23. Conflicted

412 7 7
                                        

Disclaimer! Part ini lumayan panjang
Happy Reading!!

****

Pembukaan kongres diawali dengan seminar nasional yang mengangkat isu-isu terkini di negeri ini. Sesi ini juga bisa disebut awal mula ajang 'angkat almamater' dimana mereka berdiskusi, berpendapat, hingga berargumentasi mengatas namakan almamater, siapa yang aktif berpendapat, ia lah pemegang vokal satu minggu ke depan. Pemegang vokal biasanya berasal dari kampus bergengsi, dengan almamater yang mereka kenakan, mereka berisi keras untuk mempertahankan ego mereka menjadi pemain vokal. Anggota organisasi biasanya pintar berpolitik, apalagi peserta di aula yang cukup besar ini didominasi oleh ketua organisasi, hanya beberapa orang yang bukan ketua namun masih memegang jabatan fungsional organisasi. Baru seminar nasional saja persaingannya sudah sesengit ini bisa dipastikan ketika masuk ke inti acara akan lebih panas lagi.

Raya sudah menguap beberapa kali, menurutnya pembahasannya terlalu berat, dan ia sama sekali tidak tertarik dengan isu-isu politik. Terlihat Reganpun sama sepertinya, ia hanya menyimak tanpa bersuara, biasanya jika ini adalah forum himpunan mulut laki-laki itu gatal jika tidak bersuara, bahkan Raya sempat ingin membeli lakban untuk menutup mulut Regan selama rapat. Ya, untung saja Raya tidak mengikuti intuitive thought-nya.

"Kok lo gak bersuara sih? Biasanya anti banget lo gak berargumen." Sindir Raya.

"Di forum besar gini gak bisa asal berargumen, Ray. Harus disimak dulu baik-baik."

"Lo baru menemukan jati diri lo yang baru kah? nyimak dulu sebelum berargumen?" Regan melirik gadis di samping kirinya sang sedang tertawa sarkas.

"Lo pikir selama ini gue asal berargumen aja gitu?"

"Lah, bukannya iya? Lo liat cowok gendut yang pake almet biru laut? Nah itu gambaran lo di rapat hima." Laki-laki itu melirik sekilas orang yang dimaksud Raya sembari membatin "semenyebalkan ini kah gue? perasaan ngga deh". Raya di sebelahnya masih tertawa.

"Itu parah banget, Ray. Gue cape liat dia ngomong dari tadi."

"Sama, gue juga cape denger lo ngomel di rapat hima."

"Kok lo jadi nyebelin sih, Ray?"

"Gabut gue, dan lo satu-satunya orang yang bisa gue gangguin biar gak ngantuk."

"Ada kopi di belakang. Ambil gih."

"Lo nyuruh gue?"

"Nyuruh Ehsan. Ya elo lah. Barangkali mau kopi, gue nitip satu. Ya anggap aja-"

"Gak usah dilanjut. Gak usah manfaatin status di situasi seperti ini ya, Pak." Ucapnya ketus lalu beranjak meninggalkan Regan.

Gadis itu berjalan ke arah dimana coffee break disediakan oleh panitia, ada dua panitia yang berjaga di stand coffee break menawarkan diri untuk membuatkan mintuman, namun Raya menolak ia ingin membuatnya sendiri. Raya mengambil dua gelas plastik, menuangkan gula dan kopi bubuk secukupnya, menyeduhnya dengan air panas hingga mengaduk kedua kopi tersebut.

"Wah, tampak enak kopi bikinanmu, Ray."

Raya tersentak dengan kopi di kedua tangannya saat ia berbalik badan. Laki-laki yang cukup mengganggunya kemarin kini mucul lagi di hadapannya. Sebenarnya saat berangkat menuju aula tadi mereka sempat bertemu. Laki-laki itu menegur Raya dengan khasnya seperti kemarin, dan Raya hanya merespon seadanya. Sapaan itu hanya Raya respon dengan senyuman kaku.

"Bagi lah aku satu."

"Sorry, Bang, ini punya Regan."

"Halah, si Regan itu suruh bikin sendiri dia. Kau ini anggotanya bukan babunya, Ray."

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang