6

2.7K 317 21
                                        

6

Hari kedua pesta perjamuan di istana. Semua akan penuh sukacita dan bersiap untuk malam yang bersinar.

Harusnya begitu.

Perjamuan akan tetap berjalan malam nanti. Namun, hingga pagi ini masih diadakan investigasi oleh para prajurit istana. Para bangsawan yang menghadiri pesta harus mengikuti perintah raja dan bersedia dalam penyelidikan. Semua karena sosok yang dicurigai raja dan ratu sebagai pelaku yang mengakibatkan Aisen pingsan sampai tak mengingat kejadian apapun sebelum ia pingsan belum juga ketemu.

Mereka yakin akan satu hal. Orang tersebut pengguna sihir yang handal. Sihirnya mampu mengelabui sihir pelindung istana yang sudah tertanam selama beratus-ratus tahun.

Aisen sendiri diawasi begitu ketat oleh sepuluh prajurit agar tak meninggalkan istana. Pemimpin dari pengawalan itu ialah Raiga dan Lavia.

Berulang kali Aisen memohon dan menjelaskan apapun alasannya untuk keluar dari kamar, para pengawal akan terus menolak.

"Maaf, Pangeran. Kami harus menjalankan perintah raja."

Itu kata Lavia.

"Kami tak boleh meninggalkan Anda lagi. Tak boleh ada kesalahan."

Sekarang Raiga ikut membuka mulut.

"Ini terakhir kali saya bisa mengawal pangeran."

Begitu Aisen mendengar itu, ia mengerjapkan mata beberapa kali. Dane Vict yang mengatakan itu.

"Saya diperintahkan untuk menjalankan tugas sebagai Duke tepat setelah pukul dua belas siang ini. Saya harus kembali mengambil wilayah kekuasaan Duke Vict, kekuasaan dari garis keturunan saya. Letaknya ada di barat laut ibukota Athium, berbatasan dengan kerajaan Frautzell. Tepatnya wilayah kota Vatia yang merupakan pusat administrasi kekuasaan saya," jelas Dane.

Pangeran berambut emas itu tersentak. "Jadi, kau tak bisa menjadi kesatria istana lagi? Secepat ini? Hakmu untuk melatihku berpedang juga dicabut?"

Dane tersenyum pendek. Ia memandangi pangeran muda itu dengan sorot mata yang sayu. Meskipun begitu, dia harus tetap dalam sikap siap layaknya seorang kesatria. "Yang Mulia Raja Arion memberi perintah bahwa tugas kesatria istana akan diteruskan pada Lavia Rayarna dan Raiga Rayarka. Mereka akan merangkap tugas administrasi istana, pengawal ratu dan pangeran, beserta kepala kesatria istana untuk sementara waktu."

Ia mengambil jeda sesaat. "Kemudian, dalam satu bulan berikutnya, Lavia dan Raiga juga harus menjalankan tugas sebagai dua keturunan istimewa keluarga Viscount Raya di perbatasan kerajaan Roshelle de Rosemarie dengan Ratzell dan Iridis. Mereka akan bekerja dengan Duke lain di wilayah tersebut. Nantinya seluruh keturunan bangsawan yang saat ini menjabat sebagai prajurit istana harus kembali menjalankan tugas mereka semestinya, mengikuti jejak kami."

Dane, Lavia, dan Raiga tersenyum kecil pada Aisen, memasang wajah ceria di balik suasana tegang yang mereka ciptakan dari pembicaraan itu. Lalu Dane kembali meneruskan, "Kami bisa melayani istana dari jauh, Yang Mulia Pangeran. Anda tak perlu khawatir. Ini sudah seharusnya dilakukan. Mengenai guru berlatih pedang, Pangeran akan mengetahuinya nanti."

Aisen mendecakkan lidah. Ia ingin berteriak jika bisa saat ini. Tentu ia sangat tahu bahwa cepat atau lambat ini akan terjadi, tapi ia tak menginginkannya di saat seperti sekarang. Ia menatap tajam Dane. "Ayah selalu bilang kau adalah tangan kanannya. Sekarang apa? Sungguh tak bisa dipercaya. Kejadian kemarin tidak sepenuhnya kesalahan kalian."

"Yang Mulia Raja membuat keputusan yang tepat," bantah Dane. "Dengan ini, kewajiban kami sebagai orang Roshelle de Rosemarie menjadi berarti. Lalu satu lagi, Pangeran. Saya, para keturunan bangsawan, dan seluruh pasukan Roshelle de Rosemarie adalah tangan kanan raja. Kami semua adalah perpanjangan tangannya. Raja Arion tak pernah mengistimewakan satu orang."

The Next King - White || BlancTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang