33. Sindiran

270 6 13
                                        

Setelah satu minggu tidak bertemu teman sejawatnya, kini ketiga gadis itu berkumpul kembali dengan sorak penuh seisi ruangan sekretariat. Seorang laki-laki yang memangku gitar di atas sofa hanya memperhatikannya sesekali tertawa kecil, begitukah cara para gadis bertemu kembali setelah satu minggu? Bagaimana jika mereka terpisah satu bulan, sepertinya akan ada pesta meriah untuk penyambutan.

"Eh sumpah ini bakal lucu banget kita pake sehima." Seru Aura yang diangguki Sersha di sampingnya.

"Iya kan, kayak orang lain bakal tau kalo kita hima mabis kalo liat gelang itu."

"Kok lo gak beli asbak Bali sih, Ray?" tanya laki-laki itu akhirnya turut serta dalam pembicaraan ketiga gadis yang duduk melingkar di lantai itu.

Raya mengernyit, telunjuknya mengarah ke dinding di samping laki-laki itu, sebuah kertas berlaminating yang bertulisan 'orang pinter kagak nyebat di sekre'. Laki-laki itu menoleh sekilas lalu terkekeh.

"Ya kagak buat di sekre, tapi itu termasuk oleh-oleh khas Bali, Ray, lo tau gak?"

"Kayak di sini gak ada yang jual asbak aja, Yo?"

Laki-laki itu tertawa kecil, meletakan gitar di samping kakinya. "Beda, Ray. Ada gak Liat asbak bali?"

"Gak ada. Apa emang bedanya?"

Alih-alih menjawab, Gio terbahak, namun ketiga temannya hanya menatapnya bingung. "Coba tanyain si Regan ntar, liat asbak Bali kaga dia di sana."

"Gak jelas emang nih anak." sengit Aura menatap Gio.

"Ray penasaran gue." Raya mengerutkan keningnya. "Gak penting ga gue jawab." sahutnya ketus.

"Penting ini. Berapa kali lo berantem sama si Regan selama di Bali?" Tanya Gio dengan seringai jahil di wajahnya.

Ia menatap Sersha dan Aura yang ternyata kedua temannya itu juga menanti jawaban. Raya memutar bola matanya sebelum menjawab. "Gatau. Tiap hari kali."

"Serius? Gak ada gitu akurnya?" tanya Aura.

Raya menghela napas, tidak mungkin kan ia berkata jujur di sini. Akhirnya ia mengambil jarak sedikit mundur dari kedua temannya, menyandarkan bahunya pada dinding sekretariat.

"Gue sama temen gue, dia sama temennya. Jadi ya gak begitu berurusan juga." Benar ternyata, Sersha tidak mengetahui foto itu. Pasalnya gadis itu sejak bertemu dengannya hingga bahasan ini tidak menunjukkan kekecawaan padanya. Raya sedikit lega, namun juga rasa bersalah pada Sersha menyelimuti hatinya.

"Eyyy ada yang baru pulang honeymoon."

Raya sontak melirik tajam pada laki-laki yang baru saja memasuki sekretariat dengan tingkah tengilnya seperti biasa. Siapa lagi kalau bukan Ehsan. "Ngomong sekali lagi, LPJ departemen lo gue anggurin." sahutnya ketus.

"Eh kagak kagak, ampunn. Damai kita, Ray, damai." Ia mengambil duduk di samping Gio. "Si Regan mana?"

"Belum datang." Jawab Sersha. Raya mengangkat bahunya tidak peduli.

Jujur saja Raya masih kesal pada laki-laki itu setelah pembicaraan mereka tadi malam. Pagi ini pun Raya memilih pergi ke kampus terlebih dahulu sebelum Regan keluar dari kamarnya. Laki-laki itu sempat mengiriminya pesan menanyakan keberadaannya, namun pesan tersebut hanya Raya baca, bembiarkan centang biru terpampang di layar ponsel Regan.

"Ray gue liat laki lu noh di kantin, ga disamperin?"

Raya menggeleng. "Udah kemaren dia jemput gue di bandara." Sebenarnya saat ia datang tadi sempat bertemu Malik di parkiran, Raya hendak menghampirinya namun laki-laki itu terlebih dahulu memutus kontak mata lalu meninggalkan parkiran tanpa sepatah kata. Raya tertawa miris, sebesar itukah kesalahannya di mata Malik hingga laki-laki itu seolah tidak mengenalinya.

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang