34

177 8 12
                                        

Sepasang kaki yang terbalut celana hitam dan pantofel berlari kecil melangkahi tumpukan daun maple yang sebagiannya sudah menumpuk di sisi jalan. Napasnya yang sedikit terengah-engah menciptakan kepulan uap tebal, beberapa kali jadi menghalangi pandangannya. Begitu berhasil mencapai pertigaan, Eve berhenti untuk mengatur napasnya selagi mengecek jam tangannya. Ia sudah khawatir karena akan terlambat setelah sekian lama bangun kesiangan. Tapi untungnya dia berhasil sampai di sekolah tepat waktu. Setelah berhasil mengatur napasnya, Eve melanjutkan perjalanan dengan berjalan santai sampai ke gerbang sekolah.


Orang-orang sering merasa waktu begitu cepat berlalu, akan tetapi nyatanya merekalah yang terlampau fokus menjalani kehidupan. Waktu selalu berputar dengan konstan, tetapi mengejar waktu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kegiatan berulang-ulang yang dilakukan sebagai aktivitas sehari-hari menjadi sesuatu yang membuat manusia merasa waktu berjalan cepat. Hal ini jelas sangat terasa untuk Eve yang tidak lagi menjalani hari-harinya dengan monoton. Meski dia sudah lama menjadi guru, tetap saja masalah akan datang silih berganti. Entah dari internal atau eksternal, sebagai pendidik Eve merasa tak punya waktu santai barang sejenak.


Ada banyak hal yang terjadi setelah musim panas yang terasa panjang itu berakhir, meski semua kejadian itu bukanlah sesuatu yang harus diingat secara berkala. Bagaimanapun semua yang terjadi adalah bagian dari kehidupan sehari-harinya sebagai guru. Pergi ke sekolah, mengajar, membuka konseling, lalu pulang. Besoknya juga sama, namun terkadang dia akan menggantikan guru yang tidak masuk untuk mengajar, lalu pulang. Akan tetapi, ada beberapa perubahan juga mulai terjadi di sekitarnya. Seperti, beberapa guru di lantai 3 mulai mendekatinya dan bertukar sapa dengan sopan. Awalnya Eve tidak terlalu memikirkannya, namun, ia mengetahuinya di kemudian hari saat rapat guru yang mengangkat topik peningkatan nilai akhir kelas 3. Pada rapat itu, Kepala Sekolah sangat memuji kelas Eve yang mengalami perkembangan paling banyak dalam nilai. Berkat hal itu, mulai ada beberapa guru yang meminta saran padanya.


Meski kelas Eve mendapat pujian atas peningkatan nilai, sayangnya hal itu masih belum berlaku pada etika individu. Soraru dan Urata sering menghiburnya dengan mengatakan kenakalan mereka tidak seberapa dibanding dulu. Namun tetap saja keributan yang terjadi membuat Eve sakit kepala. Dari semua keributan itu, yang paling memusingkannya adalah saat ia mendapat laporan kalau sekelompok muridnya mendobrak ruangan OSIS beberapa waktu lalu. Eve sempat berpikir kalau mungkin ada kesalahpahaman di antara keduanya. Hanya saja, fakta di lapangan seolah menyiramnya dengan air es.


Pada saat itu, Eve sedang fokus mengoreksi PR seperti biasa di meja gurunya. Baru dia akan memutuskan untuk meregangkan punggungnya sejenak, terdengar suara jendela pecah yang mana membuat semua guru terlonjak kaget.


"GAWAT!! ADA PERKELAHIAN LAGI!!" seru guru yang membuka kasar pintu dari luar.


"Ah, apa yang kau ributkan? Tinggal lerai saja," tukas guru lain yang cukup dekat dari pintu.


"TAPI YANG BERULAH DARI KELAS 3-3!!"


"APA?!" pekik para guru seketika.


Eve yang mendengar kelasnya disebut langsung melompat dari kursinya dan bergegas keluar ruang guru. Sambil mengikuti langkah guru yang memandu ke lokasi keributan, Eve menyarungkan tangannya dengan sarung tangan wol dan memakan permen pelega tenggorokan. Di belakangnya pun ada dua guru lain yang merupakan bagian keamanan sekolah.

YOKU  ||  SouEveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang