Rencana awalnya, Eve ingin melampiaskan emosinya dengan makan camilan dan meneguk bir sampai habis. Namun, tenaganya habis di tengah jalan karena kelelahan mental akibat stress berlebihan. Meski sekarang dia sudah duduk di bangku taman untuk mengistirahatkan diri, tenaganya tidak kunjung terkumpul. Malah dia merasa tidak ingin beranjak dari bangku yang dihimpit mesin penjual minuman otomatis dan tong sampah. Senja yang memerah di batas langit seakan mengejek keadaannya saat ini—terdampar di antara benda-benda yang sama-sama tak bernyawa. Untuk sesaat, Eve berpikir kalau dia sudah terlanjur menjadi manusia menyedihkan, sampai-sampai tong sampah pun lebih menarik untuk dilihat daripada dirinya.
Niatku ke kota ini untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tapi aku malah berakhir menjadi guru yang menyukai muridnya sendiri. Bajingan macam apa aku ini? rutuk Eve entah ke berapa kalinya hari ini.
Merebahkan diri dengan plastik camilan sebagai bantal, Eve menatap jalanan kosong yang diterangi oleh beberapa lampu gantung. Cahaya keemasan yang lembut berpendar di sepanjang jalan setapak, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara keremangan. Dari sini, dia bisa melihat gemerlap lampu dari rumah-rumah di kawasan perumahan. Jendela-jendela yang bersinar hangat itu bagaikan kumpulan bintang kecil yang tersebar di kanvas malam. Betapa nyamannya membayangkan sebuah keluarga hangat yang menghabiskan waktu malam dengan menyantap makanan dan bercanda tawa—suara-suara penuh kebahagiaan yang berdesir di antara dinding, tawa anak-anak, dan kehangatan yang bukan hanya berasal dari penghangat ruangan.
Sampai SMP, Eve masih mengharapkan suasana seperti itu bisa hadir di keluarganya setidaknya sekali. Sampai akhirnya di satu titik, Eve menyerah dan mensugesti dirinya kalau kondisi keluarganya yang semrawut itu adalah kehidupan yang normal untuknya. Dinding-dinding rumahnya yang dingin, keheningan yang mencekam di meja makan, dan tatapan menyalahkan yang selalu bertukar di antara kedua orangtuanya—semua itu adalah "normal" baginya. Lagipula, tidak ada yang bisa diperbaiki meski Eve sudah tahu dimana letak masalahnya. Sebagai seorang anak, Eve sama sekali tidak punya kemampuan untuk meruntuhkan ego tinggi ibunya ataupun patriarki ayahnya. Penyebab hancurnya kekeluargaan Kurowa itu adalah sesuatu yang berasal dari dua orang yang seharusnya menjaga keutuhan kekeluargaan tersebut.
Setelah mengetahui semua itu, yang Eve lakukan hanya mencari kasih sayang dari orang lain sambil mempertahankan tabiat bodoh yang akan melakukan apapun saat diminta. Ia yang dibesarkan dengan ego tinggi mendapat julukan 'anak jenius', tetapi ironisnya dia menjadi budak anak-anak yang menjilatnya dengan iming-iming pertemanan. Meski tahu hidup seperti itu menyakitkan, Eve merasa nyaman terjebak disana karena dia setidaknya takkan merasa kesepian dan sendirian. Akan tetapi, kenyamanan semu itu dihancurkan oleh Mafu dengan sangat kejam.
Eve ingat dengan jelas saat Mafu secara terang-terangan menyuruhnya di depan umum untuk menjilat sepatunya, dan itu adalah pertemuan mereka saat SMP. Suara Mafu yang tajam dan dingin masih terngiang jelas di telinganya, tatapan menghinanya juga terpancar jelas, dan udara yang seakan membeku di sekitar mereka saat semua mata tertuju pada keduanya. Namun, apa yang membuat ruang kenyamanan semunya mulai retak adalah kata-kata Mafu setelah mendapat penolakan yang dilontarkannya sambil menangis.
"Baguslah, kamu masih punya harga diri!"
Kenangan itu membuat pipi Eve memanas karena rasa malu yang membekas. Bagaimanapun, dia tidak langsung berubah setelah kejadian itu. Malahan, Eve menganggap Mafu sebagai gangguan karena sikapnya yang tidak konsisten. Kadang kala Mafu akan duduk bersamanya, belajar bersama, bahkan menemaninya membeli permen coklat kesukaannya. Tapi keesokan harinya, dia akan menjadi iblis yang menghajar semua teman-temannya dengan tangan yang sama yang kemarin membantunya memilih permen. Hal itu membuat Eve tidak menganggap Mafu sebagai temannya, tapi juga tidak sebagai musuhnya. Dia yang biasanya berpikir kalau dirinya adalah lintah yang mendekati teman-temannya, mulai berpikir kalau Mafu adalah lintah lain yang ingin menganggu kenyamanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
