Berlari kencang di jalan setapak yang sepi dan hanya diterangi lampu jalan, ia meremat hp dalam genggaman dan memastikan napasnya teratur. Di belakangnya, suara derap langkah yang lebih mantap mengejar dengan kecepatan yang terasa seperti akan mampu mengejarnya cepat atau lambat. Akan tetapi, ia tetap tenang dan merasa tidak perlu menoleh ke belakang. Meski hanya ada dirinya sendiri saat ini, ia tidak merasa terdesak apalagi terpojok. Alasannya pun jelas, dia sangat mengenali tempat ini lebih daripada pengejar di belakangnya.
Melihat pertigaan jalan, matanya berkilat senang dan tanpa pikir panjang langsung berbelok ke kanan. Para pengejar bersetelan jas hitam lengkap itu juga segera mempercepat laju mereka. Tanpa menyadari bahwa orang yang mereka kejar berjongkok tepat di atas dinding jalan, para pengejar yang sudah sampai di ujung jalan itu memutuskan untuk berpencar. Menyisir rambut merah mudanya ke belakang, ia menghela napas gusar.
"Haduh, begini amat hidupku punya teman gila," keluh Naruse sembari menyapu pandang ke sekitar. "Sekarang tinggal kirim koordinat ke Ito, ya. Lagian dia sudah sering lewat sini kalau mau ke rumahku. Tapi masalahnya ..."
Naruse menatap risau pada pakaian Sou yang ia kenakan. Padahal sebelumnya dia disuruh pakai cardigan Eve, tapi di tengah jalan Sou malah menyuruhnya bertukar pakaian lagi sebelum kemudian berpencar. Entah apa yang dipikirkan anak gila itu, tapi mengingat Sou yang menekankan untuk pergi ke rumah Bunchan beberapa kali, Naruse merasa yakin kalau foto yang akan dicetak itu barang penting.
"Kalau diingat-ingat tadi, om-om baju menyala yang mengejar Sou itu ... kayak kenal, ya. Apa perasaanku saja?" gumam Naruse penasaran.
Melihat sekeliling untuk memastikan situasi sudah aman untuknya turun, Naruse mendarat di halaman rumah kosong di belakangnya dan berjalan jongkok dengan hati-hati. Teringat dengan teman-teman lain yang membawa Eve, Naruse mengulum senyum tenang.
Yah, mending urus diri sendiri dulu, pikir Naruse memutuskan dan melanjutkan perjalanan untuk mencari titik koordinat yang aman.
Sementara itu, di dalam kamar Nico yang berada di lantai 2, segelas teh hangat disuguhkan untuk Eve yang menunduk diam dengan sekujur tubuh gemetar. Melihat ini, Nico sangat terdorong untuk membantu menenangkannya dengan cara apapun. Aotaro dan yang lain juga tampaknya ingin mencoba melakukan sesuatu pada guru mereka itu. Hanya saja, mereka merasa kalau apa yang gurunya butuhkan saat ini bukan ucapan omong kosong seperti 'tenanglah' atau 'kamu sudah aman sekarang'.
"Sensei, minumlah dulu. Aku dan yang lain mau turun buat makan malam sekalian telpon Soraru-sensei. Kalau sensei mau makan, nanti turun saja, ya," ujar Nico lembut sembari menepuk ringan lengan Eve.
Tidak menunggu jawaban Eve, Nico berdiri seraya memberi sinyal lewat lirikan mata pada yang lain untuk keluar kamar. Menutup rapat pintu kamar, keempat pemuda itu berpandangan sejenak sebelum kemudian pergi dan menuruni tangga.
"Aku kaget banget waktu dihubungi Akame tadi. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Nico, sedikit mendesak.
"Aku juga penasaran, tahu!" Wolpis mengacak rambutnya kesal. "Tapi kalau melihat situasi tadi, sensei kayaknya lagi diincar orang?"
"Tiba-tiba aku kasian sama Naruse karena terpaksa jadi tumbal." Akame mengendikkan bahu sembari terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
