32

73 9 6
                                        

Panas menyengat dari jendela yang setengah terbuka merayap masuk ke dalam kamar Eve yang berantakan. Berbagai pakaian tergeletak di lantai kayu yang mengilap, jejak koper yang belum sepenuhnya dibongkar setelah kepulangan dari Okinawa. Sudah seminggu berlalu sejak liburan dua minggunya berakhir, dan Eve hanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Matanya mengikuti pola bayangan yang terbentuk dari cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendela kamarnya.


Tangan kanannya menggenggam sebuah gantungan kunci berbentuk kerang laut kecil, satu-satunya suvenir yang dia beli selama 2 minggu di sana. Permukaan kerangnya halus dan dingin, kontras dengan telapak tangannya yang lembab karena keringat. Ibu jarinya berulang kali mengusap permukaan kerang, seakan menyalurkan kegelisahan yang berkecamuk dalam benaknya. Pandangannya menerawang, mencerminkan pikirannya yang kosong entah kemana. Sampai kemudian  ingatan tentang taman mawar mendadak berkelebat dalam benaknya.


Cahaya senja yang mewarnai deretan bunga mawar dengan semburat keemasan. Saat tangan Sou merengkuh pinggangnya, juga hangat napas yang menyapa daun telinganya masih terasa begitu jelas. Sensasi jemari pemuda itu yang melingkar di pinggangnya seolah masih tertinggal di kulitnya. Aroma parfum maskulin yang samar-samar tercium dan suara lembut yang berbisik tepat di telinganya membekas begitu dalam di ingatannya. Eve masih ingat bagaimana jantungnya berdebar tidak karuan saat pemuda itu membisikkan kata-kata di telinganya.


"Sensei, apa kamu tahu bahasa bunga dari mawar merah?"


"AAAAARRGHHH!"


Eve berteriak frustrasi, berguling-guling di atas ranjangnya sambil menutup wajahnya yang memerah dengan bantal. Bantal putih itu ditekannya kuat-kuat ke wajah, seakan ingin memblokir semua ingatan yang membuat dadanya sesak dan wajahnya memanas. Gerakan liarnya membuatnya kehilangan keseimbangan dan—


BRUK!


"Aduh!"


Tubuhnya mendarat dengan sukses di lantai kamar, bokongnya terlebih dahulu menyentuh permukaan dingin itu. Rasa nyeri langsung menjalar dari tulang ekornya hingga ke punggung. Eve mengelus bagian yang nyeri sambil menghela napas panjang. Rambutnya yang kini berantakan dengan beberapa helai menutupi wajahnya.


"Sial," gumamnya pada diri sendiri, entah ditujukan pada kecerobahan fisiknya atau kecerobohan hatinya yang membiarkan diri terpesona pada sosok yang jelas-jelas terlarang baginya. "Dia muridmu, Eve. Muridmu."


Eve bangkit perlahan, merapikan rambut dengan jemarinya yang masih gemetar. " ... Aku butuh udara segar. Aku harus keluar rumah!!"


Eve meraih kemeja katun longgar berwarna putih dari tumpukan baju bersih di samping lemari dan memakainya di atas tank top hitam yang sudah ia kenakan sejak pagi. Ditambah celana jeans yang nyaman dan sepasang sneakers putih, Eve siap untuk berjalan-jalan sejenak, sekedar menjernihkan pikiran yang semakin kalut.


Meski panas, setidaknya udara luar jauh lebih baik dibandingkan pengap kamarnya yang dipenuhi bayang-bayang kenangan dan pertanyaan tanpa jawaban. Eve berjalan santai menuju minimarket terdekat, berencana membeli beberapa kaleng bir dan camilan untuk menemaninya melewati malam nanti. Jalanan kompleks perumahan tempat tinggalnya cukup sepi, dengan pepohonan maple di sepanjang pinggir jalan mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan, pertanda musim panas perlahan berganti dengan musim gugur.


Eve menghela napas panjang. Meskipun sudah berada di luar, bayangan Sou tetap tidak mau pergi dari pikirannya. Mau tak mau sekarang, Eve harus akui kalau Sou bukan lagi anak yang tidak bisa dibaca pikirannya, tapi orang yang harus dia waspadai isi pikirannya.


"Sensei! Eve-sensei!"


Suara familiar yang memanggilnya membuat Eve tersentak dari lamunannya. Jantungnya sempat berdegup kencang, takut bertemu dengan Sou secara tiba-tiba. Namun ketika berbalik, rasa lega menyeruak dalam hatinya. Naruse dan Aotaro berlari kecil ke arahnya, keduanya mengenakan pakaian santai khas musim panas, kaos oblong dan celana pendek.

YOKU  ||  SouEveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang