Sinar matahari musim panas Okinawa menembus celah-celah atap Pasar Makishi saat keramaian mulai terdengar. Eve berdiri di pintu masuk barat pasar, tangannya sedikit terangkat untuk melindungi mata dari cahaya yang memantul di permukaan jalanan basah. Dari tempatnya, mata birunya yang jernih memerhatikan para murid yang sudah menyebar ke seluruh pasar.
"Semoga mereka benar-benar mengerjakan tugas dan tidak hanya mencicipi makanan," gumam Eve sambil menyesap jus kaleng yang dibelinya di vending machine terdekat.
"Bagaimana anak-anakmu?" tanya Soraru, tanpa mengalihkan pandangan dari catatan di tangannya.
"Kelompok 1 terakhir kulihat di area sayuran, kelompok 3 dan 4 sudah naik ke lantai dua, dan kelompok 2..." Eve mengedarkan pandangan. Matanya menyipit mencoba mencari sosok-sosok familiar di antara keramaian yang bergerak cepat. "Ah, itu mereka di area seafood."
"Hee, pintar juga mereka." Soraru tersenyum kecil. "Ya sudah, aku mau keliling sama Urata, ya? sekalian beli bahan untuk barbekyu nanti."
"Baik." Eve mengangguk hormat dan menatap sejenak Soraru yang menjauh, sosoknya perlahan tenggelam dalam himpitan keramaian.
Eve kembali mengamati keramaian pasar. Lantai satu dipenuhi pedagang bahan makanan mentah—ikan segar dengan mata jernih dan sisik berkilauan, sayuran lokal dengan warna-warni mencolok, buah-buahan tropis yang menebarkan aroma manis menggoda, dan berbagai produk pertanian Okinawa yang disusun rapi dalam keranjang anyaman bambu. Lorong-lorong sempit dipenuhi pembeli yang tawar-menawar dengan pedagang, menciptakan simfoni yang khas—lengkingan tawa wanita tua saat berhasil mendapat harga murah, seruan lantang penjual yang mempromosikan dagangannya, gertakan halus pembeli saat menawar, semuanya berpadu dalam harmoni kehidupan pasar yang dinamis.
Sesekali terdengar tawa atau teriakan pedagang mempromosikan dagangannya, bercampur dengan aroma khas laut dan rempah yang memenuhi udara. Tanpa sadar, senyum tipis terbentuk di bibir Eve. Pasar tradisional ini menjadi tempat yang sempurna untuk mempelajari tentang kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.
"Semoga mereka bisa membuat karya ilmiah yang bagus dari pengalaman ini," pikir Eve sambil menatap kelompok 2 yang terlihat sibuk di kejauhan.
Sementara itu, di area seafood, tepatnya di salah satu kios yang menjual banyak ikan, seorang pedagang menjelaskan dengan rinci terkait jenis-jenis ikan yang dia jual kepada Naruse yang berjongkok tepat di depan meja jualannya.
"Ini namanya gurukun," jelas penjual ikan tua dengan logat Okinawa yang kental. Tangan-tangannya yang kasar dan berkerut menunjuk pada ikan merah yang tersusun rapi di atas hamparan es batu. "Ikan khas Okinawa, jadi maskot prefektur kami. Lihatlah warnanya yang cerah, itu tanda kesegaran."
Naruse mengangguk sopan sambil mencatat di buku kecil, jemarinya bergerak cepat menuliskan setiap detail penting. Ekspresinya serius, dengan kening sedikit berkerut menandakan konsentrasi penuh. Di sebelahnya, Bunchan sibuk memotret ikan berwarna merah cerah tersebut, matanya menyipit di balik viewfinder kamera, mencari sudut terbaik untuk menangkap kilau sisik yang memantulkan cahaya.
"Paman, sejak kapan anda berjualan di pasar ini?" tanya Naruse.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
