Raya mengemas barangnya, ia tidak bisa lagi melanjutkan acara ini, walaupun memang belum memesan tiket pulang, setidaknya ia harus keluar dulu dari lingkungan ini. Masa bodoh dengan Regan, laki-laki itu harusnya bisa bertanggung jawab atas masalah yang ia buat. Gemini tidak bisa berbuat banyak, ia takut ikut campur permasalahan wilayah orang karena ini jelas menyangkut kongres dan nama kampus yang mereka pegang. Gadis itu hanya berusaha menenangkan Raya, dan membantu sebisanya. Ia juga tidak mencoba menghentikan Raya karena jika posisinya berbalik ia akan melakukan hal yang sama.
Pintu diketuk, melihat Raya masih sibuk mengemas barangnya, Gemini berinisiatif untuk membuka pintu. Hal yang pertama Gemini lihat adalah wajah Regan dengan penuh kepanikan. "Kamu boleh ngobrol dulu, aku tunggu di taman. Jangan lama-lama, gak ada orang di penginapan." ucapnya lalu meninggalkan kamarnya. Gemini tahu, bagaimanapun juga dua sejoli itu harus bicara. Ia berharap Regan bisa mengambil tindakan tegas untuk masalah yang dialami temannya.
"Ray, lo mau kemana? kita bicarain dulu."
Raya menepis tangan Regan yang mencoba menghentikannya. "Gue udah muak sama acara ini. Gue mau pulang."
"Ray, jangan dulu. Tenang."
"Tenang? Setelah gue dilecehin lo suruh gue tenang? Dia ngajak gue tidur sama dia, Regan. Dan ini yang lo lakuin sebagai ketua gue dan suami gue? Se-gak peduli itukah lo sama gue?"
"Jangan ambil kesimpulan sendiri, Raya. Kita bicara dulu."
"Apa? Lo mau bujuk gue stay di sini demi reputasi lo?"
"Raisa please, gue gak seburuk itu. Bisa gak lo dengerin gue dulu!" Raya terdiam. Ini pertama kalinya Regan memanggil nama aslinya dengan sedikit membentak membuat Raya tidak berani membantah laki-laki itu, tersirat perasaan emosi di sorot matanya.
Regan menuntun Raya untuk duduk di tepi ranjang, diikuti dirinya tepat di samping gadis itu.
"Gue minta maaf udah bikin lo di situasi ini, gue akui gue salah nurutin kata mereka buat minum, gue punya alasan kenapa gue harus lakuin itu yang ternyata itu jebakan. Gue inget cuma sampe lo tuntun gue ke kamar, selebihnya gue bener-bener gak inget. Jadi semisal gue ngelakuin sesuatu ke lo gue minta maaf. Termasuk soal pagi tadi juga, gue gak bermaksud, gue bener-bener marah karna gue gak inget apa-apa, gue takut nyakitin lo malem itu. Dan soal Egra, udah gue obrolin sama Alfi tadi, emang ada unsur politik organisasi di dalamnya, dan ya kita yang jadi sasaran. Alfi udah peringatin gue di awal, gue lalai karna gak mikir ke sana. Lo tau sendiri gue juga baru gabung di organisasi eksternal ini, yang ternyata malah jadi sasaran empuk." Regan diam sejenak melihat Raya yang masih menangis sembari menunduk.
"Ray, gue marah sama diri gue yang gak bisa nonjok dia setelah apa yang dia perbuat ke lo. Gue lebih marah sama diri gue yang gak bisa lindungin lo. Gue merasa gak berguna buat lo, Ray. Gue bisa aja walk out bawa lo pulang sekarang, tapi di sisi lain gue juga gak bisa egois, karna kita di sini bawa nama wilayah, bukan cuma kampus. Masalah ini juga harus diberesin, gue gak mau dia berlagak biasa aja sedangkan lo di sini jadi korban. Kesannya gue jahat banget kalo nahan lo di sini, tapi saat ini cuma itu yang harus dilakuin, Ray."
Raya menarik nafas panjang, menghapus sisa air mata di wajahnya, ia terkejut saat menatap Regan. Mimik wajahnya penuh dengan rasa bersalahnya, Raya bisa merasakan hal itu.
"Gue gak ngerti, politik organisasi? Sasaran empuk? Dan kenapa harus kita."
"Permainan politik selalu ada di organisasi eksternal gini, Ray. Jangankan eksternal, di fakultas kita aja kental politiknya, lo tau itu. Nah Alfi emang udah lama terjun di kongres ini, dan di kongres kali ini dia mau diusung jadi koordinator pusat. Walaupun diusung, gak semua wilayah setuju, di sisi lain ada yang nyiapin kandidat tapi dengan permainan bawah tanah. Alfi udah kasih tau gue dari sebelum kongres tentang kubu sebelah, eh ternyata gue malah sekamar sama mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
