32. Dua Orang Berbeda

339 9 25
                                        

Setelah menjalankan masa tugas selama satu minggu penuh, sang ketua dan sekretaris himpunannya kini telah mendarat di Kotanya untuk kembali memulai rutinitas seperti biasa. Regan berjalan dengan dua koper di samping kanan-kirinya, laki-laki itu menolak saat Raya hendak membawa kopernya sendiri. Karena tidak ada tenaga untuk berdebat, Raya membiarkannya lalu mengikuti laki-laki itu keluar dari pintu kedatangan. Dari jarak lima ratus meter terlihat seorang laki-laki menghampirinya. Raya tersenyum kecil, laki-laki yang ia rindukan tiba-tiba menjemputnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Regan di sebelahnya menyengit heran, untung saja kali ini mereka menolak jemputan orang tua Regan dan memilih menggunakan taksi.

"Kok gak bilang lo dijemput?" Tanya Regan menautkan kedua alisnya.

"Jujur gue gak tau kalo dia jemput."

Raya tersenyum menyambut kekasihnya saat mereka sudah berhadapan. Sedangkan laki-laki itu membalasnya dengan senyuman kecil. "Hai, kok Kakak gak bilang mau jemput aku?"

"Emang gak boleh jemput pacar sendiri?" tanyanya dengan nada yang tidak biasanya. Raya tidak enak hati, ia menduga Malik mengetahui apa yang terjadi selama kongres. Terlihat jelas dari wajah pria itu yang tidak melirik Regan sejak tadi.

"Ya–boleh lah, Kak. Tumben aja gak ngabarin aku dulu."

"Bro, gue cuma jemput Raya, lo bisa sendiri kan?" Alih-alih menjawab Raya, ia berbicara pada Regan lalu meangambil Alih koper Raya dari tangan Regan.

"Aman aman, Bang. Gue bisa pake taksi."

Tanpa menjawab lagi, Malik menggenggam tangan Raya, menuntunnya meninggalkan Regan sendiri. Raya bingung, sembari berjalan ia menoleh ke arah Regan memastikan laki-laki itu karena tidak sempat berpamitan. Regan yang paham hanya berucap tanpa suara, yang Raya baca adalah "telfon gue kalo ada apa-apa." Setelah itu Raya kembali melangkah tanpa membuka suara. Kali ini ia yakin jika Malik sedang marah, buktinya Malik tidak berbicara sepatah katapun hingga mereka di dalam mobil.

"Kak, kamu gak kangen aku?" tanya Raya hati-hati. Malik menoleh dan tersenyum kecil.

"Kangen, tiap hari aku kangen kamu."

"Tapi kok aku gak dipeluk?" Malik terkekeh, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya, sebentar saja, ia juga yang melepaskan terlebih dahulu. Raya semakin yakin jika Malik tahu foto itu, karna biasanya laki-laki itu yang selalu minta pelukan terlebih dahulu saat mereka bertemu, dan berakhir dengan Raya yang memohon untuk melepas pelukannya yang terlalu lama.

"Kak, kamu kenapa? Lagi ada masalah?"

"Iya."

"Masalah apa. Kenapa gak cerita?"

Malik menatap lekat gadis itu. "Kamu yang kenapa gak cerita?" Pertanyaan tersebut membuat jantung Raya berdebar kencang.

"Maksudnya?"

"Jangan pura-pura gak tau gitu, Raya. Aku tau semuanya, bahkan saat kejadian itu. Aku pikir kamu bakal bilang, tapi ternyata setelah aku tanya kabar kamu di sana, kamu bilang baik-baik aja, di sana seru, kamu banyak punya temen baru. Selama kamu di Bali kita chat-an gak ada satupun kamu bahas kejadian itu. Wajar kan kalo sekarang aku marah, Ray?"

Raya memejamkan matanya sejenak, mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Karena ia yakin ini akan menjadi perdebatan panjang. "Maaf kak, aku gak cerita karena aku gak mau bawa masalah kongres ke sini. Masalah di sana biar cukup selesai di sana aja, aku gak mau makin rumit. Aku abaikan permintaan kamu buat cerita apapun karna aku gak mau kamu khawatir."

"Kamu tau koneksi aku di sana bukan cuma Alfi kan, Ray? Menurut kamu gimana perasaan aku setelah tau semuanya dari orang lain, tiap malam berusaha bales chat kamu seolah-olah aku gak tau apa-apa, padahal aku berharap kamu cerita ke aku."

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang