Di dalam salah satu kamar siswa, Nico yang selesai berkemas mengenakan hoodie hitam bergaris oranyenya dan mematut diri di cermin. "Aah, waktu benar-benar tidak terasa sekali. Ini liburan musim panas yang terbaik."
"Benar banget." Ivudot menghela napas panjang, merebahkan diri dengan nyaman di lantai tatami. "Aku jadi merasa konyol karena sempat iri sama yang liburan di Hokkaido sebulan."
"Mereka pasti mati kebosanan." Naruse terkikik. "Aku saja sudah muak jalan-jalan terus."
"Kata orang yang di setiap sudut ambil selfie," sindir Hans yang langsung kena timpuk bantal dari Naruse.
Tepat semua orang sudah selesai berkemas, rombongan berkumpul untuk sarapan lebih dulu selagi pekerja di penginapan merapikan barang-barang mereka di depan pintu masuk. Tiba di ruang makan, beberapa anak yang masuk lebih dulu langsung terpukau oleh hidangan komplit yang telah disediakan untuk masing-masing dengan sangat cermat. Shoose dan Urata sudah datang lebih dulu untuk memastikan semua anak tertib menuju meja yang diatur melingkar mengitari ruangan. Tak lama berselang, guru yang lain pun tiba dan menuju barisan meja yang diletakkan di paling depan.
Di barisan sebelah kiri, Sou duduk di antara Kiyo dan Akame. Di banding teman kiri-kanannya yang sibuk foto makanan, dia justru log in game dan bermain solo hunting di bawah meja. Kiyo yang kebetulan melihat iseng menyikut Sou. "Kau ini gak mengerti aturan tak tertulis saat wisata, ya? Jangan-jangan kamu gak banyak ambil foto?"
"Udah, kok. Banyak banget malah." Sou membalas datar.
"Masa? Lihat, dong, fotonya! Kirim nanti di grup!"
"Ogah."
"Dih! Pelit!"
Sou mendengkus, mengacuhkan Kiyo yang bawel membujuknya. Begitu suara tepuk tangan terdengar, kericuhan di ruang makan itu hilang seketika. Tepat di depan sana, Shoose berdiri dan berdeham beberapa kali.
"Hari ini adalah hari terakhir wisata. Aku tidak akan bosan untuk mengingatkan kalian untuk selalu memastikan tidak ada barang kalian yang tertinggal. Juga, selalu jaga sikap kalian selama di perjalanan. Perhatikan sekitar kalian dan selalu utamakan keselamatan. Mengerti?" ujar Shoose.
"Ya~!"
"Bagus. Tujuan kita hari ini adalah Kebun Bunga Utopia. Aku tidak perlu menjelaskan pada kalian hal yang boleh dan tidak boleh kalian lakukan di sana, kan?"
"Sensei, mending cepetan duduk. Keburu habis, lho," sela Naruse tiba-tiba.
"Apa kamu tidak lihat aku sedang bicara?" Shoose menyipit tajam.
"Bukan! Itu, makananmu di belakang, di makan kucing! Nanti keburu habis!" tunjuk Naruse ke meja Shoose.
Tepat Shoose menoleh, seekor kucing calico berhasil membawa ikan utuh di mulutnya dan berhasil berkelit dari Urata yang berusaha menangkapnya. Jika bukan karena Naruse memberitahu, para guru mungkin takkan sadar sama sekali sampai kucing itu menghabiskan separuh jatah Shoose. Beberapa murid terlihat susah payah menahan tawa mereka.
" ... " membetulkan posisi kacamatanya, Shoose tampak berusaha menahan kekesalannya. " .. pokoknya, ingat selalu untuk berhati-hati."
"Baik~!" seru para murid kompak.
Sesi sarapan bersama pun berlangsung tanpa masalah, dengan sayup-sayup obrolan ringan dan tawa renyah dari para murid yang menantikan kunjungan terakhir mereka. Kiyo dan Akame di sampingnya pun juga sudah membahas rencana yang ingin mereka lakukan untuk menghabiskan sisa liburan musim panas yang tersisa. Namun, Sou yang lebih banyak diam seperti biasa itu memerhatikan Eve di mejanya, yang makan dengan lahap sambil sesekali menimpali obrolan di dekatnya. Melihat gurunya itu tertawa lepas seperti biasa sudah menjadi kesenangan tersendiri untuknya akhir-akhir ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
