Raya menggeliat sebelum membuka kedua matanya perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat bukan pancaran sinar matahari pagi, melainkan wajah laki-laki yang belakangan ini membuat dirinya harus meningkatkan kesabaran dua kali lipat. Termasuk pagi ini, hampir saja Raya melayangkan pukulan jika tidak mengingat dimana dirinya berada saat ini. Siapa yang tidak terkejut, pertama kali membuka mata langsung disuguhi senyuman Regan yang menghiasi wajahnya sembari menatap Raya. Demi apapun Raya merinding sekarang.
"Hampir aja lo gue pukul." ucapnya lalu menarik selimut hingga menutupi ujung kepalanya.
"Selamat pagi Raisa, gimana tidur lo nyenyak?" Sapanya sambil berusaha menurunkan selimut yang menutupi wajah perempuan itu.
Raya tentu tidak akan membiarkan laki-laki itu berulah sepagi ini. Ia bertahan pada posisinya agar tidak melihat wajah Regan, Raya benar-benar tidak sanggup jika paginya harus dimulai dengan tingkah suaminya. "Lo bisa diem gak? Jangan bikin gue emosi pagi-pagi!"
"Orang mah diucapin selamat pagi buat naikin mood pagi, lah elo malah emosi."
"Beda kisah kalo yang ngucapin Lee Min Ho, langsung cerah hari gue setahun ke depan."
"Ckck, yang cakep belum menjamin, Ray."
Raya membuka celah sedikit. "Emang lo menjamin?"
"Jelas, makanya buru bangun, bentar lagi sunrise."
"Ya terus?"
"Katanya mau ke pantai?"
"Yang bener aja, kita forum jam 10 emang sempet?"
"Kenapa nggak? Orang belakang villa ini langsung pantai." Tanpa diduga Raya langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Kali ini giliran Regan yang terkejut, ia lupa pakaian Raya kali ini cukup terbuka.
"Serius lo??"
Regan beranjak menetralisir desiran darah di tubuhnya. Bahaya sekali suasana pagi ini ditambah Raya terbangun di ranjang yang sama dengan pakaian tipis itu. "Iya buru, tuh pake jaket Teh Sherin."
Raya mendengus ketika melihat jaket Rajut yang diberikan Regan, jaketnya yang basah itu akal-akalan Sherin aja ternyata. Tanpa pikir panjang Raya langsung mengenakannya, ia menyisir rambut dengan jari-jarinya lalu mengikatnya asal. Ia sempat melirik Regan, mata laki-laki itu memperhatikannya sejak tadi. Menghapus rasa canggung ia berdehem mengalihkan perhatian laki-laki itu.
"Lo tunggu di luar aja, gue ke kamar mandi dulu."
"Oke, di belakang ya, kita lewat belakang soalnya."
Setelah Regan meninggalkan kamar mereka Raya bersiap membersihkan dirinya. Acara menginap kali ini benar-benar tanpa rencana, Raya bahkan tidak memakai polesan selain lipstik untuk wajahnya. Biarlah lagipula yang melihatnya hanya Regan, dan matahari belum terbit, ia tidak khawatir soal itu.
Sepertinya Raya terlalu kesal pada Regan tadi malam hingga ia tidak menyadari deburan ombak yang ternyata sangat kencang. Ia melangkah menuju Regan yang sudah menunggunya di ujung tangga. Laki-laki itu mengenakan kaos putih dengan balutan kemeja putih dan celana sebatas paha. Entah kemejanya yang kebesaran atau laki-laki itu yang terlalu kecil, tapi bagi Raya tubuh Regan jelas terlihat kecil jika mengenakan pakaian milik Bara yang tubuhnya penuh dengan otot.
"Buru, mataharinya mau terbit nunggu lo kelamaan."
"Dih?"
Regan membawa Raya ke tepi pantai, menunggu matahari muncul perlahan, tanpa suara keduanya menikmati dinginnya air laut yang menyapu telapak kaki mereka. Raya memejamkan matanya, membiarkan hembusan angin menyentuh kulitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
