Eve menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya, hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya. Hampir karena gugup atau takut akibat tidak menyangka akan bertemu dengan masa lalu buruk begitu tiba-tiba seperti ini. Kubota masih sama seperti yang ia ingat, dengan senyum angkuh dan mata yang menyiratkan keyakinan bahwa dirinya selalu berada di atas orang lain. Rambut hitamnya yang tertata rapi, kemeja biru muda yang dipadukan dengan celana kain berwarna cokelat tua membuatnya tampak profesional namun tetap santai. Semua itu hanyalah kamuflase bagi monster yang Eve kenal baik.
Namun Eve memilih untuk tidak menunjukkan keterkejutan. Ia membiarkan ekspresinya tetap tenang, hampir dingin, seolah pertemuan ini bukanlah sesuatu yang berarti baginya. Dengan gerakan pelan, ia meletakkan sendok kayu di atas meja kayu yang sudah menua dimakan waktu. Ia menatap Kubota tanpa emosi, lalu tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya.
" ... Kubota-san," sapanya dengan nada datar. "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Kubota mengangkat alisnya sedikit, terlihat jelas bahwa ia mengharapkan reaksi berbeda.
"Eve," balasnya dengan nada yang dibuat-buat hangat. "Siapa sangka jagoan para profesor dulu ada di kampung seperti ini. Itulah sebabnya kamu menghilang 5 tahun lalu, hm?""
Eve menyesap teh hijaunya dengan gerakan santai, membiarkan cairan hangat itu menenangkan kegugupannya. Merasa akan untung dengan kesalahpahaman ini, Eve memilih untuk mengiyakannya. " ... begitulah."
Sekilas, ia bisa melihat ada sedikit perubahan dalam ekspresi pria itu. Kilasan ragu yang tak bertahan lama sebelum senyum mengejeknya kembali. Matanya berkilat dengan sesuatu yang tampak seperti penghinaan terselubung.
"Kedamaian? Ah, selalu idealis seperti biasa," Kubota tertawa kecil. "Kau tahu, kadang aku berpikir apakah kau masih sama seperti dulu. Selalu mencari sesuatu yang ... bagaimana mengatakannya? Terlalu murni untuk dunia nyata."
Dalam sekejap, Eve mengerti. Kubota menganggap bahwa dirinya masih sama seperti dulu. Seorang pria naif yang selalu berpikir baik tentang orang lain. Seseorang yang mudah dimanfaatkan, yang bahkan setelah dikhianati akan tetap membuka pintu bagi mereka yang menyakitinya. Mungkin di benaknya, ia berpikir Eve akan menyapanya dengan ragu-ragu, menawarkan bantuan atau setidaknya menunjukkan ketertarikan terhadap kemunculannya yang tiba-tiba.
Namun, Eve tak melakukan itu. Ia membiarkan pria itu berdiri di sana, udara di antara mereka terasa berat oleh kenangan pahit dan kata-kata yang tak terucap. "Itu bukan hal baru, kurasa."
Kubota memaksakan tawa ramah. "Itu tidak jelek, kok! Punya prinsip itu bagus saja."
Eve menatap lurus ke mata Kubota, dengan ketenangan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Bahkan orang buta pun juga tahu kalau sejak tadi dia melontarkan hinaan seperti sapaan selamat pagi. Tidak hanya itu, entah apa Eve harus takjub atau tercengang karena Kubota masih sangat persis setelah 5 tahun berlalu.
Wajah yang tenang namun mata yang mengerling begitu angkuh, jelas sekali dia menganggap orang di depannya ini hanyalah versi lama yang sedikit lebih dewasa. Di matanya itu menyiratkan meski Eve berusaha terlihat berbeda, pada akhirnya ia tetaplah orang yang sama, yang akan tersenyum dan membiarkan dirinya masuk ke kehidupan orang lain demi perhatian tak berarti.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOKU || SouEve
Fanfiction⭐Utaite Fanfiction ⭐ Satu-satunya harapan Eve setelah berdamai dengan dirinya di masa lalu adalah "perubahan". Hanya saja, sudah terlambat baginya untuk menyadari bahwa Sou adalah eksistensi yang dapat memporak-porandakan seluruh perubahan dalam hid...
