"Sepertinya kamu jadi semakin mudah diajak bicara, ya, Eve-sensei."
Eve yang saat ini berdiri di hadapan Shoose untuk menyerahkan catatan laporan terkait siswa yang melanggar bulan ini sedikit membelalak kaget. Ingin menanyakan maksud atasannya, tetapi segan untuk bersuara saat raut wajah pria berkacamata itu tengah serius. Membetulkan posisi kacamatanya, Shoose melirik Eve sebelum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak menyadarinya?" tanya Shoose sedikit menekan.
Eve menundukkan kepala, mulai merasa gelisah. "Ah, maafkan saya."
Menghela napas pelan, Shoose menyandarkan punggungnya pada kursi dengan mata yang masih lekat membaca laporan. "Aku berbicara tentang interaksimu pada para murid."
Penjelasan singkat itu mengembalikan ketenangan Eve. Ia mengerjap beberapa kali sebelum kemudian kembali mengangkat wajahnya perlahan. "Saya senang jika terlihat seperti itu."
"Itu bukan hanya terlihat, asal kau tahu saja." Shoose meletakkan kertas laporannya dan mengambil pulpen. Tangannya yang tegas itu menggores beberapa kalimat di ujung bawah kertas laporan, kemudian mengambil kertas laporan yang baru dan membacanya lagi. "Perubahanmu sangat terasa."
"Perubahan ...?" Eve tercenung.
"Jika menghitung dengan bulan ini ... hm, kamu sudah 4 tahun menjadi guru disini. Namun di masa lalu, kamu tidak fleksibel seperti sekarang. Fleksibel yang kumaksud bukan dalam segi pekerjaan, tapi bagaimana kamu menjalani pekerjaanmu."
"Apa saya ... seburuk itu?"
"Jika menyesuaikan standar guru yang ideal, kamu tidak buruk. Mengajar, memberi tugas, dan bersikap tegas jika diperlukan, kamu melakukannya dengan baik. Hanya saja, aku yakin kamu pernah dengar kalau suasana kelas itu bergantung dari sikap gurunya."
Selesai membaca laporan, Shoose meletakkan pulpennya diatas meja lalu menatap lurus ke wajah Eve. "Tentu saja, seorang guru pun menyesuaikan sikapnya untuk menyamakan diri dengan para muridnya. Masalahnya, dulu kamu tidak memiliki kepercayaan diri untuk melawan balik karena takut melewati batas. Sekarang, kamu sudah menjadi guru yang akan melempar kapur ke kepala muridmu sendiri."
Eve tercengang, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Meski begitu, ia juga jadi menyadari kalau dirinya memang sudah menjadi lebih luwes dalam mengambil tindakan. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan dirinya tidak lagi memikirkan batasan saat harus angkat bicara. Ia juga tidak lagi menjaga sikap, malah menjadi lebih terbuka dan berani untuk menggurui. Merasakan emosinya campur aduk, Eve mengulum senyum tipis.
"Saya dapat katakan, kalau perubahan ini juga berkat anak-anak itu."
"Bukan karna Aikawa Sou?"
"Apa?" Eve membeku.
"Hm?" Shoose mengangkat satu alisnya. "Bukan?"
"Itu ... bagaimana bisa namanya disebut?"
Shoose menggelengkan kepala, tampak tak habis pikir. "Memangnya tidak bisa? Dia, kan, muridmu."
"A-ah, begitu, ya." Eve memalingkan matanya. Pelipisnya tampak basah oleh keringat.
"Termasuk bocah paling berani yang pernah kulihat." Beranjak dari kursinya, Shoose membawa binder dokumen dan menghampiri Eve. "Dia mungkin merasa yakin karena teman-temannya tidak sadar, tapi beberapa guru menyadari tindakannya."
Merasa was-was seketika, Eve menerima binder dokumen itu lalu mendekapnya erat-erat. "Anu ... apa dia melakukan pelanggaran di luar pengawasan saya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
