Raya menyusuri koridor dengan kedua tangan yang penuh dengan setumpuk kertas, melirik ke kanan dan ke kiri berharap orang yang ia cari ada di salah satu kelas. Namun nihil, sampai ujung koridor ia tidak menemukannya. Ponsel di saku celana jeansnya berdering sejak tadi, akhirnya ia menepi untuk menggabungkan kedua tumpukan kertas di tangannya menjadi satu agar ia bisa mengambil ponselnya.
"Halo? Gue lagi cari Pak Rahmat."
Dari arah berlawanan terlihat seolang laki-laki menghampirinya, tanpa berkata ia mengambil alih setumpuk kertas di tangan Raya. Mengikuti kemana gadis itu pergi.
"Hah di dekanat? Sumpah tadi beliau yang nyuruh gue datengin ke kelas."
"Ya gue juga perlu jalan kali, ya udah lo tunggu di dekanat gue ke sana." Raya menutup panggilan telponnya lalu menatap laki-laki di sampingnya.
"Kebetulan. Temenin gue ke Pak Rahmat, please."
"Ya emang itu tujuan gue ke sini. Tuh bapak moodnya lagi jelek, takutnya lo kena semprot lagi."
"Mood gue juga udah jelek gara-gara dia. Gue nunggu dia ngajar sejam, trus disuruh datengin ke kelas, gue samper orangnya malah ke dekanat, maksudnya apa coba."
"Kayak gak tau aja lo."
Raya keluar dari ruang dekanat dengan wajah lesunya, negosiasi kali ini tidak membuahkan hasil karena wakil dekan itu menolak permintaannya. Regan yang berjarak beberapa langkah di belakangnya masih membawa setumpuk proposal mengikuti Raya hingga tepat di depan gedung dekanat ia menyejajarkan langkahnya.
"Udah ntar gue lobby ulang. Beli Thai Tea mau gak?" tanyanya membuat Raya menoleh dan mengangguk.
"Mau." tanpa berkata lagi Regan mengambil langkah terlebih dahulu, yang secara otomatis diikuti Raya di sebelahnya.
—
"Gak balik lo?" Regan terkejut karena hal pertama yang ia lihat saat membuka pintu sekre adalah Raya dengan peptop di pahanya. Pasalnya ini sudah jam 6 sore, ia pikir semua temannya sudah pulang, mengingat hanya kelasnya yang di jam terakhir.
"Dikit lagi, si Ehsan minta proposal sponsor secepatnya, yang dealer motor kemaren batal." ucap Raya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lah? Trus gantinya apa?"
"Dealer juga, tapi mobil. Mereka minta stand buat promosi mobil listriknya."
"Mobilnya mereka bawa ke stand?"
"Kayaknya iya, kecil kok mobilnya."
"Udah jam 6, Ray, besok lagi aja."
"Tanggung, si Ehsan besok pagi mau langsung ke dealer."
"Oh ya udah buru, gue tungguin." ucapnya lalu mengambil duduk di sofa tepat di samping Raya.
"Gak usah, duluan aja"
"Gue anter lo balik. Udah sore banget ini."
—
Hening.
Dari meninggalkan kampus sampai seperempat jalan mereka tidak ada yang membuka suara, kecuali radio mobil Regan yang memutar lagu pop terbaru. Lagipula Regan sudah tahu rumahnya karena sebelumnya anggota himpunan pernah rapat dadakan di rumah Raya. Hingga akhirnya Raya sadar Regan mengambil jalan lurus yang seharusnya belok ke arah rumah Raya. "Lo berniat pulangin gue gak sih ini? Kok gak belok?"
"Makan dulu. Lo belum makan kan dari tadi."
"Makan jam 11. Makanya tadi siang masih kenyang." belanya.
"Ya udah sekarang makan dulu, biar sampe rumah langsung istirahat."
"Mau makan kemana emang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
Fiksi PenggemarRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
