ya, pembagian kamarnya nanti aku arahin di sana, biar kalian istirahat dulu." Ucap Elma setelah bertegur sapa satu sama lain dan memberikan selendang selamat datang. Ia mengarahkan tamunya menuju mobil.
"Siap! Kita ngikut aja apa kata Elma."
"Kalian pernah ke Bali ga nih sebelumya? Apa baru pertama kali."
"Gue- eh Aku sama Hamin sih pertama kali, Elma, gatau kalo duo sejoli di belakang."
"Aku pertama sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
