Langit yang sedikit mendung menaungi bus pariwisata yang melaju pelan melewati jalan raya Okinawa. Awan kelabu berarak lambat, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas aspal. Akan tetapi kontras dengan suasana di luar, para siswa justru antusias memandangi pemandangan kota dari balik jendela, sesekali berbisik dan menunjuk ke arah bangunan-bangunan menarik yang mereka lewati.
"Eh, lihat gedung itu!" bisik Yoshitsugu sambil menyikut teman sebangkunya. "Arsitekturnya mirip seperti di anime yang kita tonton minggu lalu."
"Ah, benar juga!" Yuki mengeluarkan ponselnya, berusaha mengambil foto meski bus terus bergerak. "Sayang kacanya gelap, jadi pantulan cahayanya mengganggu."
Eve mengamati murid-muridnya dari kursi paling depan sambil tersenyum kecil. Kepolosan dan antusiasme mereka selalu membuatnya terhibur. Di sampingnya, Shoose sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya, sesekali mengangkat kepala untuk memastikan kondisi para siswa.
"Mereka sepertinya sangat menikmati perjalanan ini," gumam Eve pada Shoose.
Shoose mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Ini pengalaman pertama mereka ke Okinawa. Wajar saja kalau mereka sangat bersemangat."
Di barisan tengah, Urata dan Soraru terlibat diskusi serius tentang rencana kegiatan berikutnya. "Menurutmu, apa sebaiknya kita mengubah jadwal makan siang?" tanya Urata sambil menunjukkan sesuatu di ponselnya.
"Hmm," Soraru mengernyitkan dahi. "Mungkin lebih baik kita tanya anak-anak dulu. Tapi sepertinya restoran yang kau sarankan itu lebih strategis."
Sementara itu, di bagian belakang bus, Mafu sudah berbaur dengan para murid. Gitar akustik yang dibawa Meychan tergeletak di pangkuan, siap dimainkan kapan saja. Para siswa mengerumuninya seperti lebah mengerubungi madu.
"Mainkan lagu lain, dong, kak!" seru Naruse, salah seorang murid yang duduk di dekat Mafu.
"Hmm, lagu apa ya yang cocok?" Mafu mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, berpura-pura berpikir keras. Matanya berbinar jahil. "Ada permintaan?"
"Yang galau, dong! Yang galau!" usul Wolpis bersemangat.
"Ah, malas! Yang epik dong!" protes Ivudot dari kursi seberang. "Kayak Sayonara End Roll!"
"Aish," Mafu tertawa kecil. Jemarinya mulai memetik senar, memainkan intro lagu yang familiar. Anak-anak yang berkumpul tampak sangat antusias, sampai kemudian Mafu menyanyikan lirik yang tidak biasa.
"Samia dostia~ ari aditia~ tori adito madora~!"
"UAGH!! INI MAH BUKAN LAGU LAGI!!" teriak Ivudot shock.
"Tadi katanya mau epik, ini epik, lho."
"TAPI YANG ITU BIKIN INGAT TRAUMA AJA! GANTI! GANTI!" seru Naruse lantang.
Mafu menggelengkan kepalanya, lalu kembali memetik gitarnya. "Estia morita~ nari amitia~ sori arito asora~!"
"UDAH, STOP!! TRAUMAKU KAMBUH!!" Wolpis menjambak rambutnya frustasi.
Eve menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu. Mafu selalu punya cara untuk membuat suasana lebih hidup, meski kadang caranya agak tidak biasa.
Setelah satu jam menjelajahi perkotaan Okinawa yang teduh, bus akhirnya berhenti di area parkir khusus. Rombongan turun dan berjalan kaki beberapa menit hingga tiba di gerbang depan Istana Shurijo. Dua pemandu wisata perempuan menyambut mereka dengan senyum ramah di dekat loket karcis.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
