Menunduk lesu dengan wajah muak, Naruse meremas kertas hingga kepalannya gemetar, sementara urat-urat di tangannya menonjol menahan kesal. Matanya memicing tajam menatap deretan soal yang seolah mengejeknya.
"Sial... siapa, sih, yang bikin ide buat kerjakan PR musim panas disini!? Liburan, ya, harusnya hanya berlibur saja!" gerutunya sambil mengacak rambut frustasi.
Di sampingnya, Ivudot merebahkan kepala di meja dengan suara gedebuk pelan dan menghela napas berat. Matanya melirik malas ke arah jendela kafe dimana sinar matahari musim panas bersinar cerah, seolah mengolok-olok mereka yang terkurung dengan setumpuk PR. "Kalau saja si Shoose tidak ikut, aku bisa nego lagi sama Eve-sensei," gumamnya dengan nada menyesal.
"Sudahlah." Nico menengahi walau senyum getirnya tak bisa disembunyikan. Tangannya sibuk membolak-balik halaman buku referensi yang tebalnya bisa dijadikan bantal. "Kalau kita bisa selesaikan separuhnya, kan, tinggal tugas penelitian saja."
Satu jam sebelumnya, Eve dengan senyum manis yang entah kenapa terlihat mencurigakan, mendatangi seluruh kamar dan membagi semua murid ke dalam 4 kelompok belajar. Keempat kelompok itu pun dengan segera memenuhi area kafetaria pagi ini dengan satu pengawas masing-masing, lebih tepatnya diseret paksa dengan ancaman nilai merah. Dengan batas waktu sampai tengah hari, semua kelompok wajib menyelesaikan separuh dari tugas sekolah jika ingin jalan-jalan. Seperti halnya anak-anak di meja lain yang sudah memasuki mode frustasi dan mumet kepala, meja yang diawasi oleh Urata ini tidak jauh berbeda.
Mengacak surai beberapa kali hingga rambutnya mencuat kesana-kemari, Sou merenggut sebal. Pensil di tangannya berputar-putar gelisah. "Aku yakin soal ini jebakan. Tapi kenapa kayak ga bisa dipecahkan, ya?" keluhnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung pensil.
Urata yang duduk santai di kursinya terkikik geli melihat penderitaan murid-muridnya. "Bukannya itu keahlianmu?" godanya dengan nada menyebalkan.
"Ah, kalau soalnya buatanmu, sih, pasti gampang jawabnya. Masalahnya yang buat soal ini orang gila," keluh Hans sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Kertas-kertas soal berserakan di hadapannya. "Sudahlah, aku gak sanggup."
"Tuh, lihat! Si anak teladan peringkat 1 ini saja gak sanggup, apalagi aku?!" ringis Naruse sambil menunjuk Hans dengan dramatis. "Jangan mentang-mentang kita disini selama 2 minggu, separuh minggunya buat belajar, dong!"
"Tutup mulutmu dan kerjakan, Naruse!" tegur Sou kesal. Tangannya refleks melempar penghapus yang tepat mengenai dahi Naruse, menghasilkan protes mengaduh yang cukup keras.
Menikmati penderitaan murid-murid di depannya, Urata terkikik senang sebelum kemudian matanya menangkap sosok Eve di pintu masuk kafe. Sebuah ide jahil terlintas di benaknya, membuat sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis. Urata memicing licik ke arah para murid yang masih sibuk mengeluh. "Dengar-dengar, katanya ada aplikasi gratis untuk menjawab soal, ya?"
Kepala Naruse langsung terangkat. Matanya berbinar penuh harap. "Aplikasi? Apa namanya?" tanyanya dengan semangat yang tiba-tiba membara.
Urata mengendikkan bahu dengan gerakan santai yang dibuat-buat. "Aku cuma kebetulan dengar. Aku mau ambil minum sebentar, kalian kerjakan dengan benar, ya!" Ia beranjak dari kursinya, berusaha menahan tawa melihat para murid yang langsung berkumpul.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfic⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
