31

369 22 7
                                        

31


"Aisen, apakah kau baik-baik saja? Dengan kekuatan besar yang mengalir drastis ke tubuhmu secara tiba-tiba, itu akan membuat syok dan kesakitan," Arion memanggil putranya, tubuh Aisen kembali normal setelah mengejutkan elf di aula istana itu. Cahaya yang keluar dari tubuhnya perlahan menghilang, tersimpan kembali dalam tubuh remajanya.

"Aku baik-baik saja. Ini terlalu dahsyat, Ayah, apakah selama Ayah menjadi Raja pernah merasakan terhubung dengan leluhur kita secara cepat dan mengingat beragam kejadian dalam sekelebat pandangan?" Aisen tak bisa mengahapuskan senyum lebarnya, dia sudah ditahap takkan menjadi anak yang tenang lagi seperti biasa.

"Aku pernah merasakan itu, sekali saja saat namaku kembali diumumkan setelah seratus tahun kutukan," ujar Arion.

"Benar! Aku melihatnya juga hal itu! Ayah ini luar biasa, aku bisa mengingat semua dari awal... hingga ke masa kini, apa ini kekuatan cahaya?"

"Bukan," sahut Mabariel, "itu hanya secuil serpihan memori yang diwariskan dalam bentuk ingatan manusia. Mengenai Yang Mulia Pangeran bisa mendapatkan ingatan seluruh generasi Roshelle, hal itu anomali yang bahkan kami elf tidak ketahui."

"Izinkan saya mengkonfirmasi kembali, apakah ada efek samping yang Pangeran rasakan? Apakah rasanya seperti berputar atau Anda ingin beristirahat?" tanya Raja Mabariel kembali mengkhawatirkan Aisen. Satu ruaangan penuh diliputi mana sihir cahaya, tentu siapa yang tidak khawatir berapa banyak energi yang tubuh muda itu keluarkan.

Aisen menggeleng, "Tidak ada, malahan aku merasa ingin berlari, terbang, dan melakukan sesuatu scepatnya. Ah! Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting."

"Apapun yang Yang Mulia inginkan, kami para elf akan melayani Anda."
Aisen mengangkat buku cahaya yang ia pegang. "Buku ini, grimoire terang ini bisa bicara."

Seketika satu ruangan kembali heboh.

"Bagaimana bisa..? Saya yakin tidak ada jiwa yang terikat dalam benda itu. Buu itu murni berisikan kekuatan cahaya yang Roshelle miliki.." Mabariel tidak percaya.

"Aisen, coba tunjukkan padaku." Kini pedang perak berbicara. Arion menarik pedang itu keluar dari sarungnya. "Mendekatlah."

Aisen meraih pedang perak, seketika tubuhnya masuk ke dalam pedang perak, bertemu Leroi.

"Di sini." Leroi melambaikan tangannya. Dari kejauhan hamparan mawar, Aisen melihat Leroi berdiri di antara pilar-pilar menjulang tinggi menembus langit.

"Pinjamkan buku itu sebentar."
Aisen pun menyerahkan buku itu pada Leroi. Leroi membuka buku itu, membalikkan ke halaman tengah. "Roshelle tidak pernah mendengarkan aku setelah aku terkurung di dunia pedang ini, selebihnya itu karena aku sengaja mendiamkan dia. Kesal, marah, sebut saja apapun yang kurasakan saat itu. Namun, Roshelle tidak pernah berhenti bercerita."

"Dia terus mengajakku mengobrol, hingga akhir hayatnya." Leroi menggigit ibu jari tangan kanan hingga darah keluar. Ia melukiskan lingkaran besar di pemukaan yang tidak tertutupi bunga mawar.

"Kau tahu, Roshelle itu cerdas sekali. Bahkan jika dia mau, dia bisa mematahkan perjanjian yang merugikan dengan perjanjian lain. Ini adalah salah satu yang ia sebutkan."

Sebuah lingkaran besar dengan gambar Matahari, bintang, bulan, ditutup dengan gambar istana.

Leroi bediri di atasnya.

"Nah, sekarang ambil kembali buku ini, aku sudah tidak membutuhkannya." Leroi mengulurkan tangannya pada Aisen, pangeran itu menerima bukunya dengan bertanya-tanya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Lihat hasil ke-keras kepala-an orang bernama Roshelle. Susul aku dengan cara yang sama setelah ini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Next King - White || BlancTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang