Raya terbangun dengan penuh keringat di tubuhnya, ia merasa suhu ruang lebih panas dari biasanya. Gadis itu membuka matanya perlahan, namun dikejutkan dengan pemandangan yang ia lihat pertama kali. Sontak ia memastikan pakaiannya yang untungnya masih lengkap membuatnya sedikit lega. Raya beranjak, mengambil paksa bantal yang masih digunakan sesuai fungsinya, lalu melempar bantal tersebut hingga menghasilkan suara mengaduh terkejut.
"Bangun gak lo!"
Laki-laki itu mulai membuka matanya perlahan sembari memijat pelipisnya yang masih sedikit pusing. Perlahan pula ia mengubah posisinya menjadi duduk.
"Sakit banget kepala gue?"
"Masih sempet ngeluh lo? Sumpah lo gila!" Raya menjambak rambutnya frustrasi.
"Kok lo di sini? Tunggu, ini kamar gue kan?" Regan menatap gadis yang sedang dipenuhi amarah dengan bingung.
"Udah sadar? Sadar juga gak sama apa yang lo lakuin tadi malem?"
"Kenapa? Lo gak gue apa-apain kan Ray?"
"Maksud lo apa? Maksud lo apa mabuk-mabukan di Bali? Merasa keren lo sebagai anak Ibu Kota ke Bali harus mabuk-mabukan? Lupa lo ke Bali ngapain? Mana tanggung jawab lo Regan? Katanya mau jagain gue, bisa emang orang mabuk jagain gue?"
Regan menyadari kesalahannya, ia beranjak turun dari ranjang mendekati Raya, namun sayangnya gadis itu menjauh dengan cepat. "Ray, gue bisa jelasin."
"Jelasin lo keren waktu mabuk? Mau gue kasih tau juga 'keren' lo ini ke anak hima? Ke Ortu lo?"
"Ray, jelasin dulu gue ngapain semalem."
"Diem, Sekarang lo pikirin gimana caranya gue keluar dari sini."
"Tapi Ray gue-"
"Bahas nanti Regan, gue harus keluar!" Tegas Raya. Regan mengacak-acak rambutnya sembari jalan ke arah pintu. Laki-laki itu keluar memastikan tidak ada orang di luar sana.
"Buru, gak ada siapa-siapa."
Tanpa bersuara lagi Raya meninggalkan kamar itu, kembali ke kamarnya sembari mengendap-endap. Ia berharap Gemini masih tidur, namun sayang, saat membuka pintu kamarnya Gemini sudah menunggunya di depan pintu.
"Gem-" Panggilnya pelan, ia berjalan melewati Gemini dengan lesu lalu mendudukkan dirinya di ranjang.
"Kamu tidur dimana semalem? Hp kamu dikasur." Gemini berdiri dengan sedikit bersandar di kabinet televisi bersebrangan dengan Raya.
"Gue-" Raya sungguh bingung alasan apa yang harus ia jelaskan pada Gemini. Gadis itu membuka ponselnya memperlihatkannya pada Raya. Raya jelas berdiri karena terkejut, merebut ponsel tersebut dari tangan Gemini.
"Gem ini, dapet dari mana?"
"Kadepku, dia dikirim temen sekamarnya yang ikut nongkrong di kamar Egra tadi malem. Ini kamu kan? Mukanya emang ketutupan tangan tapi diliat dari bajunya udah jelas kamu."
Raya menghela nafas, mengembalikan ponsel tersebut lalu kembali duduk. "Gue tadi malem ditelpon Putra kalo Regan mabuk, dia minta gue ke lantai 3, karna gue panik gue langsung ke sana. Bener aja si Regan tepar di sofa lobby, Putra minta gue bantuin Regan karna dia mau beresin kerusuhan temen-temennya sebelum ketahuan panitia, jadi gue bawa Regan ke kamarnya."
"Terus kenapa kamu jadi tidur di sana, kamu gak mabuk kan? Atau Regan berbuat sesuatu sama kamu?"
Raya terdiam, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini, dan sejauh apa foto tersebut tersebar. "Ray, kalo kamu diem bikin aku salah paham."
Raya menatap Gemini, lalu menggelengkan kepalanya. "Dia gak berbuat sesuatu, gue cuma bantuin dia, dia minta gue temenin dia bentar, bodohnya gue malah ketiduran."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
