Dulu ia pernah mengagumi Malik sebelum dekat dengan Regan. Kini Malik sudah menjadi miliknya, tapi takdir seolah tidak setuju dengan pilihannya. Bagaimana bisa ia telah menyakiti laki-laki baik yang sudah menemaninya di masa sulitnya. Raya jatuh cinta pada Malik karena wawasan laki-laki itu, ia jatuh cinta karena cara Malik berbicara padanya, ia jatuh cinta karena Malik sangat mudah bergaul dengan semua orang, ia jatuh cinta karena Malik selalu mendukungnya dalam hal apapun. Percakapan tadi pagi membuat dadanya sesak. Rasa bersalahnya pada Malik sangat besar, ia sudah mengkhianati laki-laki yang tulus mencintainya.
*Flashback On*
Lorong itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya.Raya menghentikan langkahnya. Tangan Malik masih melingkar di bahunya, hangat, protektif—tapi entah kenapa justru membuat dadanya terasa sesak.
Nada suara Malik lembut. Bukan marah. Bukan membentak. Justru itu yang bikin pertanyaan itu terasa berat. Raya menatap wajah laki-laki di depannya. "Kenapa?" tanyanya pelan.
Malik menghela napas. "Aku gak suka cara dia liat kamu."
Raya terdiam.
"Aku mungkin gak tau semua yang terjadi waktu di Bali," lanjut Malik, "tapi aku gak bodoh, Ray. Aku bisa ngerasain ada yang beda."
Deg.
Jantung Raya berdegup lebih cepat.
"Kak...aku sama Regan gak ada apa-apa."
"Aku gak bilang ada apa-apa." Malik tersenyum tipis. "Tapi perasaan orang kadang keliatan dari hal-hal kecil."
Raya tahu Malik bukan tipe yang asal menuduh. Selama ini, setiap ada masalah, mereka selalu membahasnya sampai selesai. Sekarang malah Raya yang tidak kuasa untuk membahasnya.
"Terus maksud kamu jaga jarak itu gimana?" tanya Raya akhirnya.
"Ya secukupnya aja. Gak usah terlalu sering bareng. Gak usah terlalu deket." Malik menatapnya dalam. "Aku cuma pengen kamu tetep jadi kamu yang milih aku."
Kalimat terakhir itu membuat Raya tercekat.
"Kak," suara Raya lebih pelan sekarang, "kalo aku bilang aku gak bisa?"
Ekspresi Malik berubah tipis. Bukan marah. Tapi jelas tidak sepenuhnya nyaman.
"Kamu gak bisa buat jaga jarak dari Regan?"
"Bukan." Raya cepat menggeleng.
Malik menatapnya cukup lama. "Kamu susah ya jauh dari dia?" Pertanyaan itu lebih tajam dari yang sebelumnya.
Raya menarik napas dalam-dalam. Ia selalu jadi orang yang tegas soal hubungan. Ia juga yang mengatakan hal itu dengan lancang pada Regan, tapi lihatlah, kini ia mengingkari dirinya.
"Aku cuma gak mau hubungan kita dibangun dengan larangan."
Malik terdiam.
"Aku–bisa jaga batas. Aku tau diri. Aku tau aku punya kamu. Aku sama Regan, cuma sebatas ketua dan sekretaris." Raya menatapnya lurus. "Tapi kalo kamu minta aku menjauh karena kamu takut... itu beda."
"Aku gak takut," Malik membalas pelan. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
"Aku cuma gak mau kehilangan kamu," ujar Malik akhirnya jujur. Raya menghela napas pelan, lalu meraih tangan Malik dari pundaknya untuk ia genggam.
"Kamu gak akan kehilangan aku cuma karena aku deket sama Regan."
"Tapi?"
"Tapi kamu bisa kehilangan aku kalo kamu gak percaya sama aku."
Malik menunduk, lalu tersenyum kecil. "Kamu makin jago ngomong ya."
Raya terkekeh tipis. "Belajar dari kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
