29

120 8 20
                                        

Hari demi hari berlalu hingga tak terasa sudah genap 10 hari sejak rombongan kelas 3-3 menghabiskan liburan musim panas dengan study tour mewah di Okinawa. Langit senja Okinawa yang berwarna jingga keemasan menyinari kompleks penginapan tempat rombongan menginap kali ini. Meski para murid masih sering menggerutu akibat sesi tugas yang harus dijalani, tetapi rekreasi dengan cepat menghapus kedongkolan mereka akan tugas-tugas laporan tak berkesudahan dari Eve yang semakin ketat mengawasi.


Para guru awalnya tidak mau ikut campur, membiarkan Eve menjalankan metode pengajarannya sendiri. Beberapa di antaranya bahkan tampak menikmati waktu luang mereka dengan bersantai di beranda penginapan, menyesap teh hijau dingin sambil memandangi keindahan alam. Akan tetapi Soraru yang khawatir karena Eve bersikap kaku sepanjang hari mencoba membujuknya di kamar penginapan yang mereka tempati bersama dengan beberapa guru lainnya.


"Hei, bagaimana kalau selain tugas laporan mereka dibiarkan saja setelah kita pulang? Toh liburan musim panas masih lama sekali," tawar Soraru dengan nada santai namun penuh perhatian. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan sisi ranjang tempatnya duduk, sementara matanya memperhatikan Eve yang sejak tadi hanya menatap layar laptop dengan tatapan kosong.


Eve menatap seniornya itu cukup lama, pandangannya menerawang seolah mempertimbangkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Soraru. Cahaya temaram lampu kamar menyoroti wajahnya yang tampak lelah, sebelum kemudian ia menaikkan kacamatanya dengan ujung jari. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Soraru-san. Tetapi mereka akhir-akhir ini cukup santai sampai aku ragu mereka akan ingat dengan tugas mereka."


"Yah, aku bukan ingin membicarakan hal itu, tapi tujuan rekreasi mereka ini untuk liburan, benar? Mereka sudah sangat berusaha." Soraru tersenyum hangat, nada suaranya melembut. "Tidak masalah memberi mereka keringanan."


" ... begitu, ya." Menatap layar laptopnya agak lama, Eve menyandarkan punggung ke dinding kamar. Jemarinya yang lentik bermain dengan ujung rambutnya. "Mungkin salahku yang terbawa suasana." Gumamnya pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri.


Soraru mengerjap beberapa kali, alis matanya terangkat penuh tanya. "Apa maksudmu?"


Eve tidak menjawab. Bibir tipisnya terkatup rapat sementara jemarinya kini mengetuk-ngetuk sisi laptop dengan gelisah. Tidak mungkin juga ia menjelaskan kalau dirinya sengaja bersikap lebih ketat pada murid-muridnya untuk membatasi pergerakan Sou, bukan? Kegelisahan yang sudah ia pendam sejak beberapa hari lalu kembali muncul, mengaduk-aduk perasaannya.


Sejak makan siang di Makishi, Eve sudah memantau Sou dari jauh dan mengetahui kalau anak itu sering diam-diam mencarinya lewat tatapan. Tatapan yang terasa begitu intens hingga membuat jantungnya berdebar tidak karuan setiap kali mata mereka tidak sengaja bertemu. Meski saat ketahuan anak itu malah sengaja tersenyum, tapi itu artinya pemuda itu sudah sering melakukan aksi pemantauan tersebut. Yang mana membuat Eve semakin yakin kalau Sou memang ... padanya ...


Blush!!


Pikiran itu membuat darah seolah berkumpul di pipinya, membuatnya terasa panas dan mungkin kini berwarna merah padam. Eve refleks memukul keras kedua pipinya dengan telapak tangannya, suara tepukan yang cukup keras memenuhi ruangan, membuat Soraru yang sedang melamun terhenyak kaget.


"E-eve?! Kamu kenapa?!" seru Soraru panik, hampir terjatuh dari tepi ranjang karena terkejut.


"Ti-tidak! Tidak apa-apa!" Eve menggelengkan kepalanya cepat, jantungnya berdegup kencang. "Daripada itu, aku mau lihat kemajuan tugas mereka dulu. Baru kuputuskan setelah melihatnya." Ia buru-buru bangkit, berusaha mengalihkan pembicaraan dan pikirannya sendiri.

YOKU  ||  SouEveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang