Jam menunjukkan pukul sebelas malam, sedangkan sepasang suami istri ini masih sibuk mengemas pakaian. Lebih tepatnya pakaian Regan, karena Raya tentu saja sudah selesai berkemas dua hari sebelum keberangkatan -hanya tersisa satu kantong kosmetik yang masih ia pakai, dan akan ia kemas terakhir- Sebagai imbalan karena Raya meninggalkannya siang tadi, Regan meminta Raya untuk membantunya mengemas pakaian.
Sepulang dari kampus tadi, Malik mengajak Raya untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Raya meninggalkannya seminggu. Regan sempat mencibir pada Raya, "biasanya juga seminggu gak nemuin lo." Raya menanggapinya dengan menginjak kaki laki-laki itu. Pada akhirnya Regan pulang sendiri setelah acara makan siang bertiga. Bagi Regan ini sia-sia, jika tahu ujungnya ia akan ditinggalkan Raya, ia memilih tidak ikut makan bersama tadi. Alhasil sepanjang perjalanan pulang Regan hanya merutuki kebodohannya.
Sebenarnya Raya juga tidak enak hati meninggalkan Regan sendiri dan pergi bersama Malik, di sisi lain ia juga tidak punya alasan untuk menolak ajakan sang kekasih. Tak apalah, lagipula dirinya pernah membantu Regan berbohong pada sang Bunda, jadi anggap saja impas. Walaupun saat pulang tadi Regan menjadi agak cuek. Ya, setiap hari juga gitu sih, namun kali ini hawa yang Raya rasakan juga beda. Untungnya Raya membelikannya Batagor kuah, anggap saja permintaan maaf.
"Lo kenapa sih? Muka lo gak enak banget perasaan dari gue datang."
Regan menaikkan alisnya sebelah, melirik Raya di samping kanannya. "Muka gue emang gini perasaan?"
"Iya gue tau, tapi beda aja gitu. Lo gak lagi cemburu kan?" cicit Raya, namun mengundang gelak tawa Regan.
"Ngapain juga gue cemburu, Ray, Ray.. Kocak lo." jawabnya sedikit sewot.
"Yeuh, santai aja kali gak usah nyolot gitu lo." protesnya, lalu ia kembali melipat kemeja Regan.
"Tapi, Ray. Gue penasaran."
"Apaan? Gak penting gak gue jawab." sahutnya jengkel.
"Penting ini."
"Apaan?"
"Gimana rasanya makan sama pacar ditemenin suami, Ray?" tanya Regan melayangkan tatapan meledek. Sedangkan gadis itu meliriknya tajam.
"Sumpah gak penting." jawabnya ketus, lalu kembali dengan kegiatannya. Tidak menghiraukan laki-laki yang hanya menggulung-gulung baju saja sembari tertawa.
"Sumpah, Ray, emang lo sekaku itu sama Malik?"
Raya melepas pekerjaannya, menatap Regan kesal. "Lo gak ngaca? Lo lebih kaku dari gue anjir, lo sok-sokan jadi cowok cuek sok cool padahal aslinya lo nyebelin banget lo tau ga?"
Regan mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Raya, Dari matanya, Regan sudah tahu jika gadis itu sedang kesal.
"Gue senyebelin apa sih di mata lo, Ray?"
"Dibilang gue gak bakal jawab yang gak penting."
"Penting, ini soal presprektif lo ke gue, lo sering bilang gue nyebelin, tapi gue gak tau bangian mananya yang bikin lo kesel."
"Ya terus kalo gue bilang ke lo, lo mau ubah pandangan gue ke lo gitu?"
Regan mengangkat bahunya sebelah. "Tergantung, kalo emang gue salah ya gue bakal minta maaf, pandangan lo ke gue gimana itu hak lo."
Raya menatap laki-laki di sampingnya, ia tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, namun ia juga tidak enak karena sudah membuat laki-laki itu tidak nyaman dengan tingkahnya. "Gan, sorry kalo gelagat gue bikin lo gak nyaman, lupain aja." Ia memutus kontak mata dengan Regan lalu menutup koper laki-laki itu.
"Nih udah selesai, bendera hima masukin tas lo aja, biar gak ribet ambilnya."
Regan bergeming, tidak membahas lebih lanjut topik itu. Sebenarnya bisa saja ia memaksa Raya untuk mengatakan alasannya. Namun Regan takut setelahnya mereka menjadi canggung, ia juga tidak ingin memperkeruh suasana, mengingat dirinya akan bersama Raya satu minggu ke depan. Setelah gadis itu meninggalkan kamarnya, Regan merebahkan tubuhnya, ia mengingat tingkah lakunya selama dirinya menjadi ketua himpunan, memikirkan ucapan dan perbuatannya yang kemungkinan membuat anggotanya tidak nyaman tanpa ia sadari. Jika Raya selaku sekretarisnya tidak menyukainya, tidak menutup kemungkinan anggota yang lain juga tidak menyukainya, karena bagaimanapun, ia lebih banyak berurusan dengan Raya dibandingkan dengan anggotanya yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
Fiksi PenggemarRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
