19. Hari Pelepasan

348 7 6
                                        

Sepertinya Raya tidak bisa menghindari tugas-tugasnya sebelum keberangkatannya ke Bali. Seminggu yang lalu Regan dan Raya disibukkan dengan tugasnya masing-masing, mempersiapkan kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan himpunannya, juga kegiatan mereka untuk kongres nasional nanti. Keduanya hampir menghabiskan waktu di sekretariat himpunan dan pulang ketika hari sudah menjelang malam. Semenjak kepulangan Ibur Regan, Raya kembali ke kamar semulanya. Ia lebih nyaman tidur sendiri dibandingkan harus melihat Regan tidur di sebelahnya, Raya belum terbiasa.

Sama halnya pagi ini sepasang suami istri yang sudah stand by di kampus, lebih pagi dari jam yang sudah ditentukan. Alasannya tentu saja agar tidak ada yang mengetahui jika mereka berangkat bersama, Regan terpaksa mengatakan pada sang kekasih bahwa dirinya harus mengambil pesanan plakat terlebih dahulu dan berkata bahwa ia tidak bisa menjemputnya. Itu benar, Regan sempat mampir ke toko plakat namun bersama Raya.

Sesampai di kampus Raya menyibukkan dirinya dengan surat-surat yang kiranya Sersha perlukan di sana, tidak lupa pouch yang berisikan beberapa stample, staples, dan pulpen tinta. Semuanya Raya siapkan agar Sersha tidak kesulitan di sana. Sedangkan Regan, ia tidak tahu kemana cowok itu pergi setelah menyimpan plakat di sekretariat.

"Kak Raya? Pagi banget datang."

"Eh Bani, iya nih gue lupa siapin keperluan Sersha."

"Oh iya, Kak, SD yang bakalan kita penyuluhan nanti minta surat izin buat arsip karena kepseknya lagi di luar kota."

"Udah bilang Sersha?"

"Udah, Kak, tapi belum dibalas, infonya baru kemarin malem sih."

"Penyuluhan ke SD hari ketiga kan? Bawa aja nih printer, ntar bikin surat di sana."

"Tapi, Kak, TTD kahimnya gimana?"

"Pake TTD wakahim aja."

"Oke, kak. Btw, kak, Kakak persiapan buat besok udah siap? aku liat belakangan ini Kak Raya sibuk bantu pengmas."

Raya sudah selesai memasukkan perlengkapan Sersha ke dalam totebag, ia berdiri menghadap adik tinggaknya. "Gue gak tau sih spesifiknya yang harus disiapin apa, tapi yang gue rasa penting udah kok. Lo humas kan? Jangan lupa nanti amplop surat di Sersha dibawa pas mau lapor RT. Ada 2 tujuan, Kades sama RT tempat kalian tinggal."

"Siap, Kak."

"Lo datang pagi emang udah sarapan?"

"Belum sih, Kak, makan di jalan gampang."

Raya merogoh tasnya, mengeluarkan sebungkus roti sobek, memberikannya pada laki-laki itu. "Nih, buat ganjel perut, bagi sama yang lain." Roti tersebut disambut Bani dengan sungkan.

"Eh? Kakak gimana?"

"Gue beli emang buat kalian kok, gue bisa makan habis pelepasan."

"Oke makasih ya, Kak. Aku bawa nih."

Adik tingkatnya keluar ruang sekretariat himpunan bertepatan dengan Regan dan Farhan masuk. Farhan mengamati adik tingkatnya keluar ruangan dengan tangan penuh barang, namun yang menjadi perhatian Farhan bukan barang, melainkan sebungkus roti sobek. Laki-laki itu sontak menatap Raya yang ia yakini roti tersebut berasal dari Raya, kebetulan perutnya sudah meronta juga, ia langsung menyenggol bahu Raya dengan bahunya. "Bani doang dikasih? Buat gue ada gak?"

"Tuh di plastik ambil aja." Tanpa ba-bi-bu laki-laki itu berlari ke arah yang Raya tunjuk. Sedangkan Regan mengambil posisi duduk di sofa seraya memainkan ponselya.

"Ray, jujur gue kecewa sih lo gak ikut." Seru laki-laki yang mulutnya dipenuhi oleh makanan.

Raya menyengit, menggulung lengan kemejanya hingga batas siku. "iya lo kecewa gak ada makanan gue kan? Emang dasar ada perlunya doang."

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang